Pohon jati sumber yang dikeramatkan di desa
Pohon jati sumber yang dikeramatkan di desa

Tanggal 21 November diperingati sebagai hari pohon sedunia setiap tahunnya. Hari ini tentu diperingati untuk mengingatkan kembali akan pentingnya pohon sebagai sumber kehidupan yang menghasilkan oksigen, serta menjaga populasi makhluk hidup di Bumi.

Beberapa tempat di Indonesia, pohon juga dianggap memiliki nilai lebih. Misalnya, dianggap suci atau keramat. Seperti di Kecamatan Trowulan, Desa Watesumpak, Dusun Jati Sumber, terdapat pohon yang dianggap keramat. 

Baca Juga : Menumbuhkan Oksigen dan Obat di Pekarangan, Ini Contoh Keberhasilan PKK Kota Kediri 

 

Sebuah pohon jati yang kini menjadi sebuah punden, memiliki keunikan tersendiri. Di mana, di tengah-tengah pohon ini mengeluarkan sumber air. Meskipun telah roboh di tahun 2015 dimungkinkan karena usianya yang kabarnya lebih dari 600 tahun, bagian sumber dan akar tetap ditanamkan kembali oleh warga desa untuk dijadikan monumen desa. Dan yang mengejutkan, sumber air dari pohon tersebut tetap mengalir hingga saat ini.

Air yang mengalir dari sumber tersebut oleh sebagian kalangan masyarakat dianggap suci dan dapat menyembuhkan. 

“Di tahun 2016 dulu, almarhum Kepala Dusun Jati Sumber pernah mengalami sakit stroke dan dibopong ke lokasi tersebut oleh warga untuk dimintakan air. Kemudian dipakai mandi. Setelahnya orang tersebut pulang dengan berjalan kaki sendiri,” paparan Bagus, warga Jati Sumber saat diwawancarai awak media, Sabtu (21/11/2020).

Masyarakat juga menganggap pohon ini membawa berkah, karena memberikan banyak manfaat melalui sumber air dari jati tersebut. Lokasi tersebut lazim disebut oleh masyarakat sekitar dengan sebutan punden yang diberi nama Mbah Sumbersari. 

Beberapa tokoh yang dikenal oleh masyarakat Mojokerto seperti mantan Bupati Mustofa Kamal Pasa, bahkan Hashim Djojohadikusumo adik dari Prabowo Subianto juga pernah mengunjungi lokasi tersebut untuk mengambil airnya.

“Bahkan pohon yang telah mati juga masih bisa memberikan manfaat. Secara tidak langsung hal tersebut juga harusnya membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pohon. Misalnya dari komunitas kami, Save Trowulan kini gencar membibitkan pohon Maja untuk di tanam,” ujar Bagus yang juga aktif dalam komunitas Save Trowulan.

Baca Juga : Momentum Hari Pahlawan, Linksos Bersama Difabel Tanam Pohon di Gunung Wedon 

 

Kabupaten Mojokerto beberapa tahun terakhir kian gencar melakukan pembangunan. Baik pembangunan jalan, maupun pembebasan lahan untuk pabrik. Polusi kian meningkat tidak banyak yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. 

“Masyarakat kesakitan melihat kondisi lingkungan saat ini. Misalnya pengerukan Lebak Jabung sebagai eksosistem hulu kita, pembukaan-pembukaan lahan untuk tambang maupun pabrik,” ungkap Bagus menyayangkan realita yang terjadi di Mojokerto.

Bagus berharap, di hari pohon ini dapat membangkitkan kesadaran setiap orang akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. “Kita semua berharap, pihak-pihak yang punya wewenang dalam menjaga kelestarian lingkungan bisa maksimal dalam membuat kebijakan. Semisal untuk melakukan reboisasi, serta program-program lainnya yang berpihak pada kelestarian alam, karena kita juga bagian dari alam tersebut,” pungkasnya.