Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

Dalam berbagai hadis sahih yang diriwayatkan, disebutkan bahwa ada 10 sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga. Hal itu karena keutamaan dari masing-masing sahabat yang berjuang bersama Rasulullah SAW dalam menegakkan ajaran Islam di masa awal perjuangannya.

Dari 10 nama yang disebut sebagaimana telah diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Auf dari Nabi Muhammad, salah satu sahabat yang dijamin masuk surga adalah Amir bin Abdullah bin Jarrah Al-Fihry Al-Quraiys atau yang lebih dikenal sebagai Abu Ubaidah bin Jarrah.

Abu Ubaidah dikenal sebagai sosok yang sangat amanah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim,  Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya setiap umat memiliki amin (orang yang paling amanah/kepercayaan), dan amin umat ini adalah Abu Ubaidah."

Secara fisik, Abu Ubaidah digambarkan cukup menarik dengan tinggi semampai dan wajah terlihat berseri. Tutur katanya lemah lembut. Namun saat ada momentum ketegasan dan keberanian, maka Abu Ubaidah dikenal sebagai sosok yang tak bisa menawar.

Abu Ubaidah juga dikenal sebagai generasi pertama dan banyak merasakan tindasan dan lain sebagainya selama perjuangan Islam. Abu Ubaidah masuk Islam melalui perantara Abu Bakar Ash-Shiddiq. Abu Ubaidah juga dikenal sebagai sosok yang selalu berada di sisi Rasulullah dalam setiap peperangan yang dijalankan umat muslim.

Tanpa kecuali di Perang Badar. Saat itu, Ubaidah bin Jarrah tak pernah takut melawan musuh. Bahkan ia berhasil masuk ke barisan musuh dan memorak-porandakan tatanan musuh. Hingga akhirnya ia dikepung oleh musuh dan berhasil menebas kepala musuhnya yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri, yaitu Abdullah bin Jarrah.

Namun hadis yang meriwayatkan bahwa Ubaidah telah menebas kepala ayahnya itu banyak mendapat kritikan dari para kririkus hadis yang menyebutkan riwayat itu lemah. Beberapa hadis menyebut  ayah Abu Ubaidah tak sempat bertemu dengan Rasulullah SAW atau meninggal sebelum Rasulullah SAW menyampaikan dakwah Islam ke orang Quraisy.

Abu Ubaidah dikisahkan  wafat lantaran terkena penyakit menular yang mewabah di Syam (Suriah sekarang). Ketika itu, Ubaidah menjabat sebagai gubernur Syam.

Saat itu, terjadi serangan wabah penyakit menular pada masa Khulafaur Rasyidin Umar bin Khattab.  Dikisahkan, Umar bin Khattab saat itu hendak mengunjungi Negeri Syam yang dimimpin Abu Ubaidah. Namun sebelum sampai di Negeri Syam, Abu Ubaidah menyampaikan kabar bahwa Syam tengah dilanda wabah penyakit menular.

Maka saat itu, sebagian tokoh senior meminta agar Umar kembali ke Madinah dan tak melanjutkan perjalanannya. Sebagian lagi meminta agar Umar melanjutkan perjalanan.

Lantaran permintaan paling banyak adalah meminta agar Umar kembali ke Madinah, maka Umar pun menyetujuinya dan mengajak serta Abu Ubaidah kembali ke Madinah. Ajakan itu ditolak oleh Ubaidah dan ia memilih tetap tinggal di Negeri Syam.

Umar yang sepakat dan kembali ke Madinah berkata, "Aku akan berangkat besok pagi (ke Madinah) mengendarai tungganganku, maka kalian pun berangkat besok pagi mengendarai tunggangan kalian."

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah tak sepakat dengan keputusan Umar dan menjawab, "Apakah Engkau ingin lari dari takdir wahai Amirul Mukminin?"

"Ya, kita akan lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lainnya," jawab Umar bin Khattab.

Saat itu, Umar bin Khattab juga menyampaikan persis seperti yang disampaikan Rasulullah: "Apabila kalian mendengar ada suatu wabah di suatu daerah, maka janganlah kalian mendatanginya. Sebaliknya kalau wabah tersebut berjangkit di suatu daerah sedangkan kalian berada di sana, maka janganlah kalian keluar melarikan diri darinya."

Namun pada akhirnya, Abu Ubaidah memilih untuk tetap tinggal di Negeri Syam. Menjelang wafatnya, ia berwasiat kepada seluruh prajuritnya untuk senantiasa melaksanakan ajaran Islam sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah SAW.

Wasiat yang disampaikan itu adalah: "Aku berwasiat kepada kalian. Jika wasiat ini kalian terima dan laksanakan, kalian tidak akan sesat dari jalan yang baik, dan senantiasa dalam keadaan bahagia. Tetaplah kalian menegakkan salat, berpuasa Ramadan, membayar zakat, dan menunaikan haji dan umrah. Hendaklah kalian saling menasihati sesama kalian, nasihati pemerintah kalian, dan jangan biarkan mereka tersesat. Dan janganlah kalian tergoda oleh dunia. Walaupun seseorang berusia panjang hingga seribu tahun, dia pasti akan menjumpai kematian seperti yang kalian saksikan ini."

Sebelum wafat, Ubaidah  pun menunjuk Mu'adz bin Jabal sebagai penggantinya dengan mengatakan, "Wahai Muadz, sekarang kau yang menjadi imam (panglima)."

 Setelah itu, Abu Ubaidah mengembuskan napas terakhirnya. Sama seberti Abu Ubaidah, Muadz pun wafat lantaran serangan wabah menular yang sama.

Wabah penyakit di Syam baru mereda setelah Amr bin Ash menjabat gubernur. Saat ktu, Amr bin Ash mencoba menganalisis penyebab munculnya wabah dan kemudian melakukan isolasi dengan cara memisahkan orang yang sakit dan sehat. Pada akhirnya, wabah penyakit di Syam pun perlahan-lahan mulai hilang.