Ritual Labuh Laut Larung Sembonyo di Tengah Indahnya Pesona Kedungtumpang Tulungagung | Jatim TIMES

Ritual Labuh Laut Larung Sembonyo di Tengah Indahnya Pesona Kedungtumpang Tulungagung

Aug 20, 2020 17:18
Masyarakat nelayan dan Pokdarwis Kedungtumpang menggelar ritual labuh laut Larung Sembonyo. / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES
Masyarakat nelayan dan Pokdarwis Kedungtumpang menggelar ritual labuh laut Larung Sembonyo. / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES

Labuh laut atau sembonyo merupakan ritual adat warga nelayan yang lazim dilaksanakan tiap tahun. Namun, di kawasan wisata Kedungtumpang, Desa/Kecamatan Pucanglaban, Kabupaten Tulungagung, labuh laut selalu menonjolkan sisi budaya sekaligus menarik minat wisatawan.

Labuh laut berwujud sedekah laut. Secara filosofis, kegiatan ini sebagai  bentuk syukur kepada Tuhan atau karunia dan rezeki yang diberikan.  “Ini salah satu bagian dari wujud syukur, selain memang juga merupakan warisan budaya adat yang harus dilestarikan,” kata Ketua Kelompok Masyarakat Sadar Wisata (Pokdarwis) Kedungtumpang Adi Sucipto, Kamis (20/08/2020). 

Baca Juga : Bersejarah, Retjo Pentung Akan Diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya

 

Warga Kedungtumpang dengan sukarela tampak antusias menyiapkan tumpeng raksasa sekaligus sesembahan berupa kepala kambing dan sesaji lain guna dilarung ke laut lepas.

"Memang dari para leluhur kami, acara tiap Suro ini selalu digelar. Ini juga berniat mensucikan perjalanan kehidupan kita selama setahun agar ke depan tidak lagi terjadi musibah," ungkap pria yang akrab disapa mas Cip itu.

Masyarakat melaksanakan ritual labuh sembonyo di tengah indahnya Kedungtumpang

Sebelum dilarung, dua buceng dan sesaji lain didoakan dengan tujuan agar masyarakat dijauhkan dari segala musibah. “Situasi masih covid-19 ini tetap kami laksanakan. Semoga musibah ini segera berlalu dan tahun yang akan datang, kegiatan ini menjadi lebih kompak lagi,” imbuhnya.

Camat Pucanglaban Ali Muhtar berharap dengan adanya sedekah dari para nelayan ini, maka hasil laut akan semakin berlimpah. Ujungnya, kesejahteraan masyarakat juga meningkat.

“Selain menjaga kelestarian tradisi, juga bisa meningkatkan banyak potensi. Baik potensi wisata maupun nilai ekonomi kerakyatan. Maka dari itulah, semua pihak harus saling dukung demi masyarakat,” kata Ali yang turut turun ke lokasi larung yang cukup curam.

Bagi Ali, selama dirinya bertugas di Pucanglaban, dia akan membantu kelancaran kegiatan dan mendorong tumbuh kembangnya roda ekonomi masyarakat menyambut pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS).

Baca Juga : Selamatan Lebaran Haji, Menjaga Adat dari Serbuan Gaya Hidup Global

 

"Akan ada tiga desa yang nantinya menjadi desa dengan potensi strategis di Pucanglaban. Sebelum JLS dibangun, kami persiapkan segala sarana dan prasarana yang diharapkan akan membawa kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Tiga desa yang dimaksud punya potensi wisata pantai yaitu Pucanglaban, Kalindawe, dan Panggungkalak.

Meski kegiatan dilakukan dengan cukup banyak melibatkan masyarakat dan pengunjung, larung sembonyo di Kedungtumpang tetap mengedepankan protokol kesehatan. 
 

Topik
Ritual Labuh Laut Larung Sembonyo Pesona Kedungtumpang Tulungagung berita tulungangung

Berita Lainnya