Bermain layang-layang menjadi keasyikan tersendiri bagi penggemarnya. Tak heran jika penghobi layang-layang tak pernah surut dari tahun ke tahun bahkan cenderung semakin bertambah.
Selain asyik, menekuki kerajinan layang-layang pun menjadi peluang pekerjaan yang menjanjikan. Seperti yang sedang digeluti oleh Sunarno (45) warga Lingkungan Palulo, Kelurahan Nglegok, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Sejak setahun lalu, pria yang sehari-hari bertani ini telah membuat bermacam-macam jenis layang-layang karakter.
Layang-layang karakter merupakan jenis layang-layang hias. Sunarno mengaku proses pembuatan laying-layang ini cukup sederhana. Yakni dengan bahan kain parasut, dan bahan fiber dan spon untuk layang-layang jenis layangan trend.
“Sejak kecil saya hobi main layangan. Dulu sebelum kenal ini (layang-layang hias) ya mainnya layangan biasa,” ungkap Sunarno ditemui BLITARTIMES dirumahnya, Minggu (30/6/2019).
Dirinya belajar membuat layangan hias secara otodidak di Tulungagung. Saat ini dia tekun membuat layangan 2 dimensi, 3 dimensi dan layang-layang trend.
Untuk bentuknya sendiri Sunarno mengatakan, pertama bentuk dua dimensi yang memiliki rangka datar, dan kedua adalah layang-layang berbentuk tiga dimensi yang memiliki rangka sesuai dengan bentuk kreasi yang ingin ditampilkan.
"Misalnya mau buat bentuk wayang orang, bentuk rangkanya berarti harus seperti orang. Itu buatnya lama, bisa sampai satu bulan. Kalau layang-layang trend salah satunya adalah model naga, rangkanya juga seperti naga,” jelasnya.
Sunarno mengaku rajin mengikuti event setelah kenal layangan hias. Sejak tahun 2018 tercatat dia mengikuti beberapa ajang bergengsi diantaranya di Parangkusumo, Tulungagung, Kediri, Pantai Serang Blitar hingga Malang. Prestasi yang diraih memang baru Juara 2 layang-layang hias di Kediri.
Namun apresiasi terhadap layang-layang buatannya hadir dari banyak kalangan. Yang paling membanggakan layang-layang buatannya berhasil mengudara di festival layang-layang internasional di Kota Paris setelah laying-layang tersebut dibeli oleh warga Ciputat Jawa Barat.
“Ceritanya ketika event di Pantai Gemah Tulungagung ada orang ciputat yang tertarik dengan layangan trend Naga punya saya. Layangan itu lalu dibeli dengan harga Rp 5,5 juta. Waktu itu jujur, saya masih baru di dunia laying-layang hias, saya tidak tahu harga dan tidak bisa memberi harga. Tapi saya bangga laying-layang buatan saya bisa mengudara di Kota Paris, bersaing dengan laying-layang dari seluruh dunia,” katanya.
Konsistensi yang dijalani Sunanrno di dunia laying-layang karakter kian nyata membuahkan hasil. Untuk kreatifitas dia tak henti-hentinya berinovasi. Salah satunya dengan membuat konsep layang-layang Barongan Blitar.
”Harus ada ciri khas, saya sedikit adopsi Barongan Evil untuk membuat ciri khas yang ada pada Barongan Blitar,” paparnya.
Berkat ketekunannya, pesanan laying-layang pun terus berdatangan. Tak hanya dari warga lokal, namun juga dari warga internasional.
Namun sayang, biaya tinggi dan sulitnya bahan baku membuat dirinya belum terlalu bisa berkembang.
Sunarno pun berharap Pemkab Blitar bisa ikut membantu fasilitasi dan pengembangan industri layang-layang hias.
Fasilitasi ini bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk seluruh perajin laying-layang hias.
“Saya sering posting layangan buatan saya ini di Facebook. Yang respon banyak, salah satunya dari warga Brazil. Namun belum saya buatkan karena biaya pengirimannya sangat mahal. Begitupun bahan baku seperti kain parasit, fiber itu belinya lewat online, yang jual orang Jawa Barat. Kami berharap pemerintah daerah bisa ikut membantu fasilitasi agar kerajinan yang kami geluti ini bisa berkembang,” tandasnya.(*)