Terhitung belum sepekan pencabutan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di Surabaya, ada dua tenaga medis yang menjadi korban. Mereka tertular penyakit Covid-19 hingga kemudian terpaksa harus kehilangan nyawa.
PSBB Surabaya sendiri resmi diakhiri pada Selasa (9/6).
Sebelumnya PSBB di Kota Surabaya berlarut hingga tiga jilid atau enam pekan. Namun, hasilnya belum begitu ampuh menekan penambahan angka pasien Covid-19.
Terakhir jumlah warga yang positif di Surabaya tercatat ada 3.832 kasus. Dengan pasien sembuh tercatat 1.188 orang dan korban meninggal 317 orang pada Jum'at (12/6) malam.
Dari ratusan korban meninggal tersebut belum sepekan ini ada dua tenaga medis yang menjadi korban. Mereka tertular penyakit Covid-19 hingga kemudian terpaksa harus kehilangan nyawa.
Yang pertama pada Rabu (10/6) korban meninggal adalah dokter Miftah Fawzy Sarengat. Dalam keseharian dia bertugas di Rumah Sakit Dokter Soetomo, Surabaya.
Sebelum meninggal dokter yang bertugas di ruang IGD ini sempat dirawat selama lima hari di ruang isolasi RSUD Dokter Soetomo. Sehari-hari dokter yang tengah menempuh pendidikan spesial penyakit dalam ini bertugas di ruang IGD RSUD Dokter Soetomo Surabaya.
Tak berselang lama dua hari kemudian atau tepatnya pada Jum'at (12/6) seorang bidan atas nama Uut Trisnawati juga menghembuskan nafas terakhirnya. Korban meninggal setelah dirawat 5 hari di Rumah Sakit Husada Utama.
Terakhir Uut diketahui berdinas atau membantu rumah sakit darurat Covid-19 di Asrama Haji. Walaupun status aslinya merupakan bidan dari puskesmas.
Dengan adanya dua tenaga medis yang menjadi korban di masa transisi New Normal Life ini membuat tenaga medis lain yang sedang bertugas juga mengaku mulai khawatir saat ini. "Pada saat PSBB saja pasien Covid-19 sedemikian banyaknya, apalagi ketika PSBB dibuka. Kami khawatir jumlah pasien tidak terkontrol jumlahnya nanti," terangnya tanpa mau disebutkan nama.
Apalagi menurut dia tenaga medis jadi garda terdepan dalam penanganan Covid-19 saat ini. "Kami juga kadang sampai kecapekan, apalagi kalau sudah pakai APD (alat perlindungan diri) lengkap. Bernafas itu agak kesusahan," imbuhnya.
Kota Surabaya telah resmi menerapkan masa transisi New Normal Life saat ini. Meskipun dengan beberapa catatan. Setelah sebelumnya upaya PSBB hingga enam pekan lamanya tidak membuahkan hasil yang begitu menggembirakan.
Salah satunya persoalan attack rate atau tingkat serangan Covid-19 di Kota Pahlawan yang masih tinggi. Berdasarkan data epidemologi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur, dengan jumlah penduduk lebih dari 3 juta jiwa, attack rate Covid-19 di Kota Pahlawan mencapai 107,6.
"Artinya, setiap 100.000 populasi warga Surabaya, 107 di antaranya positif Covid-19," jelas Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur, dr Joni Wahyuhadi di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Rabu (10/6/2020) malam.
Attack rate Covid-19 di Surabaya ini lebih tinggi dibanding misalkan Ibu Kota DKI Jakarta yang di bawah 100. Dan juga jauh melampaui Provinsi Jawa Timur dengan populasi penduduk 39 juta.
Attack rate di Jawa Timur sebesar 14,57. Artinya, setiap 100.000 populasi penduduk Jawa Timur, 15 orang di antaranya positif Covid-19.
Sebelum masuk ke masa New Normal ini Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini diharuskan meneken Pakta Integritas tentang komitment bersama pencegahan dan penanggulangan Covid-19.
Penandatanganan tersebut dilakukan di Gedung Negara Grahadi, Kamis (11/6) pagi. Dengan disaksikan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Widodo Irsyansyah dan Kapolda Jatim Irjen Pol Fadil Imran.
Menurut Risma kondisi yang ada saat ini tidak mudah. "Terpaksa harus kita lakukan mengingat beberapa warga kami harus melaksanakan, melanjutkan kehidupan mereka untuk mencari nafkah," jelasnya soal alasan menolak PSBB dilanjutkan di Surabaya.