free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Serba Serbi

Gedung MCC Telah Rampung, Ini Filosofi yang Terkandung pada Bangunan Senilai Rp 98 Miliar

Penulis : Tubagus Achmad - Editor : A Yahya

21 - Aug - 2022, 22:56

Loading Placeholder
Gedung Malang Creative Center (MCC) yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Senin (1/8/2022). (Foto: Tubagus Achmad/JatimTIMES) 

JATIMTIMES - Gedung Malang Creative Center (MCC) Kota Malang telah rampung dibangun menggunakan anggaran total sebesar Rp 98 miliar yang diambilkan dari APBD Tahun Anggaran (TA) 2021 senilai Rp 25 miliar dan APBD TA 2022 senilai Rp 73 miliar. 

Pihak kontraktor yakni PT Tiara Multi Teknik (TMT) telah selesai merampungkan pembangunan Gedung MCC sebelum masa kontrak pada 20 Juli 2022 lalu berakhir. Di mana telah berdiri megah bangunan Gedung MCC setinggi delapan lantai dengan berbagai ruang penunjang untuk melakukan kegiatan kreatif. 

Baca Juga : Crypto Winter, Penambang Bitcoin Dunia Sampai Rugi Rp 14,8 Triliun

Tapi, banyak masyarakat yang penasaran dengan filosofi bangunan Gedung MCC Kota Malang tersebut. Pasalnya, banyak yang mengira bahwa bangunan Gedung MCC seperti condong ke nuansa adat minang. 

Namun, arsitek konsep pra rancangan pembangunan Gedung MCC Kota Malang yakni Haris Wibisono menjelaskan awal mula rencana pembangunan dan filosofi yang terkandung pada Gedung MCC Kota Malang. 

Pria yang akrab disapa Nino ini menuturkan, dirinya terlibat dalam penyusunan konsep pra rancangan bangunan Gedung MCC Kota Malang yakni sebelum adanya Detailed Engineering Design (DED) dari Pemerintah Kota (Pemkot) Malang.  

Menurutnya, ide awal rancangan bangunan Gedung MCC merupakan usulan dari Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kota Malang pada tahun 2016 ke Pemkot Malang. 

"Jadi itu memang merupakan ide atau usulan dari komunitas kreatif, bukan ide dari pemerintah," ungkap Nino kepada JatimTIMES.com. 

Kemudian, dari pihak KEK Kota Malang mengusulkan sebuah desain yang nantinya digunakan sebagai wadah bagi para pelaku ekonomi kreatif Kota Malang. Namun, desain awal tersebut tidak disetujui oleh Pemkot Malang karena lahan masih belum tersedia. Lalu pihak-pihak yang tergabung dalam KEK Kota Malang kembali membuat desain yang kemudian disetujui oleh Pemkot Malang. 

"Ternyata ada kesempatan di Ex PDAM Blimbing, akhirnya kita desain lagi dan kita usulkan lagi ke pemerintah ternyata diterima untuk menjadi proyek. Pada saat menjadi proyek saya sudah tidak terlibat dalam hal-hal teknisnya," ujar Nino. 

Mantan Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kota Malang periode 2009-2016 ini menuturkan, dalam membuat konsep desain pra rancangan bangunan secara visual tiga dimensi dibutuhkan waktu sekitar satu bulan.  

Nino.

Kemudian, dalam proses eksplorasi yang panjang hingga menghasilkan konsep desain bangunan, Nino beserta rekan-rekan di KEK Kota Malang menggali karakteristik lokalitas Kota Malang. 

Di mana setelah melalui proses tersebut, terdapat tiga karakteristik lokalitas Kota Malang yang berhasil di gali. Yakni budaya perilaku, budaya sejarah dan kesenian. 

"Kalau dilihat budaya perilaku itu cangkrukan dan kalau dari budaya sejarah bangunan di Malang ini ada arsitektur kayu dan ada arsitektur batu," ujar Nino yang merupakan Alumnus Teknik Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. 

Untuk arsitektur kayu ini yang belum terlalu tua dan contoh bangunannya seperti Pendopo Agung Kabupaten Malang, Masjid Jami' Kota Malang dan beberapa bangunan kuno lainnya. Sedangkan untuk arsitektur batu lebih tua dari pada arsitektur kayu. Contoh dari arsitektur batu yakni seperti candi. 

Selanjutnya, dari karakteristik kesenian, terdapat seni tari topeng malangan yang merupakan tari khas dari Malang. Ketiga hal ini dirangkum menjadi satu dalam sebuah bangunan Gedung MCC Kota Malang. 

"Sosok bentuk bangunannya secara tiga dimensional itu kotak, tapi kotak yang tidak diam. Jadi kayak orang bangun tidur, itu kan menggeliat," tutur Nino. 

Baca Juga : Awal Mula Sihir di Dunia, Terjadi pada Masa Nabi Ini

"Karena ini untuk mewadahi industri kreatif dan untuk mengembangkan ekonomi kreatif dihadirkan sebuah bentuk kotak yang tidak diam, dia harus dinamis maka kotaknya itu menggeliat," sambung Nino yang sudah menggeluti dunia arsitektur sejak tahun 2002. 

Kemudian dari sisi bentuk agar lebih terasa menggeliat, dirinya mengambil mahkota atau ira-irahan pada topeng malangan untuk di transformasikan menyelimuti ke dalam bentuk bangunan Gedung MCC Kota Malang. 

Lalu untuk bangunan depan tampak seperti sebuah gapura, bentuk tersebut terinspirasi dari bangunan gapura Candi Badut yang terletak di Kota Malang. Disinggung mengapa mengambil Candi Badut sebagai inspirasi tata letak bangunan depan MCC, hal itu hanya sebagai pemantik saja. 

"Candi Badut ini kan yang tertua di Jawa Timur 760 masehi. Itu menjadi pemicu sebagai tonggak inspirasi saja. Bukan kita hanya milih candi badut, nggak. Tapi memang yang tertua di Jawa Timur untuk insipirasi," tutur pria asli Malang kelahiran 13 Januari 1979 ini. 

Lebih lanjut, Nino pun mengatakan, bahwa bangunan Gedung MCC Kota Malang tidak bentukan Candi Badut secara murni. Karena memang dari awal tidak diambil secara imitasi atau tiruan bentukan dari Candi Badut. 

"Tetapi kita jadikan metafora saja sebagai inspirasi akhirnya bentuknya menjadi beda. Dijadikan insipirasi menjadi desain yang modern dan kontemporer," kata Nino. 

Kemudian, untuk sudut kanan-kiri serta tengah tampak seperti bangunan yang lancip, Nino mengatakan bahwa itu merupakan transformasi dari bentukan mahkota atau irah-irahan dari Topeng Malangan. 

"Jadi kalau dari konsep kepala badan kaki itu kepalanya nampak ada ujung mahkota atas terus badannya ada yang berwarna cokelat dan putih termasuk ada pintu gapura itu terus kakinya ada rumput itu," terang Nino. 

Sementara itu, menurutnya bangunan Gedung MCC Kota Malang saat ini yang sudah jadi sedikit berbeda dengan konsep awal, utamanya pada titik-titik detailnya. Di antaranya, untuk rumput hijau di depan bagian kaki Gedung MCC Kota Malang di konsep awal harusnya menggunakan rumput asli, tetapi di bangunan yang sudah jadi menggunakan rumput sintetis. 

"Rumput alami jadi sintetis, pintu candi yang warna putih itu mestinya warna batu candi sekarang kan warnanya beda. Terus bentuk komposisi cokelat tidak statis kotak-kotak seperti itu, sebelumnya random acak, seperti batu di Candi Badut bagian interior itu keluar masuk nggak rata," ujar Nino. 

Kemudian, menurutnya juga terdapat perbedaan pada pola tata ruang urutan kegiatan di dalam Gedung MCC Kota Malang. Di mana hal tersebut juga akan berpengaruh pada penggunaan bangunan, salah satunya di lantai dua. 

"Di lantai dua itu kan harus bisa dibuat pameran. Itu nanti ada sebagian pilar atau kolom struktur terlalu di tengah, kurang di tepi. Sehingga mengurangi ruang pameran di lantai dua," pungkas Nino. 


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Tubagus Achmad

Editor

A Yahya

Serba Serbi

Artikel terkait di Serba Serbi

--- Iklan Sponsor ---