Deretan Barang antik yang berjejer rapi di Galeri Bangho (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

Deretan Barang antik yang berjejer rapi di Galeri Bangho (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)



Kota Malang merupakan salah satu kota yang menyimpan banyak sejarah. Hal itu ditunjukkan dengan banyaknya benda-benda antik bersejarah yang banyak dimiliki oleh para kolektor. Para penjual maupun kolektor barang antik di Kota Malang juga cukup banyak. Di kawasan Pasar Comboran Kota dan juga di beberapa tempat di kawasan Kota Malang.

Barang antik memang menjadi salah satu komoditi yang banyak dicari oleh masyarakat atau para kolektor barang antik. Nilai filosofis dan bentuk yang artistik jadul memiliki daya tarik tersendiri, hingga membuat harganya lumayan melambung tinggi beberapa dekade terakhir.

Namun memasuki akhir September 2018 hingga 2019, saat ini, dengan perkembangan pasar bebas maupun kemajuan dari berbagai sektor, seperti teknologi, penjualan barang antik, khususnya di Kota Malang, justru mengalami kelesuan. Hal itu dibenarkan oleh salah satu pedagang dan kolektor barang antik Muhammad Cholil.

"Saat ini, jual beli barang antik sangat lesu, sangat sepi, tidak seperti dulu lagi. Sekarang sebulan saja belum tentu mesti kirim barang," ungkap pemilik Galeri Bangho yang berada di Jalan Ir Rais gang 14, Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang ini.

Hal ini berbanding jauh jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, seperti 2018, 2017 hingga 2016 ke belakang. Beberapa tahun lalu menjadi kejayaan penjualan barang antik. Penjualannya cukup tinggi.

"Tahun-tahun dulu, saya bisa kirim barang antik seperti radio, gramaphone dan beberapa jenis lainnya hingga 30 lebih barang antik ke berbagai daerah. Paling sepi bisa kirim 10 barang antik dalam sebulan," jelasnya.

Menurutnya, kelesuan terjadi karena kondisi faktor ekonomi di Indonesia dan juga karena adanya kenaikan harga dollar yang saat ini lumayan cukup tinggi. Selain itu kelesuan juga disebabkan faktor ketersedian jenis barang antik tertentu yang memang sudah langka.

"Namun saat ini masih ada angin segar, Oktober ini sudah mulai merangkak naik. Mulai banyak pesanan, seperti radio, gramaphone maupun seperti barang antik yang berbahan dari kuningan," papar pria yang memiliki koleksi ratusan radio tabung berbagai merek serta gramaphone dan Phonograp tersebut.

Melihat kelesuan itu, dimana tentunya banyak penjual barang antik di Kota Malang terkena dampaknya secara ekonomi, pihaknya berharap, agar Pemerintah Kota (Pemkot)  bisa mengupayakan sesuatu hal yang bisa tetap menjaga eksistensi penjual barang antik.

"Ya bisa saja, mungkin dengan membuat pasar khusus barang antik di Kota Malang, kan nantinya itu juga bisa mengundang para wisatawan maupun peminat barang antik. Dari situ akan ada simbiosis mutualisme baik dari pedagang barang antik, kolektor hingga wisatawan yang termanjakan dengan hiburan barang antik, hingga kemudian membeli barang antik," harap dia.

Sementara itu, dari pantauan di Galery Bangho, deretan barang anti tampak tertata rapi mulai dari radio tabung keluaran tahun 1945 hingga 1962. Selain itu, deretan radio transistor era tahun 70 pun tertata rapi di deretan rak. 

Beberapa jenis radio tabung itu, di antaranya, radio Siegfried keluaran Jerman, Philips made in Holland, Grundig, Telefunken, Bence, Erres, Galindra, radio Tengkorak maupun merk Ralin tampak berjejer rapi. Di samping itu, pada sudut kiri tepatnya di atas radio Turntable tampak Gramphon koper dengan body full lukisan keluaran Prancis tahun 1927 juga terlihat menarik.

"Gramaphone dan radio hampir semuanya masih berfungsi. Semoga dengan bangkitnya dan konsentrasinya Pemkot dalam menjaga kawasan heritage di Kota Malang, yang  beberapa waktu lalu dilaunching oleh Wali Kota, akan menggairahkan penggemar barang antik," pungkasnya.

Tag's Berita

End of content

No more pages to load