Rian D'Masiv saat bermain fun football game di Kota Malang. (Instagram @rianekkypradipta)
Rian D'Masiv saat bermain fun football game di Kota Malang. (Instagram @rianekkypradipta)

Pentolan D'Masiv Band, Rian Ekky Pradipta atau yang akrab disapa Rian  D'Masiv, menyebut rivalitas di dunia sepak bola, terutama di Indonesia, sangat penting.

Musisi kelahiran Yogyakarta yang merupakan vokalis dari D'Masiv tersebut bahkan menginginkan rivalitas dunia sepak bola tetap ada. "Rivalitas penting karena itu adalah bumbu sebuah pertandingan," ujar Rian D'Masiv saat bermain fun football game di Stadion Gajayana Malang beberapa waktu lalu.

Baca Juga : Mantan Kapten Arema Ini Jadi Idola Musisi Kenamaan Tanah Air

Tetapi, Rian menyebut bahwa rivalitas di Indonesia ini cukup mengerikan. Soalnya, dia melihat masih banyak dendam antar-suporter yang berujung menghilangkan nyawa. "Ada yang lebih penting lagi, tidak boleh ada kekerasan, anarkis, bahkan sampai nyawa hilang," tandasya.

Bahkan Rian mencontohkan bahwa persaingan di sepak bola Indonesia tidak sampai turun ke pemain hingga keluar lapangan karena sesama pemain masih menjaga hubungan baik. "Antara mereka, persaingan luar biasa. Tapi di luar lapangan mereka berteman semua," kata dia.

Sementara itu, Rian juga membandingkan Liga Indonesia dengan Liga Thailand. Dan ia menyatakan bahwa liga dari Negeri Gajah Putih itu masih jauh di atas kompetisi sepak bola nasional.

"Aku pernah nonton LigaThailand. Itu jauh banget sama Indonesia. Jadi, jika bisa seperti itu tadi, Liga Indonesia bisa sebesar liga di Eropa asal benar-benar industrinya diurusin," ungkap dia.

Di sisi lain, Rian yang juga fans berat Manchester United (MU) mengaku sangat respek dengan apa yang ditunjukkan oleh suporter di daratan Eropa. Bahkan ia mengaku bahwa rivalitas di negara Eropa seperti Inggris itu hanya sebatas di stadion. Dan setelahnya akan sama seperti halnya masyarakat umum yang beraktivitas di luar rumah tanpa ada intimidasi dan sebagainya.

Baca Juga : Arema FC Mulai Pikirkan Nasib Pemain Seniornya

"Waktu aku di sana, itu di section-nya MU, hanya 3 ribu orang melawan puluhan ribu orang. Itu isinya celaan semua. Tapi ketika selesai pertandingan, ya selesai. Tapi dari awal aku sudah dikasih tahu bahwa aku tidak boleh pakai atribut. Jadi, benar-benar pakai baju hitam saja," kenang dia.

"Itu bisa jadi pelajaran dan ilmu juga ya, seandainya Liga Indonesia bisa kayak gitu itu akan keren banget dan akan jadi industri luar biasa, karena sepak bola Indonesia fansnya kan militan. Mereka membeli jersey dengan sukarela dan loyal sama klubnya," imbuhnya mengakhiri.