Tumpukan sampah yang ada di TPA Talangagung, Kepanjen, Kabupaten Malang. (Foto: Dok. JatimTimes)
Tumpukan sampah yang ada di TPA Talangagung, Kepanjen, Kabupaten Malang. (Foto: Dok. JatimTimes)

Kiriman sampah rumah tangga pada masa pandemi Covid-19 di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Talangagung, Kepanjen, Kabupaten Malang meningkat. Hal itu seiring dengan banyaknya kegiatan warga di dalam rumah. Peningkatannya berkisar antara 5 persen sampai 10 persen. 

Peningkatan kiriman sampah itu sebagaimana disampaikan Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang, Renung Rubiyartaji. Menurutnya, pada Bulan Maret hingga Bulan Juni 2020 jumlah sampah di TPA Talangagung Kepanjen mengalami peningkatan mencapai 10 persen.

"Kenaikan mencapai 5-10 persen. Setiap hari bisa 115-117 ton sampah dan mayoritas adalah sampah rumah tangga," ujarnya ketika dikonfirmasi oleh pewarta, Minggu (12/7/2020). 

Renung mengatakan bahwa jumlah sampah yang terus meningkat di masa pandemi Covid-19 khususnya di TPA Talangagung disebabkan oleh himbauan dari pemerintah agar berkegiatan di dalam rumah atau Stay at Home.

Baca Juga : Pandemi Corona, Volume Sampah di Ngawi Justru Turun

"Saat ini, secara presentasi sekitar 2,5 liter sampah setiap orang per hari. Itu setara dengan 0,45 kilogram sampah. Sebelum ada corona hanya 2 liter saja atau setara 0,35 kilogram sampah per orang tiap hari," bebernya. 

Peningkatan jumlah sampah ini pun juga disebabkan oleh intensitas masyarakat di Kabupaten Malang yang kerap kali memilih untuk masak sendiri di rumah untuk mengantisipasi kesehatan diri terhadap makanan yang dikonsumsi. Karena dengan memasak sendiri, masyarakat pasti mengetahui, makanan tersebut higienis atau tidak.

Renung mengatakan bahwa dengan pola kehidupan seperti itu, maka jumlah sampah rumah tangga akan terus meningkat, karena masyarakat lebih berinisiatif untuk memasak makanan sendiri dibandingkan dengan membeli di warung.

Meskipun jumlah sampah terus meningkat, hal itu tidak serta merta membuat konteks peningkatan sampah di masa pandemi tersebut menjadi tidak bagus. Tetapi terdapat hal yang dapat dimanfaatkan oleh penarik gerobak sampah dan pemulung.

"Peningkatan jumlah sampah juga tak selamanya mempunyai konotasi tidak bagus. Penarik gerobak sampah itu kan dari orang swasta jadi ini bisa nambah lapangan pekerjaan juga," ungkap Renung.

Sementara itu untuk pemulung sendiri yang terbiasa mengais sampah di TPA, khususnya di TPA Talangagung mengaku harga sampah untuk dijual sekarang mengalami penurunan harga hingga 50 persen. Hal itu salah satu akibat dari adanya pandemi Covid-19.

"Karena harga botol plastik biasanya Rp 4 ribu satu kilogram-nya, sekarang botol harganya cuma Rp 2 ribu per kilogram. Saya biasa menjualnya ke bank sampah," ujar salah satu pemulung di TPA Talangagung bernama Atim.

Atim mengaku, sebelum adanya pandemi Covid-19, dirinya bersama sang suami bisa mendapatkan uang kisaran Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu tiap harinya. Dia mengais sampah di TPA Talangagung dan menjualnya ke tempat penjualan sampah maupun bank sampah yang sudah ada.