Monumen Tugu Kota Malang (Yogi Iqbal/MalangTIMES)
Monumen Tugu Kota Malang (Yogi Iqbal/MalangTIMES)

Teka teki mengenai pucuk monumen tugu Kota Malang banyak dipertanyakan. Terutama berkaitan dengan desas desus yang menyebut jika pucuk monumen tersebut terbuat dari emas. Alhasil, publik banyak bertanya-tanya.

Pemerhati Sejarah Kota Malang sekaligus Kepala Seksi Pengembangan Ekonomi Kreatif Bidang Pemasaran Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kota Malang Raden Agung Harjaya Buana menyampaikan, pucuk monumen tugu yang juga dikenal sebagai monumen kemerdekaan itu memang beberapa kali mengalami pergantian mahkota.

Baca Juga : Perhiasan-Perhiasan Unik, Berbentuk Hansaplast hingga Alat Potong Kuku

 

Pertama adalah mahkota yang dibuat pada saat zaman Belanda. Saat itu, pucuk monumen tugu memiliki lambang logo keluarga Belanda. Hal itu menjadi simbol bahwa Belanda memiliki kekuasaan atas wilayah Malang.

"Dan itu berlangsung sampai masuknya Jepang ke Malang," ucapnya.

Kemudian, saat masa kekuasaan Jepang di Malang, pucuk monumen tak lagi berlogo kerajaan Belanda. Namun berganti gambar orang yang berbentuk seperti arca Braila dengan kepala gundul.

"Dan cukup lama tersematkan selama masa penjajahan Jepang sekitar dua sampai tiga tahun," tambah Agung.

Namun tak lama, peledakan terhadap monumen tugu terjadi. Tepatnya saat Malang bumi hangus. Sehingga sebagai penanda, dipasang semacan arca atau boneka berbentuk orang berkepala gundul.

Lantas pada masa kemerdekaan, perbaikan terhadap monumen tugu dilakukan. Hingga akhirnya monumen tugu diresmikan Bung Karno sebagai bagian penyemangat bangsa Indonesia yang bebas penjajahan.

"Ujungnya dengan model seperti sekarang dan berwarna kuning keemasan dengan ornamen besi yang memberikan efek seperti mercusuar yang memberikan pancaran dan jadi tugu Malang sampai sekarang," tambahnya.

Baca Juga : Kisah Kegagahan Said bin Zaid, Sahabat Rasulullah SAW yang Taklukkan Pasukan Romawi Timur

 

Namun berkaitan dengan kebenaran pucuk monumen yang terbuat dari emas, sampai sekarang masih belum ada bukti sejarah yang kuat. Agung menyebut, rencana membuat monumen yang terbuat dari emas baru terealisasikan saat pembuatan Monumen Nasional (Monas).

"Untuk dipasang emas kami belum ada referensi. Namun mungkin Bung Karno baru merealisasikan saat membuat Monas," jelasnya.