Pemerintah Desa Tamansari Kecamatan Licin Banyuwangi saat ini fokus pada bidang pertanian terutama kopi dan beras merah organik. Intensifikasi dan diversifikasi pertanian itu menjadi fokus pengembangan masyarakat desa untuk mendukung kebangkitan pariwisata di desa yang terdekat dengan Gunung Ijen.
Menurut Rizal Sahputra, Kepala Desa (Kades) Tamansari menegakan bahwa produk pertanian yang tengah dikembangkan di wilayahnya dijamin organik. ”Khusus kopi di Tamansari dipastikan organik. Karena kebiasaan petani di desanya yang menggunakan pupuk dari hewan ternak yang ada di kandang belakang rumah mereka, kemudian langsung dilempar pada lahan kopi. Sedangkan , untuk beras merah orientasi organiknya juga bagus sekali meskipun jangkauan pasarnya belum terlalu luas,”jelasnya.
Baca Juga : Bawaslu Banyuwangi belum Pernah Menerima STTP Kampanye Pilkada
Alumni Fakultas Pertanian UB Malang itu menuturkan untuk target luasan untuk kelompok petani beras merah ada sekitar 10 hektar, yang produksinya bisa diestimasi setiap hektar kurang lebih 5-6 ton dalam kondisi masih basah atau masih berupa gabah.
Untuk sementara ini produk beras merah masih diambil orang luar desa Tamansari. Sehingga hal tersebut menjadi bahan pemikiran bersama para tokoh setempat, setidaknya produk beras yang dijual kepada konsumen minimal merupakan produk setengah jadi sehingga ada penambahan nilai ekonomi bagi para petani.
Kades Tamansari itu menuturkan pada saat pembatasan sejak bulan April lalu, dia bersama warganya sempat Shock. Akan tetapi kondisi tersebut berlangsung tidak terlalu lama karena sekitar bulan Juli 2020, Banyuwangi secara bertahap sudah membuka destinasi wisata lagi. Selama masa pembatasan kabupaten/kota di Indonesia dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) bidang pariwisata, pembenahan tempat wisata dan fasilitas penunjangnya juga ditingkatkan secara maksimal.
“Dan Alhamdulillah sejak Juli 2020 sektor wisata dibuka kembali kami sudah sangat siap baik untuk standart kualitas protokol Covid 19, kualitas pelayanan maupun mutu dan kualitas SDM. Sejak dibuka bulan Juli grafik kunjungan destinasi wisata di Tamansari rata-rata per bulan tercatat 15 sampai dengan 17 ribu pengunjung di semua destinasi yang ada di desa kami,”imbuh Rizal.
Lebih lanjut ayah dua anak itu menambahkan apabila berbicara tentang destinasi tentu saling berkaitan, sehingga kalau membicarakan wisata di Tamansari, Alhamdulillah selain pergerakannya sudah luar biasa dan ada beberapa hal baru yang akhirnya menjadi terbuka ketika dalam masa pandemi.
Baca Juga : Dukungan Pelaku UMKM ke Cabup Ipuk Terus Mengalir
Rizal memberikan contoh tentang adanya pembatasan wisatawan mancanegara, banyak pihak yang mengetahui bahwasannya pertama untuk destinasi wisata di wilayah Tamansari, ada beberapa warga yang sangat tergantung pada wisatawan mancanegara. Contohnya Tour Guide Kawah Ijen, meskipun ada wisatawan domestik tetapi intensitasnya tidak pesat. Kedua pembatasan pandemi skala besar menjadi harapan besar kami, ketika destinasi sudah dibuka kembali.
“Selanjutnya tahun 2021 kami melihat yang menjadi jalan keluar atau solusi kedua selain pariwisata, Rencana Pembangunan Desa (RPD) desa Tamansari dalam master plan dalam menjawab perubahan yang ada kami mengembangkan sektor pertanian yang menunjang pembangunan dan pengembangan sektor wisata,” imbuhnya.
Lebih lanjut Rizal menambahkan dalam menghadapi situasi dan kondisi pandemi wabah Covid 19 usaha lahir sudah dilakukan secara bersama oleh pemerintah dan masyarakat dengan dukungan tokoh agama dan tokoh masyarakat secara makismal. ”Insya Allah dengan segala ikhtiar lahir disertai kegiatan spiritual warga kami masih kental dengan kehidupan agama Islam, kami berharap masa pandemi Covid saat ini segera berakhir agar kehidupan dapat berjalan normal kembali,” pungkasnya.