JATIMTIMES - Banjir rob kembali melanda wilayah pesisir pantai utara (Pantura). Mulai dari wilayah Mengare Kecamatan Bungah hingga Desa Banyuwangi, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik.
Air laut mulai pasang dan menggenangi jalan perkampungan di Desa Banyuwangi sekitar pukul 09.00 WIB. Warga menuding banjir rob yang kian membesar ini dampak reklamasi Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE).
Baca Juga : Sambangi ODGJ di Lawang, Rumah Sedekah NU Konsisten Berbagi Berkah
Agus warga RT 13 RW 4 mengatakan, banjir rob memang terjadi setiap tahunnya. Lima tahun terakhir hanya memenuhi selokan dan muara kali. Tidak sampai menggenangi jalan perkampungan.
"Dulu, kalau banjir rob, genangan air hanya 5-10 cm. Kalau sekarang genangan sekitar 15-20 cm. Ini tak lepas dari reklamasi JIIPE juga," katanya, Rabu (15/6/2022).
Pria yang 32 tahun itu menjelaskan, banjir rob yang melanda Desa Banyuwangi biasanya surut dalam waktu sekitar 4 jam. Namun, jika ditambah dengan hujan, genangan air akan lebih lama.
"Yang jelas sangat berdampak. Aktifitas warga terganggu," imbuhnya.
Senada juga disampaikan, Sofiyanah warga RT 12 RW 4 menambahkan, banjir rob terjadi sejak Senin (13/6) kemarin. Warga sudah banyak yang melakukan antisipasi dengan meninggikan bangunan rumah.
"Genangan air setiap tahun meningkat, tahun 2021 genangan air cuma 5 cm. Sekarang ketinggian genangannya mencapai 20 cm," imbuh perempuan berusia 33 tahun tersebut.
Disisi lain, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur ikut berkomentar terkait banjir rob dan reklamasi JIIPE di Kecamatan Manyar tersebut.
Menurutnya, Banjir rob ini tidak hanya terjadi karena faktor iklim. Tapi, juga dipengaruhi oleh faktor ruang dan faktor lain. Seperti pengerukan laut atau alih fungsi kawasan pesisir dan reklamasi.
Baca Juga : Sepak Terjang Hadi Tjahjanto, Mantan Panglima TNI Bakal Calon Menteri ATR/BPN
"Sehingga aktivitas tesebut ikut memperparah bencana, karena mempertinggi resiko," kata Direktur Eksekutif Walhi Jatim Wahyu Eka Styawan, Rabu (15/6/2022).
Wahyu mengatakan, reklamasi pada wilayah pesisir tentu bukan tanpa resiko. Dalam beberapa penelitian memang menunjukkan ada kecenderungan peningkatan rata-rata permukaan air laut.
Adanya reklamasi dapat meningkatkan resiko bencana seperti banjir rob. Apalagi, banjir rob yang terjadi saat ini lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya. "Artinya reklamasi juga ikut memperparah banjir tersebut," imbuhnya.
Wahyu menjelaskan dampak reklamasi dapat memperburuk banjir rob semakin parah dan tinggi. Karena, perpaduan bencana iklim dan perubahan ruang. Bencana tersebut bisa menenggelamkan wilayah.
"Karena reklamasi pada beberapa studi dan contoh kasus di Jakarta ternyata meningkatkan permukaan air laut. Wilayah pesisir yang lebih rendah akan terdampak dan perlahan mengalami abrasi," pungkasnya.