Ketika awal pandemi pada bulan Maret 2020 lalu, di saat perekonomian sedang lesu, Riyadi justru mengambil keputusan berani untuk membuka usaha terjun ke dunia kuliner memproduksi makanan olahan dan bumbu olahan.
Dikatakan pria berusia 48 tahun tersebut, produk makanan olahan yang ia jual pertama kali saat itu berupa Rolade atau sejenis sosis.
Baca Juga : Nongkrong di Tempat Kekinian Kota Batu, Coba Kedai Ngajak Ngopi Saja
Ada 4 varian rasa yang ditawarkan kepada konsumen, di antaranya rasa ikan salmon, rasa ayam, rasa udang dan rasa daging sapi. Rolade ala resto merk Chef Adi yang dikenal karena kelezatan serta kandungan bahannya yang penuh gizi ini,dijual terjangkau antara Rp 13.000- Rp 15.000.
"Olahan makanan buat lauk, atau bisa digoreng dicolek pakai saus. Untuk rasa ayam harganya Rp 13.000, sedangkan 3 jenis varian lainya yaitu rasa ikan salmon, rasa daging sapi dan rasa udang beda harga selisih Rp 2.000, kita jual Rp 15.000,"terang bapak dua anak ini ketika ditemui di rumahnya di Kelurahan Bandar Kidul RT 16 RW 03 Kecamatan Mojoroto Kota Kediri.

Selama proses produksi ia dibantu memasak oleh istrinya, yang berprofesi sebagai guru pengajar. Di sela sela kesibukannya memproduksi makanan olahan, dalam kesehariannya ia juga melayani pembelian makanan ayam geprek, nasi goreng dan lainya untuk anak sekolah.
Makanan Rolade dengan ukuran panjang 15 centi meter dan berat 2 ons ini dibuat dari bahan pilihan dan berkualitas sehingga terjamin higienisnya serta rasanya yang enak.
"Kalau saya lebih mengutamakan kualitas ya, kalau bahan dari udang saya cari yang berukuran besar. Saya cari yang jenis udang windu harganya Rp 90.000 per kilo, Jika digoreng aromanya lebih menonjol, terasa sedapnya," cetusnya.
Meski belum genap satu tahun berproduksi, tapi jangan salah makanan Rolade buatan Riyadi ini sudah dikenal luas pangsa pasar luar kota loh. Semacam Blitar, Tulungangung,Trenggalek , Nganjuk, Lamongan dan Mojokerto.
Awalnya sekedar coba coba mereka hanya membeli 2 biji, namun setelah ternyata rasanya nagihi serta pas dilidah, Karena cocok, mereka kemudian beli lagi.
Permintaan bukan hanya dari para konsumen. Banyak reseler yang datang ke rumahnya untuk ambil barang dijual kembali luar Kota. makanan Rolade buatan home industri ini bisa bertahan dikonsumsi selama 30 hari, apabila disimpan di dalam lemari es. "Produk relode buatan saya ini, kalau dijual di Blitar bisa sampai Rp 17.500 mas. Sebab penjualan disana lebih bagus ketimbang di Kediri, " ujarnya.
Saat bulan Puasa beberapa bulan lalu, meski kondisi masih pandemi. Riyadi mengaku kebanjiran order. Karena itu setiap tiga hari sekali, ia selalu harus memproduksi 100 biji rolade untuk dipasok ke wilayah Blitar .
" 3 hari sekali bisa sampai 100 biji, kalau Kediri paling 100 biji untuk tentang waktu satu minggu. Katanya disana juga ada makanan olahan jenis rolade, tapi masih enak buatan sini, "terangnya.
Selain memproduksi makanan olahan rolade, Riyadi memanfaatkan pengalaman atau ilmu yang ia dapat selama 23 tahun sebagai juru masak restoran untuk memproduksi bumbu olahan jadi.
Baca Juga : Gulali Asem Pak Modin, Jajanan Lumajang yang Tembus Hongkong
Bumbu olahan jadi ini dikemas dalam bentuk botol plastik berat isi 300 gram. Harga termurah mulai dari Rp 17.500 - Rp 27.000 .
Ada 5 varian rasa bumbu olahan yang tersedia, diantaranya bumbuku rasa saus asam manis Jawa, bumbu rica rica, bumbu pada hitam, bumbu oles bakar dan bumbu nasi goreng. "Bumbunya saya mix dengan rempah-rempah menjadi satu, bikin bumbu karena terinspirasi pernah bekerja sebagai juru masak di salah satu restoran di Kediri selama 23 tahun. Saya manfaatkan ilmunya untuk bikin,"kenang Riyadi.
Usaha untuk memproduksi bumbu olahan itu, mulai ia lakoni sejak perayaan Idul Adha beberapa waktu lalu. Setelah proses penjualan berjalan ternyata respons pangsa pasar cukup bagus. "Ada yang minta dikirim ke Kalimantan dan Pasuruan, sistem pembelianya via online melalui media sosial bisa Facebook dan Instagram," urainya.
Dari 5 varian bumbu yang diproduksi, beberapa hari belakangan terakhir menjelang pergantian tahun. Permintaan konsumen mengalami justru mengalami peningkatan dibanding sebelumnya, khususnya untuk varian bumbu olahan oles bakar. "Mungkin karena masa pandemi ya, konsumen memilih untuk bakar bakar masakan di rumah menggunakan bumbu oles bakar atau bumbu asem manis," pungkas Riyadi.
Masih kata Riyadi, sejak beberapa hari terakhir menjelang pergantian tahun, sudah ada 80 botol bumbu olahan bikinnya yang diminta oleh reseller mau pun pedagang lapak yang ia titipi barang. Ia menilai penjualan sistem offline, lebih efektif ketimbang online.
Tidak lupa ia mengucapkan rasa terima kasihnya, karena selama ini ia merasa terbantu dengan upaya yang sudah dilakukan oleh disperindag yang acap kali ja selalu dilibatkan dalam kegiatan pelatihan, pameran UMKM mau pun seminar.
"Sangat membantu ya, terutama saya ini kan pemula baru beberapa bulan masuk ke UMKM. Sejak itu, saya banyak kenalan bisa gabung ke grup whatsapp yang anggotanya banyak dari pelaku usaha," ujar Riyadi bersyukur.
Bila ingin merasakan enaknya Rolade dan bumbu olahan bisa langsung saja datang di Kelurahan Bandar Kidul Gg 8 ,RT 16 RW 03 Kecamatan Mojoroto Kota Kediri.Atau bisa melalui media sosial IG:@cateringagfa_kediri dan FB :@Riadi Riadi,atau juga bisa langsung menghubungi via handphone: 0856-4614-5789.(adv/Disperindagin Kota Kediri)