JATIMTIMES - Hujan lebat disertai angin melanda Kabupaten Gresik beberapa hari terakhir. Tak ayal, banjir pun terjadi di wilayah Gresik selatan. Setidaknya ada tiga kecamatan yang terdampak.
Hal itu menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik bersama pejabat Forkopimda. Belum lagi ancaman La Nina yang berpotensi pada bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor dan puting beliung.
Baca Juga : Penanggulangan Bencana Banjir Bandang, 2.300 Tanaman Tegakan Bakal Ditanam di Lahan Perhutani
Berbagai upaya terus dilakukan, yang terbaru melakukan koordinasi dengan Koordinator Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisikan (BMKG) Jawa Timur, Taufiq Hermawan.
Taufiq menyebut, La Nina bukan badai, tapi fenomena cuaca global yang menyebabkan curah hujan lebih tinggi. Termasuk di wilayah Kabupaten Gresik.
"Karena La Nina ini, curah hujan meningkat 2 hingga 70%, ini yang perlu diwaspadai. Karena banjir ini utamanya terjadi karena tingginya curah hujan," ujar Taufiq, Selasa (16/11/2021).
Sementara Kepala Stasiun Klimatologi Malang, Anung Suprayitno menambahkan, La Nina paling tinggi pada September hingga November.
"Tapi biasanya pada bulan Desember sampai Februari merupakan puncak musim hujan," imbuhnya.
Sedangkan Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menyampaikan, curah hujan dalam beberapa terakhir memang cukup tinggi. Hal ini membuat Kali Lamong meluap dan menyebabkan banjir.
"Tapi upaya kita sebagai pemerintah daerah terus berikhtiar untuk terus melakukan mitigasi bencana," kata Gus Yani.
Baca Juga : Kulit Ayam Ternyata Bisa Mengatasi Kolestrol, Begini Cara Konsumsinya
Gus Yani menyebut, pemerintah tidak hanya fokus pada pencegahan, tetapi yang terpenting penanganan banjir. Namun, belum diketahui berapa lama durasi banjir tersebut.
"Kemudian, sarana penampungan sementara yang layak bagi korban banjir juga harus diperhatikan," imbuh Gus Yani.
Bupati milenial itu menyebut, upaya percepatan penanggulangan banjir Kali Lamong terus dilakukan. Kemudian, komunikasi dengan BBWS terkait izin kewenangan normalisasi.
"Alhamdulillah normalisasi sudah berjalan, di Cerme sudah berjalan. Di Balongpanggang dan Benjeng jangan sampai berminggu-minggu tapi tidak surut. Kalau memang bisa dalam 1x24 jam bisa surut, itu yang akan kita lakukan," pungkasnya.
Hingga hari ini, total 19 alat berat dari berbagai pihak dikerahkan untuk menormalisasi Kali Lamong. Bupati Yani juga menginstruksikan Dinas PUPR untuk menambah alat berat, jika masih kurang.