Ketika Muharram Jadi Jembatan Kebaikan: Unisma Santuni Ribuan Anak Yatim dan Dhuafa
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Dede Nana
05 - Jul - 2025, 08:05
JATIMTIMES – Sabtu (5/7/2025) sore, Gedung Bundar Al-Asy’ari Universitas Islam Malang (Unisma) tampak berbeda dari biasanya. Bukan seminar, bukan pula sidang akademik yang digelar di sana. Kali ini, 1.500 anak yatim, piatu, dan dhuafa datang bersama para pendamping mereka mengisi bangku-bangku yang ada di Gedung Bundar.
Di tengah suasana yang cenderung hangat dan sederhana, mereka duduk dengan wajah tenang, sebagian menatap penuh rasa penasaran. Bukan sekadar diundang, mereka datang sebagai tamu utama dalam peringatan 10 Muharram yang digelar Unisma.
Baca Juga : Resmi Dilantik, Pengurus PCNU Surabaya Siap Tancap Gas Tata Kelola Organisasi
Alih-alih menjadi acara yang penuh formalitas, momen ini terasa seperti jeda dari rutinitas akademik kampus. Pihak Unisma membagikan santunan, bukan hanya dalam bentuk uang tunai, tetapi juga paket kebutuhan sekolah sebagai bentuk perhatian nyata terhadap mereka yang kerap terabaikan dalam riuhnya pembangunan pendidikan.

Rektor Unisma, Prof. Junaidi Mistar PhD, berbicara tanpa podium tinggi. Ia tak banyak membahas capaian kampus atau program unggulan. Justru, yang ia soroti adalah makna bulan Muharram sebagai pengingat akan sisi kehidupan yang sunyi: kehilangan, keterbatasan, dan tanggung jawab sosial.
Bulan Muharram, menurutnya, bukan sekadar penanda waktu dalam kalender Islam, melainkan ruang kontemplatif yang mengingatkan akan luka, kehilangan, dan empati. Dalam suasana semacam itu, ia meyakini bahwa memberi dan meringankan beban orang lain menjadi cara paling bermakna untuk menghadirkan cahaya di tengah keprihatinan.
"Kalau bulan-bulan lain penuh selebrasi, Muharram itu lain. Ini saatnya kita berhenti sebentar, menengok ke sekeliling, dan mengingat bahwa banyak yang tidak kita miliki, tapi mereka lebih dulu kehilangannya,” ujarnya.
Ia juga menyinggung hal yang mungkin tak lazim disampaikan dalam acara resmi, yakni tentang harapan-harapan kecil yang kerap lahir dari doa-doa anak-anak yang tak lagi punya tempat pulang, selain kasih sayang orang lain.
“Kami percaya, doa anak-anak ini punya suara yang berbeda. Lebih jujur. Lebih dalam. Maka kami mohon mereka mendoakan masa depan kampus ini, agar tetap menjadi tempat yang layak bagi siapa pun yang ingin belajar dan tumbuh,” tambahnya.
Baca Juga : Bupati Ipuk Fiestiandani Instruksikan OPD Tangani Keluarga Korban Kapal Tenggelam
Menariknya, kegiatan semacam ini bukan hal baru di lingkungan kampus tersebut. Meski tidak selalu disorot media, aksi sosial berbasis empati seperti ini menjadi semacam tradisi senyap di Unisma dan dilakukan di luar bulan-bulan suci, tanpa panggung besar, tanpa kamera yang menyorot. Bagi Unisma, pendidikan dan kemanusiaan adalah dua pilar utama yang harus berjalan beriringan.
“Kami ingin anak-anak ini tumbuh menjadi pribadi yang sholeh, sholehah, serta menjadi cahaya harapan dan kebanggaan bagi bangsa di masa mendatang,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Unisma, Prof. Dr. Ir. Agus Sugianto, S.T., M.P. berharap, bahwa santunan yang telah diberikan dapat memberikan manfaat nyata bagi anak-anak yatim maupun kaum dhuafa yang hadir. Ia juga menitipkan doa kepada para penerima santunan agar Unisma terus berkembang dan melesat di kancah global. “Mohon doakan agar kampus ini semakin maju, menjadi universitas yang unggul dan diperhitungkan, tidak hanya di tingkat nasional tapi juga dunia,” ujarnya.
Lebih dari itu, ia menegaskan bahwa Unisma akan terus berkomitmen sebagai kampus kebanggaan Nahdlatul Ulama (NU), tempat lahirnya generasi-generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap membawa perubahan positif bagi umat dan bangsa.
