Sejarawan Universitas Negeri Malang Dwi Cahyono (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

Sejarawan Universitas Negeri Malang Dwi Cahyono (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).



Banyaknya penemuan arkeologi terbaru di Indonesia selama 10 tahun terakhir masih belum banyak diketahui masyarakat, terutama siswa sekolah. Para sejarawan yang pun melihat bahwa hasil-hasil temuan selama ini tak banyak berpengaruh pada dunia pendidikan. 

Hal tersebut karena tidak ada upaya mengupdate materi-materi ilmu sejarah untuk pembelajaran. Sehingga, teori yang digunakan dalam bahan ajar masih teori lawas, dan cenderung jalan di tempat.

Sejarawan Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono menilai, selama 10 tahun terakhir, ada begitu banyak temuan kuno. Baik berupa artefak seperti keramik dan koin, hingga bangunan penting seperti candi, petirtaan, serta pemukiman kuno.

"Dan temuan itu begitu banyak ditemukan di berbagai daerah, terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur," katanya saat ditemui belum lama ini.

Menurutnya, tingkat kecepatan pembenahan bahan ajar dan temuan di lapangan sangat tidak sejajar. Padahal, hasil telaah yang diperoleh para peneliti dan sejarawan terhadap temuan yang ada semestinya menjadi konsep atau teori baru.

"Kalau toh nggak bisa terperinci tidak masalah. Sederhana saja, paling penting update," imbuh dia.

Dinamika temuan yang dilakukan berbagai lembaga dan perguruan tinggi selama ini selalu diiringi dengan perbaikan atas beberapa buku babon sejarah. Dia pun mencontohkan buku Sejarah Nasional Indonesia yang sudah mengalami perbaikan dari tahun ke tahun.

Namun sayangnya, hal itu tidak terjadi pada sekolah tingkat menengah dan atas. Kondisi yang ada sekarang, buku paket yang digunakan masih menggunakan teori lama yang semestinya sudah diperbarui seiring dengan temuan teori baru.

"Gurunya pasti belajar teori baru, kemungkinan siswanya juga. Tapi buku paket tetap mengolah bahan lama. Guru pasti juga susah menyampaikan. Karena yang dijadikan bahan ujian ya yang ada di buku paket," terang dia lagi.

Dia menegaskan, buku paket sejarah semestinya harus akurat meski hanya sederhana saja. Sehingga, tidak mewariskan pengetahuan palsu kepada anak didik. Itu sebabnya, penemuan baru semestinya menjadi teori dan konsep anyar untuk dapat dipelajari.

"Agar temuan tak hanya ramai di awal dan jadi objek wisata saja. Tapi juga untuk edukasi. Itu juga pentingnya sejarah lokal untuk muatan pendidikan sejarah," tegas dosen Sejarah UM tersebut. 

 


End of content

No more pages to load