Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (humas)
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (humas)

SURABAYATIMES - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini kembali membuat aksi penuh drama. Itu lantaran kasus covid-19 di Surabaya tak kunjung menurun dan terus tinggi selama tiga bulan lebih ini.

Awalnya, Ketua Pinere RSU dr Soetomo dr Sudarsono menyampaikan perihal overload rumah sakitnya untuk menampung pasien covid-19.  Itu karena masih banyak warga Surabaya yang tidak disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan.

Mendengar keluhan dokter senior tersebut, Risma sontak beranjak dari tempat duduknya melakukan sujud dan meminta maaf. "Saya memang goblok. Saya tak pantas jadi wali kota," ujar Risma di Balai Kota Surabaya, Senin (29/6/2020) saat melakukan audiensi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya dan Jawa Timur seperti dikutip dari Detik.com.

Aksi yang Risma lakukan tersebut diduga akibat dia tertekan. Dua hari sebelumnya, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi)  mengingatkan perihal banyaknya warga di Surabaya yang tak menggunakan masker. Sama halnya juga dengan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto yang menyebut Surabaya kekurangan tenaga medis dan butuh dibantu.

Namun, dua statemen pejabat penting di Indonesia tersebut dimentahkan oleh Risma. Risma berani menolak pernyataan Jokowi perihal banyaknya warga Surabaya tak bermasker dan juga soal kurangnya tenaga medis sehingga dia tak membutuhkan bantuan dokter dan perawat di Surabaya.

Selama ini, di Pemkot Surabaya, selain yang sudah dilakukan Risma, beberapa pejabat lainnya juga terkesan abai dengan adanya kritik. Selain tak menerima masukan beberapa pejabat tersebut, juga sering terlibat selisih faham dengan pejabat di atasnya yang ada di tingkat Pemprov Jatim.

Contohnya yang dilakukan Dinas Kesehatan Surabaya tak lama ini. Dinkes Surabaya belakangan ini sibuk melakukan pembantahan terhadap tingginya data kasus covid-19 Surabaya yang dikeluarkan  Pemprov Jatim.

“Jadi, pernah saya dapat angka 280 confirm dari provinsi. Itu setelah kita teliti ternyata hanya 100. Setelah kami cek lihat (lapangan), ternyata (sisanya) itu bukan orang Surabaya. Sudah ditelusuri oleh puskesmas, orangnya tidak ada di tempat (alamat) itu,” kata Kepala Dinas Kesehatan Surabaya Febria Rachmanita, Rabu (17/06).

Sama halnya Dinas Komunikasi Informatika (Diskominfo) Surabaya yang juga diduga melakukan pembohongan publik. Sebab, lembaga itu menulis korban meninggal PDP (pasien dalam pengawasan) covid-19 hanya tiga orang selama berbulan-bulan. 

Padahal kasus kematian PDP sudah tembus 300 kasus lebih. Dan ini kemudian direvisi oleh Diskominfo setelah ramai di media sosial dan diangkat oleh jurnalis senior Ahmad Arif yang mendapat data dari Kementrian Kesehatan secara langsung.