Seminar “Pertanian Berkelanjutan, Emisi Karbon Rendah dan Ko-Investasi Sumber Daya Air di DAS Rejoso”.

Seminar “Pertanian Berkelanjutan, Emisi Karbon Rendah dan Ko-Investasi Sumber Daya Air di DAS Rejoso”.



Para petani di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Rejoso, Kabupaten Pasuruan, menjadi motor penggerak pelestarian lingkungan di pesisir pantai utara Jatim. Bersama World Agroforestry (ICRAF), secara resmi dicanangkan kelanjutan Gerakan Rejoso Kita 2019 yang memfokuskan pada pelestarian di kawasan hilir DAS Rejoso.

Gerakan Rejoso Kita merupakan kolaborasi multipihak yang berupaya melestarikan DAS Rejoso. Gerakan ini diimplementasikan melalui kegiatan percontohan berbasis penelitian seperti konservasi lahan, penanaman pohon dengan sistem agroforestri, dan pertanian berkelanjutan.

"Bulan Oktober ini kami akan mulai percontohan penanaman padi sistem ramah lingkungan. Di antaranya dengan pola tanam jajar legowo seluas 0.5 hektare di Desa Keboncandi dan Wonosari. Setelah percontohan ini selesai, petani akan melakukan penanaman sistem jajar legowo secara serentak di areal seluas 30 hektare," kata Dr Ni'matul Khasanah, koordinator program dari ICRAF pada seminar “Pertanian Berkelanjutan, Emisi Karbon Rendah dan Ko-Investasi Sumber Daya Air di DAS Rejoso”.

Dijelaskan, kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan 2019 ini merupakan kelanjutan dari Gerakan Rejoso Kita 2016-2018. Gerakan tersebut telah berhasil membangun percontohan skema pembayaran jasa lingkungan. Dari skema itu, petani mendapatkan insentif finansial atas upaya konservasi tanah serta penanaman pohon di lahan milik masing-masing.

“Sebanyak 174 petani pemilik 106.6 hektare lahan di 7 desa di bagian hulu dan tengah DAS Rejoso bergabung dalam skema tersebut. Gerakan Rejoso Kita juga berhasil memfasilitasi pembentukan Forum Peduli DAS Rejoso (FPDR) yang akan mengoordinasikan upaya-upaya pelestarian DAS Rejoso,” katanya.

Bila tahun 2016-2018 lalu Gerakan Rejoso Kita menitikberatkan pada pengelolaan wilayah hulu dan tengah, pada tahun 2019 ini akan berfokus di wilayah hilir DAS Rejoso. Yaitu di Kecamatan Winongan dan Gondang Wetan.

Kegiatan lain yang akan dilakukan Gerakan Rejoso Kita 2019 adalah mewujudkan efisiensi pemanfaatan air sumur bor. Di antaranya dengan sosialisasi prosedur perizinan pembuatan sumur bor serta pengenalan teknologi pembuatan sumur bor yang benar.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Kabupaten Pasuruan Soeharto menyatakan, anugerah air berlimpah di DAS Rejoso tidak akan selamanya dapat dinikmati  masyarakat. Karena itu, bila tidak bijak dalam memanfaatkan, maka anak cucu di masa mendatang yang akan menanggung akibatnya.

“Alhamdulillah sekarang kita mendapat dukungan dari Gerakan Rejoso Kita untuk melestarikan sumber daya air dan menjaga ketahanan pangan. Kami berharap Gerakan Rejoso Kita dapat menjadi contoh, memberi format dan solusi, yang harus dilakukan warga Kabupaten Pasuruan,” kata Soeharto.


End of content

No more pages to load