Hama ulat jenis baru menyerang sejumlah perkebunan jagung di Kabupaten Tulungagung. Hama bernama Fall Armyworm (FAW) atau ulat tentara itu mirip ulat grayak, namun dengan garis lateral (garis pada tubuh) yang lebih jelas.
Ulat dengan nama ilmiah Spidoptera frugiperda ini sudah menyebar di seluruh kabupaten Tulungagung, namun masih dalam skala kecil.
Akibat serangan ulat itu, tanaman jagung menjadi rusak lantaran ulat menyerang pangkal tumbuh daun.
"Itu (ulat) menyerang titik tumbuh pangkal bagian atas tanaman," ujar Koordinator POPT Dinas Pertanian Tulungagung, Gatot Rahayu.
Serangan ulat yang diketahui berasal dari Amerika itu, baru terjadi tahun ini. Tahun sebelumnya belum pernah ditemukan serangan ulat jenis ini di Kabupaten Tulungagung.
Laporan serangan Ulat itu sebenarnya sudah dilaporkan oleh petani pada awal Maret lalu.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh dinas pertanian untuk meminimalisir dampak dari serangan Ulat itu. Termasuk dengan memerintahkan petani untuk menanam jagung secara serempak dan mengondisikan ekosistem yang bagus.
Namun upaya itu terkendala dengan banyaknya lahan yang bukan milik pribadi atau sewa, sehingga petani hanya berfikir untuk mencari keuntungan dari tanamannya tanpa melihat dampaknya.
Salah satu contohnya sebelum panen, bagian bawah tanaman sudah ditanami bibit baru, sehingga setelah panen, tanaman baru sudah tumbuh.
"Itu sebenarnya bagus, tapi kalau di situ potensi hama, justru menguntungkan hama," terang pria paruh baya itu.
Wilayah Tulungagung yang sudah diserang oleh ulat ini secara masiv berada di Kecamatan Kalidawir dan Rejotangan. 3 kecamatan lainya seperti Ngunut, Pakel dan Bandung meski terserang namun belum begitu parah.
"Dari 5 kecamatan sekitar 5,48 hektar," ujarnya.
Secara kasat mata ulat ini tampak di daun jagung. Daun yang diserang oleh ulat ini akan robek-robek. Lantaran menyerang daun, pihaknya akan menggunakan varietas jagung lainnya yang berdaun lebih kaku.
Setelah mengalami pupa atau melompong, ulat ini nantinya akan berubah menjadi ngengat berwarna coklat.
Ulat ini mempunyai musuh alami seperti burung kutilang sebagai predator atau menggunakan mikroba seperti lekanisium dan metarisium.
"Itu (mikro organisme) penyakit yang bisa untuk membasmi hama," pungkasnya.
Dilansir dari berbagai sumber, ulat ini telah mewabah dari Benua Amerika pada tahun 2016, masuk ke Benua Afrika dan menyebar di wilayah Asia hingga kini sudah masuk ke Indonesia.
FAW atau Spidoptera frugiperda merupakan salah satu jenis ulat grayak yang mempunyai jelajah tinggi. Bahkan imago-nya bisa terbang jauh, bahkan jika terbawa angin bisa mencapai 100 km.
Ulat ini juga mampu beradaptasi terhadap cuaca yang dingin dan reproduksinya yang cukup tinggi.
Patut diwaspadai juga ledakan populasi hama ini terhadap pada awal musim hujan, terutama pada saat masa awal musim tanam. Apalagi jika sebelumnya terjadi musim kemarau panjang seperti saat ini.