Destinasi wisata di Kota Surakarta yang dikenal pula dengan Kota Solo bukan hanya Keraton Surakarta, Pasar Gedhe maupun Puro Mangkunegaran tapi, banyak tempat lainnya. Tempat-tempat tersebut telah lama menjadi ikon dari Kota Ningrat. Di samping tempat-tempat tersebut, Kota Solo masih punya banyak tempat menarik lain, salah satunya Lokananta.
Lokananta adalah perusahaan rekaman musik (label) pertama dan satu-satunya milik Negara. Lokananta didirikan pada 29 Oktober 1956. Saat ini Lokananta menjadi museum dan merupakan destinasi yang layak dikunjungi oleh traveler khususnya penggemar musik saat berwisata ke Kota Solo.
Baca Juga : Keliling Keraton Surakarta, Ketemu Kebo Bule dan Melihat dari Dekat Rumah Raja
Nama Lokananta sendiri digagas oleh Raden Maladi, yang berarti gamelan dari khayangan bersuara merdu. Pendirinya adalah Oetojo Soemowidjojo dan Raden Ngabehi Soegoto Soerjodipoero, pegawai RRI Surakarta yang mempelopori berdirinya Lokananta pada 29 Oktober 1956.
Pagi menunjukkan pukul 06.30 pada Minggu 20 Desember 2020. Ini adalah hari kedua Pewarta BLITARTIMES berada di Kota Solo. Lokananta sengaja masuk dalam kalender jalan-jalan karena sudah lama penulis ingin berkunjung ke studio rekaman pertama di Indonesia. Sambil sunday morning ride (Sunmori) bersama teman bikers dari Sukoharjo, kami berangkat ke Lokananta sekitar pukul 08.00 WIB.
Museum Lokananta berada tak jauh dari tempat kami menginap di kawasan Kecamatan Pasar Kliwon Kota Solo, tempat dimana Keraton Surakarta berada. Jarak dari penginapan kami hanya sekitar 6,7 kilometer. Setelah riding menyusuri sudut-sudut Kota Solo kami pun tiba di studio legendaris Lokananta.
Angin sepoi-sepoi menyambut kedatangan kami di Lokananta. Setiba di Lokananta kami merasakan suasana seperti di tahun 1960an. Ya, bangunan di Lokananta saat ini masih asli, arsitekturnya masih sama seperti ketika pertama kali dibangun. Saat kami tiba, Lokananta sepi tidak ada pengunjung sama sekali. Entah karena pandemi Covid-19 atau memang destinasi wisata ini kurang diminati, yang jelas berwisata ke Lokananta bukanlah keindahan yang dicari, tapi nilai sejarah, khususnya bagi penggila musik-musik lawas yang iramanya antik.
Pagi itu di Lokananta hanya ada satu orang, dia duduk di pos satpam. Setelah berkenalan, lelaki muda itu bernama Aris. Gaya bicara Aris sangat ramah khas orang Jawa Mataraman, dia mengaku berasal dari Kabupaten Karanganyar, sebuah kabupaten yang berjarak sekitar 11 kilometer dari Kota Solo yang dulunya masuk wilayah Kadipaten Mangkunegaran.
“Selamat datang di Lokananta Mas. Monggo saya antar, tidak ada siapa-siapa karena hari Minggu kantornya libur,” ucap Aris.
Lokananta ini merupakan tempattonggak penting dalam sejarah perkembangan industri musik di Indonesia. Setelah era orde baru, Lokananya yang berusia lebih dari 60 tahun saat ini berada dibawah naungan Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI).
Studio rekaman yang beralamat di Jl. Ahmad Yani no. 379, Kerten, Laweyan, Solo ini juga menjadi tempat sejumlah musisi legendaris Indonesia merekam karya-karya hebat mereka. Musisi, artis dan penyanyi ternama seperti Gesang, Waldjinah, Titiek Puspa, Koes Plus, Bing Slamet, Didi Kempot hingga Anggun C. Sasmi pernah rekaman di Lokanata.

Pamor Lokananta sebagai studio rekaman memudar setelah era 1980an. Cukup miris karena Lokananta punya peran besar dalam perkembangan musik di Indonesia.
Namun demikian, terlepas dari fungsinya sebagai studio rekaman, Lokananta menyimpan ribuan koleksi karya musik dan koleksi perkembangan seni budaya di Indonesia. Salah satunya adalah set gamelan Lokananta Kyai Sri Kuncoro Mulyo. Gamelan ini konon telah ada sejak jaman Pangeran Diponegoro dan diboyong ke Solo pada 1937 oleh R. Moelyosoehardjo selaku pewaris pertama. Sejak 12 Oktober 1984, alat musik tradisional ini resmi bersemayam di dalam museum.

Baca Juga : Lewat Gebyar Giveaway Tsunami 1260, Lokasi Kongkow Asyik Muncul ke Permukaan
Istilah Lokananta sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang kurang lebih berarti ‘gamelan di Kahyangan yang berbunyi tanpa penabuh.’ Keberadaan gamelan ini juga kerap muncul di beberapa cerita legendaris pewayangan. Dikisahkan bahwa Lokananta merupakan seperangkat gamelan dari Suralaya (istana dewa-dewa di kahyangan) yang dapat berbunyi sendiri tanpa penabuh.
“Boleh percaya boleh tidak mas, gamelan ini menurut cerita kadang-kadang bunyi sendiri setiap malam,” terang Aris.

Koleksi lain di Lokananta adalah rekaman suara Presiden Soekarno kala membacakan naskah Proklamasi. Ya, ternyata suara Bung Karno itu merupakan rekaman ulang yang dibuat pada tahun 1951atau enam tahun pasca Indonesia merdeka.
Berdasarkan informasi yang beredar, saat naskah proklamasi dibacakan pada tahun 1945 terjadi mati listrik. Akibatnya, peristiwa bersejarah tersebut tidak sempat diabadikan dalam bentuk rekaman audio. Master rekaman pada tahun 1951 itu kemudian dikirimkan ke Lokananta untuk digandakan dan disebarkan ke seluruh Indonesia.
Salah satu spot lain yang cukup menarik di Lokananta adalah ruangan yang menyimpan ribuan koleksi pirngan hitam. Ya, sejak awal berdiri, Lokananta mempunyai dua tugas besar yaitu produksi dan duplikasi piringan hitam dan kemudian kaset audio.Di ruangan ini terdapat koleksi album piringan hitam mulai dari Waldjinah, Orkes Aneka Warna, Orkes Kerontjong Tjendrawasih, Zaenal Combo, dan masih banyak lagi.

“Koleksi ini boleh dilihat mas, tapi tidak diperjual belikan. Itu yang berada dalam segel adalah sisa produksi jaman dulu, tidak diperjualbelikan, disimpan dan dirawat di ruangan ini,” jelas Aris sambil menunjukkan dus bersegel berisi piringan hitam.
Lokananta masih berfungsi dengan baik sebagai sebuah studio rekaman.Salah satu buktinya adalah speaker yang hanya ada dua di dunia yakni di Lokananta dan yang lain di studio BBC, London. Kualitas rekaman di Lokananta juga disebut setingkat lebih bagus daripada studio legenda Abbey Road di London, Inggris. Speaker buatan perusahaan audio milik James Bullough Lancing yang ada di Lokananta juga tinggal satu-satunya di dunia.

“Lokananta ini masih sering dibuat rekaman. Beberapa waktu lalu Ibu Waldjinah juga baru dari sini. Slank menggarap album ke 23 mereka juga di sini,” pungkas Aris.
Nah traveler, itulah sedikit pengalaman Tim BLITARTIMES jalan-jalan ke Studi Lokananta. Bagi traveler penggemar musik tidak ada salahnya berkunjung ke Lokananta jika sedang main ke Kota Solo. Museum Lokananta buka antara pukul 08.00 hingga 16.00. Salam damai dari Surakarta, teruslah bernyanyi Lokananta.