Selama ini kita hanya menganggap daun sebagai barang biasa atau bahkan sampah. Pemanfaatanya pun juga terbatas sebagai bahan pembungkus makanan, seperti daun pisang atau daun jati. Namun tidak di tangan Sri Handayani, warga Desa Mangunsari, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung.
Dedaunan yang tak bernilai ekonomis di tangan Sri Handayani bisa jadi lahan meraup puluhan juta rupiah.
Baca Juga : Gramaphone di Galeri Bangho, Ada yang Berusia Hampir 1 Abad dengan Harga Puluhan Juta
Lantas seperti apakah cara Sri menyulap daun menjadi omzet menggiurkan itu?
Dari penuturan Sri, dedaunan disulap sebagai bahan untuk memberikan corak pada kain, sehingga menimbulkan lukisan alami dari dedaunan. Kain yang diberi corak dengan daun disebut dengan “Eco Print”.
Eco Print menjadi salah satu seni dalam produk kain yang terus diminati oleh masyarakat. Dan Sri pun sudah lama mengenal seni ini, yakni sejak tahun 2015. Namun dirinya baru benar-benar menggelutinya pada pertengahan Januari 2020 lalu.
Awalnya dirinya diajak oleh salah satu temannya untuk membuat kain shibori (batik jepang) dengan sistem celup. Namun saat melihat di media berbagi video, dirinya menemukan seni mewarnai kain dengan bahan alami.
“Saat buka youtube ternyata ada pewarnaan dari alam menggunakan daun. Saya tertarik bahkan sampai ikut work shop online (WSO) dan mendapat PDF seharga Rp 350 ribu,” ucap Sri.
Namun dirinya masih belum mempraktekan ilmu yang didapat dari WSO lantaran bahan untuk eco printing masih sulit dicari. Apalagi dirinya juga belum mengenal eco print, baru sebatas dari youtube. Kemudian dirinya dimasukan dalam grup eco print. Dari grup itu dirinya banyak mendapat ilmu untuk melakukan eco print, dan mulai membeli bahan untuk eco print.
“Awalnya nyoba mahoni, kulit mahoni, Sono dan lainnya,” ujarnya.
Untuk menemukan warna yang tepat, dirinya sering melakukan eksperimen.
Proses pembuatan eco print sendiri cukup rumit, satu kain bisa memakan proses hingga 2 minggu. Awalnya kain warna putih dicuci hingga bersih. Lalu kain direndam dalam larutan tawas dan soda kue yang dilarutkan menggunakan air panas.
Setelah itu dikeringkan, lalu direndam dalam pewarna alami yang sudah disiapkan sejak 2 hari sebelumnya. Kain direndam selama 2 hari lalu dibilas. Selanjutnya kain di gelar dan diberi daun yang sudah di rendam dengan cairan khusus.
Daun tinggal disusun sesuai dengan keinginan pembuat. Setelah itu diberi kain lagi. Terakhir di atas kain diberi plastik. Selanjutnya kain dikukus selama 3 jam agar pola daun tercetak di kain.
“Masing-masing punya karakter sendiri. Minimal 11 model daun,” ujarnya.
Baca Juga : Bikin Salut tapi Juga Keterlaluan, Menikah dengan Mahar Cuma Rp 500 Viral di Medsos
Daun untuk membuat corak biasanya dicari di tempat-tempat umum. Semua daun bisa digunakan namun biasanya daun yang mempunyai warna tajam adalah yang mempunyai getah dan bertekstur kasar
Untuk harga jual, per meter dirinya menjual dengan harga 75 ribu hingga 150 ribu tergantung jenis bahan dan kerumitan proses. Sedangkan pemasarannya mengandalkan teman-teman dan online.
“Sudah kirim ke Sleman, Sampang, Jogja, Bandung dan kota lainya,” ujarnya.
Dari usaha yang digelutinya sejak Januari lalu, dirinya sudah menjual sekitar 50 lembar kain. Atau bila dikalkulasi dengan produk yang sudah dijualnya, Sri sudah meraup puluhan juta rupiah.
Sri juga menjelaskan, kain yang sering digunakan adalah kain katun dan sutera. Untuk memunculkan warna, dirinya bermain di jenis kain dan teknik permainan bahan mordan. Untuk proses mordan, harus ada unsur logam, seperti cooper (tembaga) dan tunjung (besi).
Hasil eco print bersifat eksklusif. Setiap karya yang dibuat tidak mempunyai kesamaan dengan kain lainya. Hal ini pula yang membuat Sri mampu meraup puluhan juta rupiah dari karyanya.