Pergerakan tanah yang memicu bencana tanah longsor rawan terjadi di Kota Batu yang didominasi topografi perbukitan berkontur miring.
Kondisi itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu telah memetakan beberapa wilayah di Kota Batu dengan kerawanan tinggi potensi longsor dengan menargetkan 15 unit pemasangan early warning system (EWS) pendeteksi tanah longsor.
Baca Juga : Rumah Mau Ambruk, Janda Anita di Madiun Menantikan Uluran Tangan
Kepala BPBD Kota Batu Agung Sedayu, mengatakan, Kecamatan Bumiaji menjadi kawasan yang berpotensi tinggi rawan longsor karena topografinya berkontur miring.
Titik-titik potensi longsor di Kecamatan Bumiaji berada di Sumber Brantas sisi timur laut, Tulungrejo, Gunungsari, Sumbergondo. Selain itu, satu titik berada di wilayah Songgokerto, tepatnya di kawasan wisata Payung.
“Saat ini 4 unit EWS telah dipasang. Keempat alat itu, satu berasal dari pengadaan melalui APBD. Satu lainnya bantuan dari BNPB dan dua unit lagi bantuan dari Dinas ESDM Provinsi Jatim,” ucap Agung, Rabu (30/12/2020).
Agung melanjutkan, akan menambah pemasangan alat pendeteksi longsor secara bertahap untuk merealisasikan 15 unit EWS.
"Tahun 2021 akan dilanjutkan penambahan enam unit lagi. Usulan itu sudah dianggarkan dalam keuangan daerah 2021. Pihak legislatif juga mendukung hal tersebut sebagai bentuk perlindungan kepada masyarakat," tambahnya.
Ia memaparkan, per unit alat pendeteksi longsor itu membutuhkan anggaran sekitar Rp 110 juta. Untuk ekstensometernya saja sekitar Rp 55 juta dan warning sistemnya sekitar Rp 47 juta.
Baca Juga : Aa Gym Positif Covid-19, Begini Kondisinya
Cara kerja alat ini mengidentifikasi pergerakan tanah yang dideteksi kabel baja ekstensometer. Kabel baja akan tertarik dan mentransmisikan sinyal ke alat warning system. Sehingga membunyikan alarm, pertanda adanya pergeseran tanah atau gerakan tanah.
"Pemasangan alat tersebut diprioritaskan pada lokasi yang berada di kelerengan yang rawan bencana. Dan di bawahnya lereng terdapat permukiman dan kerapatan vegetasi mulai berkurang atau jarang," ujarnya.