Wali Kota Malang Dorong Guru Menulis : One Teacher, One Book
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Yunan Helmy
24 - Jun - 2025, 07:51
JATIMTIMES – Para guru di Kota Malang tak lagi hanya mencatat di papan tulis, tapi juga mulai menorehkan kisah dan gagasan dalam buku. Gerakan literasi di kalangan pendidik semakin bergema, seiring peluncuran buku antologi "Takdir Pena dan Kapur" yang ditulis oleh para guru SMP, Selasa (24 Juni 2025) di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, yang hadir langsung dalam acara peluncuran tersebut, memberikan apresiasi tinggi sekaligus dorongan kuat agar para guru tak ragu menulis dan membagikan pemikirannya lewat karya tulis.
Baca Juga : Mbak Wali Groundbreaking Peningkatan Jalan Stasiun-Jalan PJKA, Rehabilitasi Drainase dan Trotoar
“Menulis itu menguangkan pikiran. Lewat tulisan, apa yang kita pikirkan jadi lebih jelas, lebih terdokumentasi, dan bisa dibagikan ke banyak orang,” ujar Wahyu dalam sambutannya.
Program pelatihan menulis yang diikuti para guru sebelumnya bukanlah perjalanan singkat. Sebanyak 40 guru berproses dalam program tersebut, dan 19 di antaranya berhasil menyelesaikan naskah yang layak diterbitkan. Menurut Wahyu, ini merupakan capaian luar biasa yang harus terus ditumbuhkan.

“Ini bukan hanya soal menyelesaikan tulisan, tapi keberanian memulai dan konsistensi menuliskannya. Saya membaca hasil karya mereka, beragam sekali gaya penulisannya, dan semua punya kekuatan sendiri,” katanya.
Buku “Takdir Pena dan Kapur” memuat berbagai kisah inspiratif: mulai dari perjalanan seorang guru mengabdi, dinamika ruang kelas, hingga refleksi mendalam atas tantangan dunia pendidikan hari ini.
Dalam kesempatan yang sama, Wahyu menekankan pentingnya membangun budaya menulis di lingkungan pendidikan. Ia menggaungkan gagasan “One Teacher, One Book” sebagai bentuk nyata dari peran guru sebagai agen perubahan, tidak hanya di ruang kelas tapi juga dalam ranah literasi publik.
“Guru juga punya tanggung jawab intelektual. Kalau dosen saja sudah ditargetkan menulis, maka sudah waktunya guru juga punya target serupa. Menulis bukan pelengkap, tapi bagian dari tugas mencerahkan,” tegasnya.
Ia menambahkan, literasi tidak berhenti pada membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi adalah sarana untuk menyampaikan ide, merekam pengalaman, dan menciptakan perubahan. Lewat tulisan guru, diharapkan muncul lebih banyak sudut pandang segar dalam memotret persoalan pendidikan.
“Setiap tulisan punya pesan. Dan yang paling penting dari tulisan-tulisan guru ini adalah kejujuran dan semangat mereka dalam berbagi,” tambahnya.
Baca Juga : MAN 1 Kota Malang Siapkan Guru Super: Pendidik Tangguh Siap Tempur Hadapi Era AI
Lanjut Wahyu Hidayat, semangat para guru ini adalah energi besar dalam membangun peradaban. Ia percaya bahwa tulisan adalah warisan pemikiran yang akan hidup jauh lebih lama dari sekadar suara di ruang kelas.
“Semakin banyak guru menulis, semakin kaya kita dengan perspektif. Dari pena guru, bisa lahir solusi pendidikan yang selama ini tak terdengar,” tuturnya.
Salah satu penulis dalam buku antologi tersebut, Heni Yulia Wardhani, membagikan kisahnya mengajar di daerah pedalaman Papua. Kini mengajar di SMPN 25 Malang, Heni berharap pengalamannya bisa memberi motivasi, baik bagi sesama guru maupun para siswa.
“Menulis bukan sekadar menyusun kata. Ini tentang cara berpikir, cara menyampaikan isi hati, dan cara berbagi pengalaman. Saya ingin siswa-siswa di Malang juga semangat menulis, bukan hanya membaca,” ujarnya penuh harap.
