free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Profil

Kyai Umar Said Kuningan Blitar, Guru Ngaji Sekaligus Pengasuh KH Hasyim Asy'ari Sewaktu Kecil

Penulis : Malik Naharul - Editor : Heryanto

12 - Feb - 2020, 03:39

Loading Placeholder
Seorang santri berdoa di Makam Kyai Umar Said.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)

Berbicara perkembangan Islam di Nusantara tentu tidak lepas dari peran para ulama besar seperti Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Dibalik kiprahnya tentu tidak lepas dari sosok guru yang mencetak beliau hingga menjadi seorang ulama besar. 

Salah satu guru yang berjasa mendidik beliau yakni Kyai Umar Sa'id dari Pondok Pesantren Nurul Huda Kuningan Kidul, Blitar. 

Beliau adalah guru ngaji Al-Qur'an dari KH Hasyim Asy'ari sewaktu kecil.

"Mbah Kyai Umar Sa'id atau yang kita kenal Mbah Kyai Sa'id yang dimakamkan disini, menurut Kyai Hisyam Mansur Kalipucung adalah guru ngaji Al-Qur'an dari Hadratussyech KH Hasyim Asy'ari," ungkap Haikal Asfari, juru kunci Wisata Religi Makam Auliya Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansyur di Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar saat ditemui BLITARTIMES pada, Senin (10/2/2020).

Menurutnya, Kyai Said merupakan salah satu tokoh ulama yang dimakamkan di komplek Wisata Religi Makam Auliya Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansyur Pondok Pesantren Nurul Huda Kuningan Kidul Blitar.

Semasa hidupnya, Kyai Sa'id dikenal sebagai tokoh yang alim dan zuhud. Beliau lahir di Begelenan, Purworejo Jawa Tengah sekitar tahun 1850-an. 

Beliau lahir di lingkungan santri yang tercatat menjadi basis pasukan Pangeran Diponegoro saat melawan kompeni Belanda. 

Di lingkungan tersebut, Sa'id kecil belajar berbagai ilmu agama, termasuk membaca Alquran.

Tidak hanya sebatas itu, semasa mudanya beliau kemudian menimba ilmu di beberapa ulama besar seperti, Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansur Pondok Kuningan Kidul Blitar dan Juga Kyai Asy'ari Tebu Ireng Jombang.

Singkat cerita beliau pertama kali mondok di Kuningan Kidul berguru pada Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansur. 

Beliau menghabiskan masa mudanya untuk belajar ilmu agama dan modok ikut dalem atau mengabdi di kediaman Kyai Abu Hasan.

Merasa kurang cukup, kemudian beliau kemudian berguru pada Kyai Asy'ari Tebu Ireng Jombang. Disana beliau juga mondok ikut di dalem atau mengabdi di kediaman Kyai Asy'ari.

Berkat pembawaannya yang baik dan santun dalam belajar ilmu agama, Kyai Sa'id kemudian dipercaya oleh Kyai Asy'ari untuk menjaga serta mengasuh putranya yakni Hasyim Asy'ari.

Di situlah awal mula perjumpaan Kyai Said dengan Hasyim Asy'ari kecil.

"Karena Hasyim Asy'ari yang saat itu masih berusia balita sangat dekat dengan Kyai Sa'id, kemudian Kyai Asy'ari mempercayakan pendidikan Al-Qur'an untuk putranya tersebut pada Kyai Sa'id, keterangan tersebut dari Kyai Hisyam Masur Kalipucung," jelas Haikal Asfari.

Dengan tlaten Kyai Sa'id mengenalkan Hasyim Asy'ari kecil cara membaca huruf-huruf hijaiyah dan lafad Al-Qur'an. Hingga Hasyim Asy'ari kecil bisa membaca Al-Qur'an, dan Kyai Said merasa sudah cukup menimba ilmu pada Kyai Asy'ari kemudia beliau kembali ke Pondok Pesantren Nurul Huda Kuningan Kidul.

Di Pondok Kuningan Kidul kemudian beliau membantu Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansur untuk mengelola Pondok Pesantren.

Berkat kealiman dan kezuhudannya, kemudian Kyai Zaid diangkat anak oleh Syekh Abu Hasan. Beliau menikah dengan seorang janda bernama Mbah Nyai Sarah. 

Beliau kemudian diberi sebidang tanah pekarangan oleh Kyai Abu Hasan kemudian ditukar gulingkan di sebelah selatan Kuniangan dan menetap di Kuningan hingga akhir hayatnya.

"Untuk nasab ke atasnya kita kurang tau. Kyai Sa'id menetap di Kuningan hingga akhir hayat dan di makamkan di komplek Wisata Religi Makam Auliya Syekh Abu Hasan dan Syekh Abu Mansyur Pondok Nurul Huda, Kuningan Kidul, Blitar. Salah satu cerita tentang karomah Kyai Zaid pada zaman kemerdekaan rumah Mbah Kyai Said menjadi tempat pengungsian dan persembunyian para pejuang kemerdekaan terhadap kejaran Belanda,  Atas kezuhudan Mbah Kyai Said rumahnya pun dipercaya kebal terhadap serangan bom dan peluru pasukan Belanda," tuturnya.

Perlu diketahui, Pondok Pesantren Nurul Huda merupakan pondok pesantren tertua di Blitar. Pondok ini didirikan Syekh Abu Hasan sekitar tahun 1820.an Seiring bertambahnya tahun, pondok Kuningan kian berkembang.

Di masa lalu menurut cerita, banyak tokoh-tokoh besar yang belajar di pondok ini. Salah satunya Wachid Hasyim, mantan Menteri Pendidikan RI dan ayah dari Presiden RI ke 4 KH Aburachman Wahid (Gus Dur).

Puncak kejayaan pondok ini terjadi pada masa penjajahan Jepang. Selain santrinya banyak, pada masa itu santri Ponpes Nurul Huda banyak yang ikut terlibat dalam perang kemerdekaan.

Di samping itu, cucu Syekh Abu Hasan yakni Kyai Mansyur dari Kalipucung dikenal sebagai tokoh yang mengijazahi bambu runcing perang 10 November di Surabaya.

“Di jaman Jepang, banyak santri pondok ini yang ikut perang dan mati syahid. Di waktu itu juga, pondok ini sering digunakan untuk latihan perang, jejaknya pun masih ada. Kadang orang gali gali di sekitar pondok ini nemu senjata laras panjang, granat dan mortir," paparnya.

Meski kini santri di pondok ini tidak banyak, hanya 10 hingga 30 orang, namun Pondok Pesantren Nurul Huda memegang peran penting penyebaran agama Islam di Blitar. 

Selain melahirkan ulama-ulama besar, nyaris seluruh Pondok Pesantren lain yang ada di Blitar didirikan oleh keturunan dari Syekh Abu Hasan.

“Keturunan Mbah Abu Hasan banyak yang kemudian mendirikan pondok pesantren. Tak hanya di Blitar, keturunannya ada yang mendirikan ponpes di Kediri, Malang, hingga Surabaya. Salah satunya Kyai Adib dari Kepanjen mendirikan Ponpes Al Fitroh itu juga keturunan Mbah Abu Hasan,” ucap Haikal.

Syaikh Abu Hasan wafat sekitar tahun 1899 Jazatnya kemudian disemayamkan di barat Masjid Ponpes Nurul Huda. Ia disemayamkan berdampingan dengan istri, anaknya Abu Mansyur dan menantunya. 

Hingga kini makamnya menjadi wisata religi dan banyak dikunjungi peziarah, baik tokoh maupun para santri dari berbagai daerah.

"Tokoh sekelas KH Aburachman Wahid (Gus Dur) Presiden RI ke 4, tercatat pernah berziarah kesini beliau dawuh 'salah satu guru Mbah Hasyim Asyari (Kyai Sa'id) dimakamkan disini," tandasnya.(*)


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Malik Naharul

Editor

Heryanto

--- Iklan Sponsor ---