Ilustrasi kekeringan. ©2012 Shutterstock/Leigh Prather
Ilustrasi kekeringan. ©2012 Shutterstock/Leigh Prather

Sebagian wilayah di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Wilayah Jawa Timur sendiri diprediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika  (BMKG) akan memiliki ketersediaan air tanah untuk tanaman dengan kapasitas cukup.

Dalam prakiraan curah hujan, wilayah Jawa Timur pada umumnya dalam kondisi basah. Sehingga cukup menjadikan tanah dalam kondisi kapasitas lapang atau cukup.

Baca Juga : Mudah Rusak, DLH Kota Malang Beli Lagi Tong Sampah Dorong Baru

Meski begitu, BMKG memprediksi ketersediaan air tanah di beberapa wilayah lain akan dalam kapasitas sedang. Sebagian kecil wilayah Malang diprediksi memiliki ketersediaan air dalam kapasitas sedang selama musim kemarau, tepatnya pada bulan Juli.

Kondisi tersebut juga diperkirakan masih akan berlanjut hingga Agustus mendatang. Di daerah Malang Raya yang meliputi Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten Malang, telah terjadi pengurangan air tanah. Diperkirakan, tingkat ketersediaan air tanah di bawah 60 persen.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal menyampaikan, sebagian besar Jawa Timur telah mengalami hari tanpa hujan berturut-turut (deret hari kering) berkisar antara 20 hingga 60 hari.

Umumnya, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia pada pertengahan Juni 2020 berada pada kriteria rendah, yaitu 0 hingga 50 mm per-dasarian.

Prediksi curah hujan pada akhir Juni hingga pertengahan Juli 2020 umumnya akan berada pada kisaran kriteria rendah (0-50 mm/dasarian) hingga menengah (50-150 mm/dasarian) di sebagian besar wilayah. Sedangkan Jawa Timur sendiri diprediksi akan memiliki potensi curah hujan rendah.

Dari berbagai macam monitoring yang dilakukan, diperkirakan  musim kemarau di sebagian wilayah Indonesia cenderung basah. Meski begitu, masih perlu tetap diwaspadai potensi kekeringan di 30 persen wilayah zona musim (zom). Termasuk salah satunya sebagian wilayah Jawa Timur. "Kondisi cuaca dan ancaman jangka pendek tetap harus menjadi perhatian masyarakat," katanya.

Herizal pun mengingatkan adanya potensi perkembangan nyamuk pembawa penyakit demam berdarah untuk beberapa daerah yang masih mendapatkan curah hujan tinggi.

Baca Juga : Hutan Kota dan Jalur Hijau Kota Malang Bakal Dihiasi Tong Sampah Baru

Sedangkan daerah-daerah yang telah memasuki musim kemarau dengan deret hari kering cukup panjang serta diprediksi dalam dua hingga empat bulan ke depan menerima hujan dengan intensitas rendah, perlu melakukan langkah mitigasi. Antara lain dengan budi daya pertanian yang tidak mebutuhkan banyak air, melakukan gerakan hemat penggunaan air bersih, serta mewaspadai kebakaran hutan, lahan dan semak.

"Analisis BMKG hingga 20 Juni 2020 menunjukkan bahwa 51,2 persen wilayah Indonesia telah mengalami musim kemarau. Sedangkan sisanya masih mengalami musim hujan," terangnya.

Sebagai informasi, wilayah yang telah memasuki musim kemarau meliputi pesisir timur Aceh, bagian barat Sumatera Utara, pantai timur Riau -Jambi, pesisir utara Banten, Jawa Barat bagian utara, Jawa Tengah bagian utara dan timur, sebagian besar Jawa Timur, sebagian Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat bagian selatan, Pesisir selatan Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara bagian utara, Pulau Buru dan Papua Barat bagian timur. Musim kemarau ditandai oleh berkurangnya hari hujan dan rendahnya jumlah curah hujan yang terukur di permukaan.