JATIMTIMES - Seorang dokter Palestina di Gaza menceritakan momen mengerikan saat dirinya menjadi korban penculikan dan penyiksaan tentara Israel selama 45 hari.
Dilansir dari Reuters, Selasa (6/2/2024), Dokter Said Abdulrahman Maarouf mengaku selama nyaris dua bulan ditahan ia mengalami penyiksaan, kurang tidur, mata ditutup, dan terus dibelenggu oleh para tentara.
Baca Juga : Tumbuhkan Harapan Baru 2024 Yatim Mandiri Fokus Pemberdayaan dan Peningkatan
Maarouf mengaku sedang bekerja di rumah sakit Al Ahli Al-Arab di Gaza, saat fasilitas medis itu dikepung oleh pasukan Israel pada Desember lalu.
Lebih jauh Maarouf mengatakan dirinya diborgol, kakinya dibelenggu dan matanya ditutup selama hampir tujuh minggu di penjara. Dia juga mengaku dipaksa tidur di tempat yang tertutup kerikil tanpa kasur, bantal, dan diiringi musik keras yang menggelegar.
"Penyiksaan sangat parah di penjara Israel. Saya seorang dokter. Berat badan saya 87 kilogram. Saya kehilangan lebih dari 25 kilogram dalam 45 hari. Saya kehilangan fokus dan keseimbangan," kata Maarouf, dikutip Reuters, Selasa (5/2/2024).
"Bagaimana pun Anda menggambarkan penderitaan dan penghinaan di penjara, Anda tidak akan pernah tahu kenyataannya kecuali Anda menjalaninya," tambah Maarouf.
Ia pun yakin bahwa dia adalah satu dari lebih dari 100 tahanan yang diculik di tempat yang sama.
"Masing-masing dari kami menginginkan kematian, ingin mati karena beratnya penderitaan yang kami alami," kata dia.
Baca Juga : Ahmad Fuad Rahman Siap Melenggang ke Senayan, Masalah Kesehatan hingga Infrastruktur Jadi Fokus
"Ketika kami dibawa ke tank-tank itu berada, saya pikir kami akan berada di sana beberapa jam lalu dibebaskan. Saya pikir jika mereka membawa saya, mereka akan memperlakukan kami dengan baik karena kami adalah dokter dan tidak melakukan kejahatan apa pun," ungkapnya.
Maarouf juga menyebut dirinya harus tidur di atas kerikil. Hal itu membuatnya berpikir kesalahan apa yang ia pernah lakukan hingga mendapatkan perlakuan sekeji itu.
“Tidur di atas kerikil menjadi bagian terburuk bagi saya. Selama bekerja 23 tahun sebagai dokter, saya tidak pernah melakukan kejahatan kemanusiaan. Saya membawa pena, buku catatan, dan stetoskop, bahkan tidak sekalipun meninggalkan rumah sakit. Saya hanya merawat anak-anak,” katanya.
Hingga kini nyaris empat bulan agresi Israel ke Palestina, jumlah warga sipil yang tewas di Gaza terus bertambah. Lebih dari 27 ribu orang tewas akibat genosida Israel, di mana sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.