Siswa Baru Dikeroyok di Blitar: Terekam Kamera, Dinas dan Polisi Bergerak
Reporter
Aunur Rofiq
Editor
Dede Nana
21 - Jul - 2025, 03:56
JATIMTIMES – Dunia pendidikan kembali tercoreng. Bukannya disambut hangat di hari-hari awal sekolah, seorang siswa baru di SMP Negeri 3 Doko, Kabupaten Blitar justru menjadi korban perundungan brutal. Ironisnya, aksi tak beradab itu terjadi saat masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS), yang seharusnya jadi ajang membentuk karakter, bukan ajang kekerasan.
Aksi pengeroyokan itu terekam dalam sebuah video yang dengan cepat menyebar luas di media sosial. Dalam rekaman, terlihat korban hanya berdiri diam, tak melawan sedikit pun, ketika dikeroyok oleh belasan siswa lain di sebuah area lahan dekat kamar mandi sekolah.
Baca Juga : Dukung Program Presiden Prabowo, Wali Kota Blitar Operasikan 21 Koperasi Merah Putih
Video itulah yang akhirnya menjadi pintu masuk bagi aparat penegak hukum untuk menelusuri kejadian yang bikin miris ini. Kepolisian langsung bertindak cepat. Kasatreskrim Polres Blitar, AKP Momon Suwito menegaskan bahwa pihaknya sudah mendatangi lokasi dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Polisi juga telah memeriksa korban, beberapa saksi, dan pihak sekolah.
“Korban sudah divisum. Saat ini enam orang telah diperiksa sebagai saksi, termasuk yang diduga pelaku. Masih akan terus kami kembangkan,” kata AKP Momon kepada wartawan, Senin (21/7/2025).
Diduga kuat, aksi kekerasan itu dilakukan oleh sekitar 14 siswa yang merupakan kakak kelas korban. Mereka membawa siswa baru itu ke tempat sepi usai kegiatan kerja bakti, lalu melakukan pengeroyokan secara bergantian. Tak ada guru atau pengawas yang mengetahui kejadian itu secara langsung.
Kasus ini menjadi perhatian serius, namun pihak kepolisian juga mempertimbangkan status pelajar para pelaku. “Penanganan akan dilakukan secara profesional, tetapi tetap memperhatikan aspek usia dan pendidikan pelaku,” imbuh AKP Momon.
Sementara itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar tak menampik adanya kelalaian. Kepala Dinas Pendidikan, Adi Andaka, mengakui bahwa pengawasan di lingkungan SMP Negeri 3 Doko memang lemah, terutama di area-area yang tak terjangkau mata guru.
“Para pelaku membawa korban ke area belakang kelas, tempat yang sepi dan tidak dalam pantauan guru,” ujar Adi.
Ia juga menjelaskan bahwa pihaknya telah lama mengingatkan sekolah agar memperketat pengawasan selama MPLS. Namun, insiden ini membuktikan bahwa upaya tersebut belum dijalankan secara optimal. “Kami sudah wanti-wanti agar MPLS tidak disalahgunakan. Ini bukti bahwa pengawasan masih lemah,” katanya.
Adi menilai bahwa mencegah aksi perundungan tidak bisa hanya mengandalkan sekolah. Ia menekankan perlunya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengawasan dan pembinaan karakter anak. Ia menegaskan bahwa tindakan kekerasan seperti ini tidak bisa dibenarkan, namun penyikapan terhadap pelaku juga harus mempertimbangkan masa depan mereka.
Baca Juga : Wali Kota Eri Cahyadi Gaungkan Sekolah Ramah Anak dan Anti-Bullying
“Tentu, pelaku harus diberi konsekuensi. Tapi kami juga mempertimbangkan pendekatan pembinaan, bukan hanya pemidanaan. Anak-anak ini masih punya masa depan,” ungkapnya.
Pihaknya kini sedang mengkaji bentuk hukuman atau punishment yang tepat bagi para pelaku. Investigasi lanjutan bersama sekolah, orang tua, dan kepolisian pun tengah berlangsung untuk mencari solusi yang adil dan mendidik.
Video kekerasan yang beredar di media sosial menunjukkan betapa lemah korban saat dikeroyok. Banyak netizen, termasuk pendengar Radio Persada FM dan Radio Patria, turut membagikan video tersebut melalui WhatsApp. Mereka mengecam keras kejadian ini dan mendesak pemerintah bertindak.
Kini publik menanti langkah tegas dari semua pihak, agar kejadian serupa tak terulang. Karena sekolah, seharusnya menjadi tempat aman dan ramah, bukan arena kekerasan.
