Ketua Forbi Banyuwangi Agus Tarmidzi (Gus Tar) Nurhadi Banyuwangi Jatim Times
Ketua Forbi Banyuwangi Agus Tarmidzi (Gus Tar) Nurhadi Banyuwangi Jatim Times

Bagi aktivis Banyuwangi yang memiliki empati dan simpati terhadap penderitaan anak istri M Yunus Wahyudi yang ditahan aparat kepolisian karena diduga melanggar Undang-undang (UU) ITE dan Kekarantinaan Kesehatan, saatnya untuk mewujudkan dukungan materi. Sehingga bisa meringankan beban keluarga M Yunus. 

Begitulah pernyataan yang disampaikan oleh Agus Tarmidzi yang akrab disapa Gus Tar, Ketua Forum Rakyat Berdaulat Indonesia (Forbi) Banyuwangi, melalui sambungan WhatsApp (WA), Selasa (20/10/2020).

Baca Juga : Miris, Kehidupan Pasutri Romdan-Rajemah Potret Kemiskinan di Pedesaan Banyuwangi

Gus Tar menyampaikan rasa bangga dan respek atas perjuangan M Yunus yang akhirnya di tahan kepolisian. Di mana M Yunus memperjuangkan kelompok orang yang disinyalir mendapat perlakuan tidak adil,  tertindas dan terpinggirkan.

”Tidak sedikit aktivis terkadang hanya melihat, tidak berbuat. Empati tetapi tidak berani. Beruntunglah ada sosok seperti Yunus. Dia benar-benar berani bicara juga berani berbuat dan itulah pejuang nilai-nilai kemanusiaan yang sejati," ucap Gus Tar.

Dalam perspektif hukum, menurut tokoh asal Srono itu, figur Yunus pada dasarnya tidak bodoh. Dia mengetahui konsekuensi atas tindakannya, sehingga apapun akibat yang ditimbulkan, yakni sanksi hukum, tentunya dia sadar dan siap untuk menerimanya. Yunus, lanjutnya, manusia taat hukum dan tidak ada manusia kebal hukum.

”Jadi biar aja Yunus menjalani risiko hukum itu dan semua wajib menghormati institusi Polri. Karena memang hal tersebut menjadi tugas dan kewenangannya,”ujar mantan Kades Wonosobo tersebut.

Kasus hukum Yunus, merupakan pembelajaran bagi aktivis, bahwa sosok seperti Yunus perlu ada dan perlu mendapat apresiasi. Serta simpati bagi mereka yang mengaku sebagai tokoh pembela hak-hak sipil yang telah mengikhlaskan dirinya untuk mengabdi, berbakti dan berbuat untuk rakyat.

Selanjutnya Gus Tar menuturkan, saat ini yang perlu dipikirkan adalah dampak materiil dan moril yang tentunya menjadi masalah yang cukup berat bagi anak istri dan keluarga Yunus. 

Baca Juga : Update Polisi Dangdutan, Musik di Pesta Nikah Dihentikan dan Simpang Siur Ujian Perangkat Desa

Secara materiil cukup jelas, karena menjalani proses hukum, saat ini Yunus tidak mampu menjalankan peran sebagai kepala keluarga yang memiliki kewajiban menghidupi keluarganya. Sementara sang istri, yang merupakan ibu rumah tangga biasa tentu akan mengalami kesulitan menghidupi anak-anaknya dalam situasi pandemi Covid-19.

“Mari sebagai sesama aktivis untuk menunjukan empati dan simpati serta membangun solidaritas sosial untuk membantu anak istri dan keluarga Yunus dengan kegiatan yang riil,” ajak Gus Tar.

Lebih lanjut dia menambahkan, yang tidak kalah penting adalah memikirkan dampak psikis anak yang biasanya berkumpul dengan sosok ayah tentu berpengaruh terhadap mentalnya. Tidak menutup kemungkinan mereka akan menjadi pribadi yang minder, penakut atau sebaliknya akan menjadi sosok yang agresif sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan ayahnya.