Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

Hukum Menantu Bersentuhan dengan Mertua, Apa Bisa Membatalkan Wudhu?

Penulis : Mutmainah J - Editor : Nurlayla Ratri

04 - May - 2024, 06:32

Placeholder
Ilustrasi mertua dan menantu. (Foto dari internet)

JATIMTIMES - Wudhu merupakan syarat utama sebelum melaksanakan salat, membaca Alquran dan ibadah lainnya. Banyak hal-hal yang harus diperhatikan umat Muslim dalam berwudhu agar ibadahnya sah, seperti syarat, rukun, hingga perkara yang membatalkannya.

Salah satu hal yang membatalkan wudhu adalah bersentuhan antara lelaki dengan wanita yang bukan mahram, baik itu dalam keadaan sengaja maupun tidak sengaja.

Baca Juga : Berapa Lama Masa Iddah yang Harus Dijalani Ria Ricis Usai Resmi Bercerai dari Teuku Ryan? 

Hal itu juga berlaku bagi suami istri, sebagian ulama berpendapat apabila keduanya bersentuhan secara sengaja maupun tidak, maka dapat membatalkan wudhu.

Lantas, jika kasusnya bersentuhan dengan ayah atau ibu mertua, apakah wudhu tetap batal? 

Persoalan seputar status wudhu apabila bersentuhan dengan ayah atau ibu mertua menjadi salah satu persoalan yang masih saja sering dibahas oleh sebagian umat muslim, khususnya bagi pasangan yang sudah menikah.

Hukum bersentuhan dengan mertua

Mengenai hal tersebut, menurut buku Islam Menjawab: Koleksi Tanya Jawab Islam susunan Tim Dakwah Pesantren (2015: 25), bersentuhan dengan mertua tidak membatalkan wudhu. Sebab, masih ada hubungan mahram (ikatan kekerabatan dekat) yang berasal dari jalur pernikahan. Hal ini dijelaskan dalam Surat An Nisa ayat 23.

{وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ} [النساء: 23]

“dan (diharamkan untukmu menikahi ) ibu dari istrimu. (QS. An Nisa ayat 23).

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa ibu mertua merupakan mahram bagi seorang laki-laki. Begitu pula bagi seorang perempuan, ayah dari suami (ayah mertua) adalah mahram baginya. Sehingga, diperbolehkan bersentuhan dan wudhunya tidak batal.

Pendapat UAS

Hal serupa juga disebutkan oleh Ustaz Abdul Somad dalam sebuah video yang dibagikan oleh channel YouTube Q&A Islam. 

"Kalau mertua dan menantu dalam hal berwudhu bersentuhan, apa batal wudhu?" kata Ustad Abdul Somad membacakan pertanyaan dari salah satu jamaahnya. 

"Tidak batal," Jawabannya. 

Ustaz Abdul Somad kemudian menjelaskan bahwa mertua, khususnya ibu mertua merupakan mahram muabbad bagi menantu lelakinya.

Adapun mahram muabaad ialah wanita yang haram dinikahi selama-lamanya, bagaimanapun situasi dan keadaannya.

"(Ibu) mertua itu mahram muabbad, andai bercerai kita dengan anaknya, dia itu tetap mak kita," jelasnya.

Dai yang akrab disapa UAS ini mengatakan hubungan mahram antara menantu laki-laki dengan ibu mertua itu terjalin sejak laki-laki melafadzkan ijab qabul untuk menikahi istri alias anak dari ibu mertuanya. Hubungan itu tidak akan terputus hingga hari akhir terjadi.

Bahkan, apabila istrinya meninggal dunia, maka ibu mertua tetaplah menjadi ibu bagi lelaki tersebut dan tetap tidak boleh dinikahi.

"Antum tak bisa menikah dengan dia (ibu mertua). Tak bisa kita menikah dengan ibu mertua, karena sudah berhubungan sama anaknya," Pungkasnya. 

Pendapat Buya Yahya

Baca Juga : Sosok Khalifah yang Kerap Menangis Mengingat Kematian 

Sependapat dengan UAS, Buya Yahya juga mengatakan bersentuhan menantu dengan mertua tidak membatalkan wudhu. 

Sebaliknya, dalam mazhab syafi'i, batal wudhu apabila suami dan istrinya bersentuhan.

Pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah ini menjelaskan, bahwa perbedaan hukum batal wudhu apabila bersentuhan ini bukanlah dilihat dari statusnya, melainkan dilihat dari hubungan mahramnya.

Buya Yahya mengatakan, istri bukanlah mahram bagi suaminya, meskipun ia sudah dinikahi secara resmi.

"Pembahasannya bukan membahas istrinya dulu, tapi mahram. Biarpun sudah menjadi istri tetap bukan mahram. Cuma karena (sudah menjadi) istri, maka dia boleh berduaan," kata Buya Yahya, dikutip dari video penjelasannya yang diunggah YouTube Al Bahjah TV. 

"Kalau mahram, maka Anda tidak bisa menikah dengan istri Anda," sambungnya.

Dari awal kata Buya Yahya, istri sebelum dinikahi sesuai dengan syariat Islam orang yang tidak memiliki hubungan mahram dengan suaminya.

Sesuai hukum fiqh, maka apabila keduanya bersentuhan dalam keadaan berwudhu, maka bisa batal wudhunya.

Ketentuan itu tetap akan berlaku sekalipun antara pria dan Wanita tersebut sudah menikah.

"Istri Anda semula adalah orang luar, yang dia bukan mahram dan dia batal wudhu dengan Anda. Sampai Anda menikah dengan dia, tetap batal wudhu, karena hukumnya adalah bukan mahram," terangnya. 

Sementara soal mengapa bersentuhan dengan ibu mertua tidak membatalkan wudhu, dikatakan Buya Yahya, hal itu karena ibu mertua merupakan mahram bagi si lelaki.

Adapun mahram ibu mertua dikarenakan mushaharah pernikahan, yakni hubungan kekeluargaan sebab adanya ikatan pernikahan.

"Mahram itu ada tiga. Satu, mahram nasab. Dua, mahram susuan. Ketiga mahram karena pernikahan," ujar Buya Yahya.

"Anda dengan istri batal wudhu, tapi dengan mertua tidak. Karena apa, Anda tidak boleh menikah dengan mertua Anda sampai kapanpun," imbuhnya.

Tak hanya ibu mertua, mahram karena musharah pernikahan ini juga berlaku pada silsilah keluarga istri lainnya, yaitu nenek istri (ibu dari ibu mertua) dan selanjutnya ke atas.

Menurut Buya Yahya, orang-orang tersebut tetap haram dinikahi oleh lelaki sekalipun ia dan istrinya sudah bercerai atau sang istri telah meninggal dunia.

"Mertua tetap mertua, mahram selamanya. Siapa lagi? ya ke atasnya, ibunya mertua namanya nenek istri, mahram. Sampai terus keatasnya (mahram)," pungkasnya. 


Topik

Agama wudhu mertua batal



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Nurlayla Ratri