JATIMTIMES - Perayaan Hari Iduladha identik dengan penyembelihan hewan kurban. Usai melaksanakan salat iduladha, biasanya penyembelihan hewan kurban dilakukan hampir di setiap masjid atau musala yang ada tiap kampung hingga perkotaan.
Tak sedikit anak-anak yang ikut orang tua atau ayahnya yang ikut dalam proses penyembelihan kambing. Alasan orang tua mengajak anak kerap kali karena ingin mengajarkan nilai agama. Lantas bolehkah? Bagaimana jika anak malah trauma hingga dewasa?
Baca Juga : Inilah Sosok yang Paling Mulia di Sisi Allah SWT di Akhirat kelak Menurut Nabi Muhammad SAW
Melansir situs klikdokter, psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi., mengatakan jika sebenarnya tidak ada yang salah dengan mengajak anak untuk melihat hewan kurban dipotong. Namun, orang tua harus menyesuaikan kondisi atau kemampuan anak dalam melihat proses pemotongan hewan kurban.
“Pada anak di bawah umur, sebaiknya tidak diajak dulu melihat proses pemotongan hewan kurban. Ini dikarenakan pemotongan hewan bisa menimbulkan persepsi yang berbeda. Misalnya, anak jadi berpikir ‘Kok, jahat, ya, memotong hewan?’ atau ‘Apa menyakiti hewan itu diperbolehkan’,” ujar Ikhsan.
“Pemotongan hewan (saat Iduladha) itu juga, kan, eksplisit, ya. Jelas sekali lehernya dipotong, dikuliti, darahnya jadi kemana-mana. Ini bisa buat sebagian anak jadi takut. Kalau anaknya takut, orang tua jangan paksa untuk lihat, ini bisa berbahaya bagi kesehatan mentalnya,” tambah Ikhsan.
Namun beda situasi, jika sang anak memang ingin melihat dan tidak merasa terganggu dengan proses pemotongan. Hal ini tentu tidak jadi masalah bagi mereka.
Sebagai bentuk antisipasi, Ikhsan pun menyarankan agar anak yang diajak nonton penyembelihan hewan kurban adalah anak berusia 11 tahun ke atas. Sebab, pada usia ini, mental anak sudah mulai kuat dan bisa bedakan mana yang baik dan buruk.
“Namun balik lagi, kondisi setiap anak itu berbeda. Jadi, jangan paksa anak menonton proses pemotongan, jika anak tidak mau dan takut melihatnya,” jelas Ikhsan.
Lebih detil Ikhsan menjelaskan bahwa yang membuat si kecil menjerit dan ketakutan itu bisa membuat mereka jadi trauma. Sama seperti penyembelihan hewan kurban, kegiatan ini juga bisa menimbulkan takut yang berujung trauma pada sang anak.
Efek trauma itu beragam, misalnya anak jadi takut untuk memelihara hewan, takut melihat darah, atau bahkan jadi tidak mau makan daging sapi atau kambing karena teringat dengan proses pemotongan hewan kurban.
Jika hal ini sampai terjadi pada sang anak, maka ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua agar meminimalisir dampak trauma itu.
Menurut Ikhsan, orang tua diharapkan bisa mengerti kondisi traumatik yang dialami oleh anak. Dengan memarahi dan membentak, ini bukan cara yang baik untuk mengajarkan mereka mengendalikan rasa takutnya.
Baca Juga : Mengharukan, Momen Jaelani Berpisah dengan Golden, Sapi Milik Irfan Hakim yang Dikurbankan
"Orang tua diharapkan tidak menghakimi ketakutan sang anak. Meski niat Anda baik, yakni untuk mengajarkan nilai agama, pilihlah cara lain yang buat anak jadi tidak ketakutan," ungkap Ikhsan.
"Salah satu cara lain agar anak tak ketakutan dengan menonton kartun bertema Iduladha. Umumnya gambar seperti darah atau adegan penyembelihan pada kartun dibuat menjadi animasi menarik untuk anak-anak," imbuhnya.
Selain itu, kata Ikhsan, orang tua juga bisa memberikan penjelasan kepada anak bahwa pemotongan kurban ini merupakan salah satu ajaran yang dianut oleh agama Islam, terutama saat merayakan Iduladha.
Beri tahu bahwa proses ini adalah mulia dan bisa memberikan manfaat bagi yang melakukannya.
Dengan begitu, diharapkan anak bisa mengerti dan memahami makna ajaran agama tersebut.
"Jangan paksa anak untuk melihat pemotongan kurban untuk kedua kalinya. Jika sekiranya anak sudah lupa dengan kejadian tahun sebelumnya. Bila anak masih ingat dan menangis ketika diajak pergi nonton potong hewan kurban, jangan paksa mereka," jelas Ikhsan.
Jika trauma anak tak bisa tertangani, maka minta bantuan tenaga profesional. Seperti psikolog untuk memberikan treatment traumatic pada anak agar dampaknya tidak berkepanjangan.
"Lakukan kegiatan menyenangkan yang bisa mengalihkan rasa trauma anak. Anda bisa mengajak anak langsung bermain mainan atau makan makanan kesukaannya," pungkas Ikhsan.