JATIMTIMES - Mencapai prestasi yang gemilang dalam prosesnya tidak lepas dari permasalahan. Termasuk pro dan kontra yang harus diselesaikan.
Hal itu juga terjadi di SD Negeri Ditotrunan 01 Lumajang. Wali murid di sekolah ini mengeluh karena anaknya sering dibebani kegiatan ekstrakulikuler. Salah satu contohnya soal latihan drumband.
“Boleh berambisi menjadi juara. Tetapi jangan korbankan kesehatan anak-anak," ujar salah seorang wali murid.
Dia menjelaskan bahwa anggota drumband sekolahan ini diwajibkan latihan tiga kali sehari hingga malam. Tidak perduli cuaca hujan. “Padahal latihan drumband ini sudah berlangsung selama satu bulan dan akan berakhir hingga Desember depan,” timpal wali murid lainnya.
Menanggapi hal ini, Kepala Sekolah SDN Ditotrunan 01 Lumajang Sukaryo mengatakan bahwa latihan itu sudah biasa dan sudah dikomunikasikan dengan orang tua wali murid. Selanjutnya Sukaryo mempersilakan JatimTIMES langsung bertanya kepada panitia kegiatan ekstrakulikuler.
Saat dikonfirmasi terkait masalah tersebut, Jofan yang mengaku sebagai wakil ketua panitia kegiatan ekstrakurikuler tidak mau memberi jawaban. Dia justru balik mempertanyakan motif informasi tersebut.
Jofan meminta data orang yang melaporkan hal itu kepada wartawan. “Saya akan jawab jika sudah tahu dari mana informasi tersebut karena ini adalah kompetisi,” ujarnya.
Bahkan meski sudah mendapat terusan teks WA dari beberapa sumber berita, Jofan tetap kekeh ingin tahu siapa yang mengirim WA tersebut.
Baca Juga : BPJS Ketenagakerjaan Gelar Lomba Tulis Berhadiah Total 83,5 Juta Rupiah
Terkait dengan keluhan wali murid ini, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang Agus Salim mengatakan bahwa pengaduan masyarakat sudah ada jalurnya sendiri. Termasuk jika wali murid keberatan terhadap program latihan drumband tersebut.
“Tentu semua kegiatan sekolah harus sudah dibicarakan dengan orang tua murid dan komite. Kalau soal teknis waktu pelaksanaan, jumlah hari kegiatan dan lain-lain, itu bisa dibicarakan dengan sekolah,” jelas Agus Salim.
Agus Salim mengakui bahwa lembaga sekolah dalam memajukan sekolahannya memang memiliki kebijakan sendiri. Namun dia mengingatkan harus tetap pada relnya. “Sekolah punya otoritas kebijakan sendiri yang tidak semuanya dapat kami intervensi,” pungkasnya.