Asidosis Laktat, Istilah yang Dikaitkan dengan Kematian Pasien Covid-19 | Jatim TIMES

Asidosis Laktat, Istilah yang Dikaitkan dengan Kematian Pasien Covid-19

Jul 21, 2021 10:22
Asidosis Laktat (Foto: Isotekindo)
Asidosis Laktat (Foto: Isotekindo)

INDONESIATIMES - Istilah asidosis laktat belakangan ini telah ramai diperbincangkan. Istilah tersebut bahkan dikaitkan dengan kematian pada pasien Covid-19.

Lantas apa sebenarnya asidosis laktat itu? Benarkah kondisi tersebut dapat menyebabkan kematian pada pasien Covid-19? Dijelaskan oleh Pakar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Meity Ardiana, asidosis laktat merupakan kondisi yang terjadi pada tubuh saat produksi asam laktat melebihi pembersihan asam laktat.

Baca Juga : Arti Status Daerah Level 1-4 yang Disebut Luhut sebagai Ganti Istilah PPKM Darurat

Asam laktat sendiri adalah, sisa metabolisme tubuh yang diproduksi sel otot dan sel darah merah. Pada kadar tertentu, asam laktat berperan baik untuk tubuh. 

Namun, dalam kondisi berlebihan asam laktat justru bisa membahayakan tubuh. Meity menyebut peningkatan produksi laktat ini biasanya disebabkan oleh gangguan oksigenasi jaringan akibat penurunan pengiriman oksigen. 

Kondisi tersebut juga bisa terjadi pada pasien Covid-19. Pada orang yang terinfeksi Covid-19, saturasi oksigen tentu akan menurun dan menyebabkan asam laktat meningkat.

Asam laktat yang meningkat pada pasien Covid-19 itu, bisa meningkatkan keasaman darah sehingga memperberat kondisi pasien seperti sesak nafas dan penurunan kesadaran. Meity pun menyebut, Covid-19 dan asidosis laktat ini memang saling memperberat satu sama lain.

"Normalnya, tubuh menghasilkan asam laktat sebesar 20 mmol/kg/hari, yang akan di metabolisme oleh liver dan ginjal. Namun, ketika kondisi oksigenasi jaringan menurun, metabolisme laktat tidak sebanding dengan produksi laktat, sehingga jumlah laktat meningkat secara proporsional," ujar Meity dalam siaran pers yang Senin (19/7/2021) dikutip dari CNN Indonesia.

Asidosis laktat atau kadar asam laktat dalam tubuh ini dapat diketahui melalui tes darah. Selain karena oksigenasi yang menurun, asidosis laktat juga bisa disebabkan karena oksigenasi darah yang buruk seperti hipotensi, sianosis, ekstremitas dingin, dan bintik-bintik. 

Sebagian besar kasus ini disebabkan oleh hipoperfusi jaringan, gagal jantung, sepsis, dan henti jantung. Asidosis laktat juga dapar terjadi karena penyakit sistemik seperti gagal ginjal atau liver. 

Baca Juga : Umumkan Perpanjangan PPKM Darurat, Jokowi Keseleo Sebut Sembako Jadi Sembakao

Selain itu bisa disebabkan karena obat dan toksin seperti alkohol dan salisilat. Di sisi lain, lanjut Meity, bahwa belum ada bukti ilmiah kombinasi obat pada pasien Covid-19 menyebabkan asidosis laktat.

Hingga kini, juga belum ada obat khusus untuk mengatasi kondisi tersebut. Meity menjelaskan dokter akan mengatasi asidosis laktat dengan terapi atau pengobatan yang bertujuan untuk mengatasi penyebab kelebihan asam laktat.

Dokter juga akan mengoptimalkan oksigenasi darah dan jaringan agar saturasi oksigen meningkat. Setiap pasien Covid-19 yang bergejala sedang hingga berat dan mengalami penurunan saturasi oksigen harus segera memeriksakan diri ke dokter. 

Mereka tentu harus mendapatkan perawatan yang tepat untuk mencegah asidosis laktat dan kondisi bahaya lainnya.

Topik
asidosis laktat meity ardiana

Berita Lainnya