Ilustrasi, net
Ilustrasi, net

Setelah PLN memberikan himbauan pada akhir Juli lalu, kini bupati Tulungagung juga meminta agar para penghobi layang-layang waspada. Melalui situs media sosial Kominfo, Bupati Tulungagung Maryoto Birowo menghimbau agar utamanya anak-anak agar tidak bermain layangan ukuran besar.

"Utamanya buat anak-anak atau adik-adik agar tidak menggunakan instrumen lain untuk tidak dipakai. Seperti, adanya instrumen lampu yang menyala, kemudian komponen dari alumunium yang sangat rentan terhadap aliran listrik," kata Maryoto, yang dirilis pada Minggu (16/08/2020).

Baca Juga : Tak Hanya di Tulungagung, Ini 3 Kasus Perceraian Akibat Pasangan Terlalu Banyak Bercinta

 

Alasan untuk tidak memakai komponen menurut bupati karena rentan terhadap regulasi dan pengamanan jaringan listrik. "Beberapa kali listrik padam juga karena adanya gangguan layangan bapangan yang tersangkut di jaringan listrik," ujarnya.

Manajer ULP PLN Tulungagung Timbar Imam Priyadi saat dikonfirmasi belum memberikan respons, namun sebelumnya di media ini ia mengatakan, selama Juli 2020 ini, setidaknya sudah terjadi sembilan kali ledakan di jaringan penyulang metropole. Semuanya disebabkan  layang-layang yang nyangkut di kabel PLN.

"Empat kali terjadi ledakan malam hari dan lima kali terjadi siang hari. Semuanya karena layangan," ujarnya kala itu.

Kebanyakan layang-layang yang memicu ledakan itu berjenis sendaren atau bapangan. Jenis layangan ini sering ditinggal pemiliknya sehingga sering jatuh tanpa diketahui.

Jika sudah terjadi pemadaman akibat layang-layang, butuh waktu untuk menyalakan listrik lagi. Awalnya petugas harus mencari titik di mana terjadi gangguan. Jika sudah ditemukan, membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk penanganannya.

Namun sering ada material yang bermasalah saat terjadi hubungan pendek. Jika demikian, petugas teknis harus mencari material pengganti lebih dulu.  Belum lagi harus menunggu trafo agar kembali ke suhu normal.

Baca Juga : Unik, Komunitas Tangkas Tulungagung Ini Layani Pembersihan Makam hingga Gali Kubur

 

PLN kesulitan untuk melacak pemilik layang-layang. Biasanya pemilik layang-layang berada jauh dari layang-layang itu. Selama ini, baru satu pemilik layang-layang yang diketahui PLN. Itu pun masih berusia anak-anak.

 “Kami kan tidak serta merta mengajukan tuntutan hukum karena dia masih anak kecil. Kami minta surat pernyataan tidak mengulangi di depan orang tua dan di depan kepala desa,” ungkap Timbar.

Timbar mengingatkan, jika terjadi pemadaman, bukan pemain layang-layang yang rugi. Tetapi semua pelanggan yang menikmati listrik. Karena itu, PLN gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat, termasuk ke polisi, agar turut mengamankan ketenagalistrikan di Tulungagung.

Secara hukum, pemilik layang-layang bisa dijerat dengan Undang-Undang RI Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan. Sebab, pemilik layang-layang telah melakukan kelalaian sehingga mengakibatkan terputusnya aliran listrik dan merugikan masyarakat. Ayat 2 dalam pasal 51 menyebut, pelaku diancam hukuman penjara maskimal lima tahun dan denda maksimal Rp 2,5 miliar.