Eko Sutrisno (tengah) dalam salah satu kegiatannya di Kampus UNIM Mojokerto. (Foto: Eko untuk mojokertotimes.com)
Eko Sutrisno (tengah) dalam salah satu kegiatannya di Kampus UNIM Mojokerto. (Foto: Eko untuk mojokertotimes.com)

Pendidikan tinggi merupakan salah satu lembaga pendidikan yang terdampak adanya pandemi covid-19. Akibatnya, perkuliahan pun dilakukan secara online atau dalam jaringan (daring).

Perkuliahan online dengan sistem daring tersebut menjadi cara baru kegiatan belajar mengajar di perguruan tinggi di Indonesia, termasuk di Universitas Islam Majapahit (UNIM) Mojokerto. Kampus swasta terkemuka di Kabupaten Mojokerto tersebut juga telah menerapkan sistem perkuliahan daring sejak awal munculnya wabah covid-19, yakni sekitar tujuh bulan yang lalu.

Baca Juga : Suka Main Layangan, Siswa asal Probolinggo ini Juarai Olimpiade SSO

Penerapan sistem kuliah daring di UNIM dibenarkan oleh Eko Sutrisno, salah seorang pengajar alias dosen di perguruan tinggi swasta dengan tagline “The Religious Cultural University” ini.   “Selama ini, perkuliahan di UNIM masih menggunakan sistem daring. Jika memang diperlukan, maka perkuliahan dapat dilakukan dengan sistem tatap muka, tetapi dengan menerapkan standar protokol kesehatan. Selama menggunakan sistem daring, dalam 1 semester terdapat 14 kali pertemuan, minimal 5 kali tatap muka. Tapi, kegiatan kuliah tatap muka itu melalui kesepakatan antara dosen dengan mahasiswa," ungkap dosen Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknik UNIM itu.

Meski demikian, perkuliahan dengan sistem daring di perguruan tinggi tetap menyisakan beberapa masalah. Di antaranya terkait dengan respons dan capaian tingkat pemahaman mahasiswa.

“Kendala paling sering dihadapi yaitu adanya mahasiswa yang pasif dalam proses kuliah daring. Hal ini penting karena dapat mengakibatkan proses transfer knowledge menjadi terhambat. Dan pada akhirnya capaian tingkat pemahaman mahasiswa pun menjadi kurang maksimal," kata dosen yang juga pernah mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) di Kepulauan Riau ini. 

Solusi dalam mengatasi masalah tersebut, menurut Eko Sutrisno, adalah dengan melakukan diskusi melalui WhatsApp group (WAG), Google Meeting, e-learning. Selain itu, menagih tugas dan menanyakan seberapa jauh pemahaman mahasiswa terkait mata kuliah yang telah diajarkan.

Baca Juga : Bantu Masyarakat Adaptasi, Tim KKN Darurat Bencana UB Bagikan Paket Protokol Kesehatan

“Kami  berharap agar mahasiswa dapat lebih adaptabel dalam kondisi apa pun. Bagaimana pun, pembelajaran yang efektif membutuhkan interaksi dua arah. Inilah kelemahan sistem daring yang menjadi kelebihan sistem tatap muka," pungkasnya.