Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Hiburan, Seni dan Budaya

Mengulik Tradisi Labuhan Pantai Ngliyep, Warisan Leluhur Sejak Tahun 1913 untuk Usir Pagebluk Kematian

Penulis : Ashaq Lupito - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

18 - Sep - 2023, 19:54

Placeholder
Para warga dan tokoh Desa Kedungsalam saat menggelar agenda Labuhan atau Larung Sesaji Gunung Kombang Pantai Ngliyep. (Foto: Istimewa)

JATIMTIMES - Sekitar 110 tahun lalu, tepatnya pada tahun 1913 terjadi pagebluk atau wabah penyakit mengerikan di Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Pada saat itu, warga desa setempat yang menderita sakit meninggal dunia kurang dari 24 jam setelah terjangkit penyakit misterius.

Demi mengentaskan pagebluk kematian tersebut, kepala desa dan tokoh yang dituakan atau dikenal dengan istilah sesepuh desa setempat, akhirnya bersemedi untuk mencari wangsit alias petunjuk. Dalam semedinya, kedua tokoh tersebut kemudian mendapatkan wangsit untuk menggelar Labuhan atau Larung di Pantai Ngliyep.

Baca Juga : Lonjakan Kematian Akibat Overdosis di AS Meningkat

Sepulang dari bersemedi, beliau kemudian melaksanakan titah dari wangsit tersebut. Yakni mengadakan Larung Sesaji lengkap dengan kepala hewan seperti kambing hingga sapi, serta kulit, kaki dan sebagian darahnya. Sedangkan bagian tubuh dari hewan lainnya pada umumnya dimasak untuk hidangan kenduri.

Setelah ritual Larung Sesaji itu dilakukan, pagebluk berangsur-angsur menghilang. Sejak tahun 1913 itulah, tradisi warisan dari para leluhur tersebut tetap dilestarikan hingga saat ini.

"Tahun ini (2023) juga akan diadakan larung, acaranya pada 30 September hari Sabtu. Namanya Larung Sesaji Pantai Ngliyep. Tradisi ini sudah berusia 110 tahun, pertama kali dilakukan sejak tahun 1913," ungkap Tokoh Masyarakat Desa Kedungsalam, Iwan Yuyanto saat dikonfirmasi, Senin (18/9/2023).

Diceritakan Iwan, sejarah mulai terukir pada tahun 1913, tepatnya saat bulan Sapar dalam kalender Jawa Alif-Rebo-Wage atau yang dikenal dengan istilah Aboge. Di bulan itu, awal mula terjadinya pagebluk kematian.

"Di bulan Sapar itu ada pagebluk, selanjutnya karena ada pagebluk itu Kepala Desa (Kedungsalam) yang pertama yaitu Eyang Kiai Tholib dan Eyang Atun itu semedi di Gunung Kombang," imbuhnya.

Sekedar informasi, diterangkan Iwan, Gunung Kombang berlokasi di Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Tepatnya berada di kawasan seputaran Pantai Ngliyep.

"Setelah semedi beliau mendapatkan wangsit, disuruh melakukan Labuhan atau Larung Sesaji," tuturnya.

Setelah mendapat petunjuk tersebut, kepala desa serta tokoh yang dituakan di Desa Kedungsalam kemudian mempersiapkan agenda Larung Sesaji usai menjalani semedi. "Selanjutnya Larung Sesaji itu dilaksanakan pertama kali seingat saya pada 13 Februari 1913 atau tanggal 14 bulan Mulud 1331 Hijriah," jelasnya.

Dalam sejarahnya, hingga kini kebutuhan untuk Larung Sesaji disiapkan di rumah peninggalan Eyang Atun. Warga menyebutnya dengan istilah Rumah Lumbung. Lokasinya berada di Dukuh Krajan, Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang.

"Jadi masaknya larungan sesaji itu berada di lingkungan saya, bertempat di Dukuh Krajan, Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo," imbuhnya.

Semenjak diselenggarakan Larung Sesaji itulah, pagebluk kematian yang terjadi di Desa Kedungsalam berangsur-angsur menghilang. Meski begitu, warisan tradisi dari para leluhur tersebut sampai dengan saat ini masih terus dilestarikan oleh masyarakat setempat.

"Setelah melaksanakan Larung Sesaji itu lambat laun penyakit itu hilang, sehingga tetap dilaksanakan setiap tahun," jelasnya.

Sebelum pagebluk berakhir, diterangkan Iwan, kondisi warga desa saat itu bisa dikatakan berada di bawah kepanikan. Bagaimana tidak, jika terjangkit penyakit misterius, kurang dari 24 jam yang bersangkutan akan meninggal dunia meski sudah berupaya untuk diobati.

"Pagebluk itu kalau saya baca sejarahnya ada penyakit yang entah penyakitnya apa, tapi penyakit itu jika pagi itu sakit, sorenya meninggal. Kemudian jika sore itu sakit, paginya meninggal," tutur Iwan sembari menggali ingatannya dalam sejarah para leluhur di desanya.

Baca Juga : Ngalap Berkah Menang Pemilu 2024, Situs Setono Gedong Kediri Ramai Didatangi Para Caleg

Iwan menambahkan, kondisi kepanikan yang terjadi pada saat itu bisa dikatakan mirip seperti saat pandemi Covid-19. Namun hanya terjadi di lingkungan Desa Kedungsalam, atau bisa dikatakan sebagai endemi.

"Kalau sekarang mungkin seperti Covid-19, itukan pandemi, skala nasional. Tapi kalau dulu mungkin endemi saja, jadi secara lokal di desa sini (Kedungsalam), itu ada pagebluk," imbuhnya.

Mirisnya, penyakit misterius tersebut dialami oleh nyaris mayoritas penduduk desa. Ritme-nya selalu sama, pagi sakit sore meninggal atau sore sakit besok paginya meninggal. "Dalam sejarahnya, warganya itu banyak yang sakit seperti itu dulu," terangnya.

Semenjak terjadinya pagebluk kematian itulah, kepala desa dan sesepuh Desa Kedungsalam menjalani semedi. Iwan menyebut, tidak bisa memastikan berapa lama durasi semedi dilakukan. Sebab secara rinci tidak tertulis dalam catatan sejarah.

Namun dalam perhitungannya, pagebluk terjadi di sepanjang bulan Sapar. Sedangkan agenda Larung Sesaji dilakukan pada tanggal 14 Mulud. Artinya kemungkinan persiapan mulai dari semedi hingga Larung berlangsung selama 14 hari.

"Kalau kita melihat bulan kegiatannya, pagebluk di bulan Sapar sampai Mulud tanggal 14, itu saja sudah ada 14 hari untuk persiapannya. Tapi saya tidak mempunyai data seberapa lama beliau semedi, tapi yang jelas beliau semedi itu di Gunung Kombang," imbuhnya.

Pagebluk yang terjadi dalam kurun waktu sekitar satu bulan tersebut, membuat masyarakat dan para leluhur Desa Kedungsalam menyebutnya dengan istilah pagebluk saparan.

"Selama 1 bulan itu kan terus seperti itu (terjadi pagebluk), yaitu di bulan Sapar. Oleh karenanya dikenal dengan istilah pagebluk Saparan, karena terjadi di bulan Sapar," jelasnya.

Kendati pagebluk Saparan telah berakhir, namun masyarakat Desa Kedungsalam masih melestarikan ritual warisan leluhur tersebut. Acaranya masih berlangsung di waktu yang sama, yakni setiap tanggal 14 bulan Mulud.

"(Larung Sesaji diadakan) setiap Mulud tanggal 14, hitungannya itu menggunakan hitungan tahun Aboge," ujarnya.

Sebagai gambaran, tahun Aboge tersebut biasanya selisih beberapa hari dengan tanggal yang ditetapkan oleh pemerintah. Sehingga biasanya saat menentukan hari raya Idul Fitri, aliran Aboge melaksanakannya selisih beberapa hari dengan hari yang ditetapkan oleh pemerintah.

"Kalau kita melihat dari segi pemerintah, biasanya kan kita ada selisih satu hari, rata-rata kan seperti itu. Seperti hari raya itukan biasanya hitungan Aboge dan itu (Pemerintah) kan agak berbeda satu hari," tukasnya.


Topik

Hiburan, Seni dan Budaya Pantai Ngliyyep larung sesaji kabipaten malang



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Ashaq Lupito

Editor

Sri Kurnia Mahiruni