Dalam mewujudkan lingkungan yang terbuka atau inklusif, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Edellweis dan Lembaga Pelatihan dan Konsultasi Inovasi Pendidikan (LPKIPI) mengadakan seminar Pendidikan Inklusi.
Acara yang di selenggarakan pada tanggal 24 Agustus di aula Kihajar Dewantara Dinas pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso ini berjalan dengan lancar dengan mengikutsertakan aktivis kampus, guru sekolah Inklusi, warga dan Dinas terkait.
Murti Jasmani. SH selaku Direktur LSM Edellweis menyampaikan bahwa seminar ini merupakan bentuk lain dari sosialisasi kepada masyarakat tentang pengertian inklusi serta salahsatu langkah untuk mewujudkan lingkungan inklusi karena menurutnya inklusi itu tidak ansih hanya dalam lingkup pendidikan melainkan lingkungan, sarana dan prasarana dan seterusnya.
Selain itu dia juga menambahkan bahwa targetnya kedepan ialah adanya Peraturan Daerah (PERDA) yang mengatur tentang pendidikan inklusi di Bondowoso serta adanya sinergitas antara semua OPD Kabupaten Bondowoso dalam mewujudkan sekolah dan lingkungan inklusi.
Seperti Badan Kepegawaian daerah agar menyediakan tenaga pengajarnya, Pekerjaan Umum (PU) menyediakan Sarana fan lrasarana, DPRD membuat regulasi anggaran dan seterusnya, Imbuhnya.
Sedangkan Ahmad Ismail selaku pemateri seminar menyampaikan pentingnya pendidikan inklusi untuk anak.
Menurutnya sekolah untu para Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Bondowoso masih berjalan stagnan sejak 2013 samlai hari ini masih belum banyak sekolah yang menawarkan Sekolah inklusi.
Ke depan penggiat Sekolah Inklusi ini menargetkan Sekolah Inklusi ada dimana-mana.
"Sebenarnya Sekolah Inklusi dan Sekolah Luar Biasa (SLB) Konsepnya berbeda. Jika SLB menjadikan satu ruangan semua anak yang terdiagnosa down sindrom (ABK).
Sedangkan inklusi ialah gabungan dari ABK dengan anak yang tidak berkebutuhan khusus (non ABK) dengan perbandingan 1:6.
Baginya ABK atau Non ABK. "Ke depan saya akan menggiatkan banyaknya sekolah inklusi agar dimanapun para orang tua yang memiliki ABK tidak bingung harus kemana, bagi saya hak semua anak itu sama dalam mengenyam pendidikan jadi jangan dibeda-bedakan," tandasnya.
Dalam forum seminar Mas Ismail sapaan akrabnya menutup dengan kutipan yang tertera pada buku karangannya yaitu jika mengagumi mobil sport Ferrari karena keunikannya, mahal dan berbeda.
"Kenapa tidak dengan karya Tuhan yang disebut Anak Berkebutuhan Khusus yang berbeda dan unik?," pungkasnya.