JATIMTIMES - Momentum Hari Santri Nasional (HSN) kesembilan tahun 2023, Bupati Malang HM. Sanusi meminta para santri, khususnya yang berada di Kabupaten Malang, kembali memberikan dedikasi tertingginya untuk kepentingan masyarakat banyak.
Orang nomor satu di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang ini mengatakan, santri sangat berperan aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pria asli Gondanglegi, Kabupaten Malang yang juga berlatar belakang sebagai santri ini menuturkan, dahulu para santri turut berjuang mengorbankan harta, darah dan nyawa untuk kemerdekaan NKRI. Tercatat para santri juga turut berperang mengangkat senjata melawan kolonialisme Belanda serta penjajahan oleh Jepang terhadap Indonesia.
Oleh karena itu, pada momentum HSN kesembilan tahun 2023 kali ini, tema yang diusung adalah "Jihad Santri Jayakan Negeri". Sebuah tema yang sangat kental nuansa santrinya, yakni berjihad untuk kejayaan negeri.
Sanusi mengungkapkan, di tengah perkembangan zaman yang serba modern ini, perjuangan para santri telah bergeser. Saat ini tidak merujuk pada pertempuan secara fisik, melainkan pertempuan intelektual atau ilmu pengetahuan yang harus dikuatkan, utamanya oleh para santri.
"Saat ini jihad tidak lagi merujuk pada pertempuran fisik, melainkan pertempuran intelektual," kata Sanusi.
Baca Juga : Ribuan Santri Bumi Shalawat Peringati HSN, Bagikan Ratusan Pohon hingga Pawai Kostum Daur Ulang
Menurut dia, santri memiliki nilai lebih dari pada masyarakat lainnya yang belum pernah mengenyam pendidikan di sebuah pondok pesantren. Pasalnya, selain diberikan bahan ajar terkait ilmu pengetahuan umum, para santri juga memperkuat ilmu spiritual yang hubungannya dengan Allah SWT.
Hal inilah yang menjadi nilai lebih bagi para santri dibandingkan dengan masyarakat lain yang belum pernah merasakan pendidikan di pondok pesantren. Maka dari itu, menurut Sanusi, ilmu pengetahuan menjadi senjata utama bagi para santri untuk berperang secara intelektual agar menekan angka kebodohan dan ketertinggalan utamanya di dunia pendidikan.
"Dalam hal ini ilmu pengetahuan menjadi senjata utama para santri untuk berdiri di garda terdepan dan melawan ketidakpahaman, kebodohan dan ketertinggalan," tandas Sanusi.
Sebagai informasi, sejarah Hari Santri Nasional berangkat dari Kabupaten Malang, ketika Joko Widodo (Jokowi) saat masih sebagai calon presiden pada Jumat 27 Juni 2014 bersilaturrahmi ke Pondok Pesantren Babussalam, Desa Banjarejo, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang.
Waktu itu, pengasuh Pondok Pesantren Babussalam KH Thoriq Bin Ziyad bersama para ulama dan santri mengusulkan 1 Muharam diperingati sebagai Hari Santri Nasional.
Akhirnya usulan itu diterima Jokowi, namun tanggal peringatannya ditetapkan setiap 22 Oktober karena merujuk pada Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy'ari untuk menggerakkan massa dalam mepertahankan kemerdekaan NKRI. Penetapan itu berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri yang ditandatangani Presiden RI Jokowi pada 15 Oktober 2015 lalu.