Beberapa anak muda sambil ngopi dan meracik rokok tingwe di Kedai Tengwe (Eko Arif S/ JatimTIMES)
Beberapa anak muda sambil ngopi dan meracik rokok tingwe di Kedai Tengwe (Eko Arif S/ JatimTIMES)

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut Tingwe (Ngelinting Dewe), adalah kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. 

Menghisap rokok lintingan sendiri memang memberi keasyikan yang khas. Pertama, kita bisa membuatnya jadi punya cita rasa kretek ala kita. Cukup dengan mencampurkan tembakau dengan sedikit cengkeh, wur, atau pula klembak.

Baca Juga : Rp 50 Ribu Dapat 4 Warna Lipstik, Packaging Mirip Rokok Bisa Bikin Salah Fokus

Tetapi tingwe kini menjadi fenomena yang cukup tren di kalangan anak muda. Budaya melinting rokok sendiri bagi orang muda sudah bukan lagi hal tabu. Celotehan yang menganggap tingwe itu budaya kampungan atau pula budaya jadul, sudah tak berarti lagi. Seperti kita ketahui, fenomena tingwe ini muncul akibat pandemi Covid - 19 yang terjadi saat ini.

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di Kota Kediri.

Namun di sisi lain, mengonsumsi tingwe juga membuat sebagian penikmatnya mendapatkan sensasi tersendiri. Bisa dibilang lebih artsy, membuat jemari sedikit lebih produktif. Meski sebagian lainnya menganggap tingwe bukanlah pilihan taktis.

Terlepas dari itu semua, budaya tingwe di kalangan anak muda telah menyuburkan pula satu peluang usaha baru. Tingwe bukan semata solusi bagi perokok, namun juga menjadi sumber penghasilan tambahan bagi kedai-kedai kopi.

Salah satunya warung Tengwe milik Daniel yang berada di jalan Penanggungan Kota Kediri,  biasanya hanya menyediakan varian kopi, kini turut mendapat keuntungan dari berjualan tembakau beserta printilannya. 

Dikatakan Daniel, selain menyajikan kopi warung Tengwe juga menyediakan berbagai macam varian tembakau seperti, tembakau hijau Aceh Gayo, Poday, Darmawangi dan berbagai macam tembakau lainnya dan juga menyediakan tembakau aromatik.

Menurut Daniel, selama mengelola warkop, disediakan tembakau gratis bagi pengunjung yang inign belajar ‘nglinting’. Dengan berjalannya waktu, pengunjung pun banyak yang beralih dari rokok sigaret kretek tangan (SKT) ke rokok tingwe. Soal rasa tak perlu diragukan, tak kalah dengan buatan pabrik. 

Baca Juga : The New Normal Life Style, Cara Baru Hadapi Covid 19

"Tembakau tersebut diramu sedemikian rupa, maka jangan heran begitu diisap rasanya persis sama dengan cita rasa rokok-rokok merk terkenal dan sudah menjadi legenda, sebut saja Gudang Garam, Djarum, Dji Sam Soe dan lainnya," kata Daniel.

Ditambahkan Daniel, dalam situasi Covid-19 dan mahalnya harga rokok bercukai, dapat dikatakan pengiritan atau penghematan. Namun dari sisi ekonomi dan gaya hidup, tingwe ternyata tidak hanya disukai para orang tua namun kini menjadi tren bagi anak muda.

"Sedangkan untuk harganya sendiri dari Rp 15 ribu hingga Rp 50 ribu per ons. Saat ini Tembakau Hijau Gayo adalah yang paling laku ketimbang jenis lainnya. Saya bisa memaklumi mengapa jenis tembakau tersebut menjadi yang paling favorit di masyarakat khususnya kalangan anak-anak muda," kata anak terakhir dari dua bersaudara.

Ada yang menarik dari pelanggan Warung Tengwe, selain mencoba hal baru, tingwe dinilai sebagai budaya lokal. Jika di luar negeri ada ‘Canglong’ atau rokok pipa mirip tokok kartun Popeye, di Indonesia juga mempunyai budaya sendiri, yaitu budaya ‘nglinting’ atau rokok lintingan. 

Meskipun demikian, satu hal yang masih menjadi tantangan Daniel, jika mengambil stok langsung dari para petani, apakah tembakau tersebut ilegal karena tidak ada pita cukai? Sedangkan, petani menilai lebih tertarik menjual langsung karena pangsa pasar yang tak seramai sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi gaya hidup bagi anak-anak muda.