PBAK UIN Malang. (Foto: Humas)

PBAK UIN Malang. (Foto: Humas)



Membangun Indonesia untuk maju harus didasari atas prinsip keragaman. 

Sebab, keragaman sudah menjadi tradisi bangsa kita dalam ranah keyakinan dan ranah budaya.

Seperti yang kita tahu, masyarakat Indonesia memiliki berbagai macam suku. 

Kemudian, banyak cara pandang yang berbeda dari masyarakat kita dalam memahami suatu keadaan di negeri ini.

Menurut Wakil Ketua Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) 2019, Mohammad Miftahusyai'an, apabila cara pandang ini tidak disatukan dalam satu ruang yang disebut musyawarah dan kesetaraan di antara perbedaan itu, dikhawatirkan akan rawan konflik.

Maka dari itu, PBAK UIN Malang tahun ini memiliki tema yang istimewa. Tema yang diangkat yakni Memperkuat Nasionalisme dan Islam Kebangsaan.

"Untuk itu salah satu salah satu prinsip yang dibangun melalui PBAK ini adalah kesetaraan itu diwujudkan dalam rasa nasionalisme," ujar Miftahusyai'an kepada MalangTIMES, Selasa (13/8/2019).

Bentuk kegiatan dalam PBAK sendiri diawali dengan selebrasi. 

 

Sebanyak 3.678 mahasiswa menyampaikan pesan moral melalui tampilan-tampilan tiga dimensi yang diunggah ke media sosial dengan berbagai macam tagar, seperti #NKRIHargaMati, #IndonesiaLuarBiasa, atau #UinItuJaya, dan lain sebagainya.

Selain selebrasi, terdapat juga sesi-sesi materi yang disampaikan pembicara-pembicara, seperti Wali Kota Malang Sutiaji; Kapolda Jawa Timur tentang anti radikalisme, terorisme, dan hoax; hingga penulis Najih Arromadloni (buku Daulah Islamiyah).

Buku tersebut diilhami dengan persoalan yang ada di Suriah. Mahasiswa baru nanti akan menyaksikan testimoni dari mantan anggota ISIS.

"Itu salah satu tema besar kita yang sebenarnya, ingin mengangkat makna moderatisme. Islam moderat, kemudian Islam egaliter, Islam nusantara untuk menjawab persoalan yang sebenarnya diangkat di buku ini, diilhami dengan kondisi di Suriah," jelasnya.

Miftahusyai'an menyampaikan, UIN tidak ingin ada mahasiswa yang terselip gerakan atau kelompok-kelompok radikal.

"Dan kita ini sudah telanjur ditetapkan sebagai kampus yang bebas dari kelompok-kelompok radikal," tandasnya.


End of content

No more pages to load