Setiap hujan mengguyur Kota Surabaya, hampir dipastikan banjir terjadi di mana-mana. Terutama pada daerah yang tak miliki resapan dengan baik. Dengan adanya fakta itu, tokoh pers Jatim Dhimam Abror menilai, dari tahun ke tahun tak ada perkembangan berarti di Surabaya.
"Katanya, Surabaya sudah berpengalaman sepuluh tahun mengatasi banjir. Nyatanya pengalamannya baru setahun tapi diulang sepuluh kali. Artinya, dari tahun ke tahun pancet ae tidak ada perkembangan," ujarnya.
Baca Juga : Mensos Juliari Serahkan Diri ke KPK, Jadi Tersangka Bansos Covid-19
Dhimam kemudian menjelaskan, untuk mengatasi banjir ada proyek boks culvert yang berfungsi two in one yang menjadi andalan Pemkot Surabaya selama ini. "Mengatasi genangan sekalian mengatasi macet. Di beberapa tempat genangan bisa diatasi meskipun tidak tuntas. Tapi proyek boks culvert ini bisa menimbulkan masalah baru," ujarnya.
Menurut pria yang juga mantan Ketua PWI Jatim ini, boks culvert adalah beton jenis precast berbentuk kubus segi empat yang ditutupkan di atas sungai, seperti gorong-gorong raksasa. Di atasnya dibangun jalan dengan aspal tebal supaya bisa dilewati angkot maupun truk.
"Seperti memotong celana. Bukannya tambah pendek tapi tambah tinggi. Jalanan mungkin berkurang macetnya, tapi sampah di sungai akan jadi masalah baru yang serius," tegas dia.
Pria yang juga asli Arek Suroboyo ini lantas meminta untuk melihat ke setiap sungai yang ada di Surabaya secara langsung.
"Dari anakan sungai Brantas saja setiap hari harus diangkat 40 kubik sampah. Sungai-sungai kecil di sepanjang daerah Asemrowo sampai Sukomanunggal menghitam airnya dan dangkal oleh tumpukan sampah," kata pria yang hobi olahraga ini.
Menurutnya, pemandangan yang hampir sama terlihat di banyak wilayah di pinggiran Surabaya. "Sungai yang terbuka saja tidak terurus dari sampah. Bagaimana kalau sungai itu ditutup gorong-gorong yang rapat dan ditutupi aspal," jelasnya.
Baca Juga : Politeknik Angkatan Darat (Poltekad), Menelurkan Generasi Inovatif
Dhimam melanjutkan, pemandangan proyek boks culvert di pusat kota memang terlihat mulus dan rapi di permukaan. Tapi dalam jangka panjang, ancaman sampah dan limbah kotoran lainnya akan menjadi masalah serius. Sehingga ini sama saja dengan menyapu lantai tapi menyembunyikan sampah di bawah karpet. Dari luar terlihat indah tapi di dalamnya bau sampah.
Kepada Wali Kota selanjutnya, Dhimam berharap, warisan kebaikan sepuluh tahun Risma dalam bentuk taman-taman yang indah boleh dilestarikan. "Tapi warisan "kebanjiran" yang ditinggalkan Bu Risma tidak boleh diteruskan," imbuh pengurus PW Muhammadiyah Jatim ini.