Ustadz Fahruddin Faiz di masjid Sudirman Yogyakarta, (sumber: facebook fahruddin faiz)
Ustadz Fahruddin Faiz di masjid Sudirman Yogyakarta, (sumber: facebook fahruddin faiz)

Konflik besar yang dialami Nabi Ibrahim melawan dirinya sendiri menjadikan pelajaran besar tentang makna kurban. Kesediaan untuk merelakan semua yang disayangi atau dimiliki untuk Allah SWT, merupakan ujian terberat.

Hal itu disampaikan oleh Ustaz Fahruddin Faiz di masjid Sudirman Yogyakarta. Dia juga menyatakan ujian yang berat adalah  melawan keinginan diri sendiri memilih antara keterikatan atau kemerdekaan.

Baca Juga : Meski Kecil Fisiknya, Sahabat Rasulullah SAW Ini Justru Mampu Taklukkan Quraisy

Dia juga menyampaikan  perkataan Nabi Muhammad SAW setelah perang badar yang begitu besar, masih ada lagi perang yang lebih besar. Yaitu perang terhadap hawa nafsu diri sendiri. “Makna kurban dalam kisah Nabi Ibrahim adalah perang terhadap dirinya sendiri antara memilih kesempurnaan atau kemerdekaan, kesenangan atau kemerdekaan, dan kedamaian atau perjuangan,” kata dia dalam ceramah rutin di masjid Sudirman, Rabu (29/7/2020).

Lebih lanjut, Fahruddin menjelaskan bahwa ini merupakan cerita tentang Ismail sebagai anak yang sangat disayang oleh ayahnya Ibrahim. Setelah lama tidak dikaruniai anak, kemudian Ibrahim menikahi budaknya Hajar yang akhirnya memiliki anak semata wayang Ismail.

“Semua itu kan merupakan simbol ketidakbebasan, yaitu keterikatan Nabi Ibrahim yang sangat menyayangi Ismail, oleh karena itulah terikat. Jadi seolah-olah Allah itu bertanya kamu memilih terikat atau merdeka, kedamaian atau perjuangan karena status quo itu enak tapi tidak meningkat. Terus mau meneladani perasaan atau meneladani keimanan, seperti mau enaknya sendiri atau memilih berjuang, mau menjadi bapak yang baik atau nabi yang baik,” terangnya.

Baca Juga : Kisah Pejuang Perempuan yang Lindungi Rasulullah SAW hingga Lehernya Tersabet Pedang

Dia melanjutkan hal tersebut  merupakan pilihan yang berat. “Tetapi yang menjalankan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tetap dijalankan saja. Kalau kita yang menjalankan jangan kan anak, kalau kita disuruh membuang barang berharga saja ya besoknya diambil lagi,” ungkap dia.