Menjadi pembarong dalam kelompok Reog Ponorogo tak bisa asal menari. Banyak teknik yang harus dikuasai agar tarian yang disajikan menarik sekaligus tidak membahayakan pembarong.
Agar keterampilan itu makin dikuasai, Yayasan Reog Ponorogo mengadakan pelatihan calon pembarong di Gedung Kesenian Kabupaten Ponorogo, Kamis (27/8/2020) siang.
Baca Juga : Keris yang Masih Eksis di Zaman Digital, Butuh Serangkaian Ritual Khusus Pegangan Pribadi
Ketua panitia pelatihan, Shodig Pristiwanto menjelaskan bahwa warok-warok muda menjadi peserta dalam kegiatan tersebut. “Ada 119 pembarong dari seluruh kecamatan di Kabupaten Ponorogo yang hadir dalam mengikuti pelatihan tersebut,” terangnya.
Di samping melestarikan kesenian Reog Ponorogo di kalangan anak muda, lanjut Shodig, pelatihan tersebut juga untuk memberikan wawasan seputar menari barongan. Sehingga, para penari memiliki seni dalam menghidupkan benda mati yaitu dadak merak.
"Membarong itu tidak hanya soal otot, tapi juga seni dalam menggerakkan dadak merak,” ungkapnya.
Pendidikan dan pelatihan pembarong ini juga merupakan salah satu program kerja dari Yayasan Reog Ponorogo. “Ini juga sebagai wadah kepada generasi muda untuk menjadi pembarong untuk melestarikan budaya Reog Ponorogo,” jelasnya.
Dia menjelaskan, pendidikan dan pelatihan pembarong ini mendatangkan 2 pemateri. “Yang satu pembarong yang menggunakan otot, dan pemateri yang memiliki solah atau ukel gaya joget,” urainya.
Baca Juga : Tahun Ini, Festival Menari Tari Bapang Kelurahan Bunulrejo Bakal Digelar Virtual
Dengan perpaduan dari kedua pemateri ini, diharapkan akan melahirkan pembarong-pembarong muda yang berkualitas dalam mengenalkan seni Reog Ponorogo.
“Semoga nantinya setelah adanya pelatihan ini bisa melahirkan pembarong-pembarong muda yang berkualitas,” pungkasnya.