Dr H Puguh Pamungkas MM, Presiden Nusantara Gilang Gemilang dan Anggota DPRD Jawa Timur
JATIMTIMES - Hikmah dan pelajaran yang diberikan oleh Nabi Ibrahim dalam mengarungi keteguhan iman merupakan gambaran bahwa esensi dalam menjalani kehidupan ini tidak lain adalah kalibrasi diri atas ujian demi ujian yang Allah berikan.
Baca Juga : 7 Amalan Sunnah di Hari Raya Idul Adha, Beda dari Idul Fitri
Peristiwa Nabi Ibrahim yang harus meninggalkan Bunda Siti Hajar dan anaknya Ismail yang masih bayi di tempat yang tidak ada kehidupan di situ merupakan ujian terberat yang bisa jadi tidak ada orang yang bisa mengemban ujian tersebut selain beliau. Perintah Allah SWT untuk menyembelih Ismail, anak kesayangannya yang telah ditinggal lama, juga merupakan ujian, ujian bagi Nabi Ibrahim, ujian bagi Ismail, ujian bagi Bunda Siti Hajar.
Peristiwa Idul Adha atau yang biasa dikenal dengan Hari Raya Qurban merupakan penggalan peristiwa sejarah yang pernah ada dalam perjalanan kehidupan manusia. Sebuah peristiwa bersejarah dan sebuah pelajaran yang patut kita pelajari dan ambil hikmahnya menjadi sikap perilaku bagi kita dalam menjalani hari-hari kehidupan.
Seorang psikolog berkebangsaan Amerika Serikat, Profesor Angela Duckworth, menerjemahkan dalam sebuah teorinya tentang hal ini yang berjudul “Grit”. Menurut dia, jalan sukses, bahagia dan berhasil bagi seseorang itu bukan ditentukan oleh bakat alami yang diturunkan secara genetis, akan tetapi kekuatan passion dan kekuatan kegigihanlah yang menjadi penentu bagi keberhasilan seseorang.
Kesuksesaan adalah kegigihan dan gairah yang membara untuk meraih tujuan atau cita-cita dalam jangka waktu yang panjang. Oleh karenanya untuk mencapai kesuksesan dibutuhkan stamina seperti orang yang berlari maraton bukan stamina layaknya orang yang berlari sprint.
Grit itu adalah “Guts” yang berarti nyali atau keberanian, “Resiliency” yang berarti sikap mental kembali bangkit ketika gagal atau jatuh, “Intensity” yang berarti kekuatan yang menyala secara terus menerus dan fokus pada tujuan, “Tenacity” yang berarti kegigihan terus menerus apa pun yang terjadi sampai berhasil.
Keempat sikap mental inilah kira-kira wujud dari visualisasi hikmah dari Hari Raya Qurban, hari raya yang bukan hanya menjadi ritualisme menyembelih hewan kurban, namun menjadi pelajaran bagi kita semua tentang hakikat dan makna mendalam yang tersirat dalam peristiwa tersebut.
Perjalanan ketangguhan iman yang dilakoni oleh Nabi Ibrahim AS sejak beliau diperintahkan untuk meninggalkan istrinya tercinta dan putranya Ismail tersayang di tengah padang pasir yang tidak ada kehidupan di sana merupakan iman dan kesabaran yang diberikan Allah SWT.
Tidak hanya itu. Perintah Allah SWT untuk menyembelih Ismail, putra kesayangannya yang telah lama ditinggalkan, yang menjadi satu-satunya harapan, juga merupakan kalibrasi iman dan kesabaran yang diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim, Istrinya dan Ismail sendiri.
Baca Juga : Panduan Salat Idul Adha: Niat, Takbir, hingga Khutbah
Seolah dari peristiwa ini Allah SWT ingin memberikan pelajaran dan pesan, bahwa kita semua yang terlahir sebagai mahkluk ciptaan Allah memiliki fungsi dan peran fundamental untuk menjalankan semua apa yang diperintahkan-Nya, namun yang juga harus difahami bahwa kasih sayang dan karunia Allah itu begitu luas, seluas langit dan bumi, bagi manusia yang terus memiliki kesabaran, keberanian, ketabahan, dan semangat serta optimisme.
Hari raya qurban yang juga digunakan untuk menggenapi dan memungkasi perjalanan ibadah Haji ini juga syarat akan makna. Ibadah haji adalah ibadah akumulasi dari ketangguhan iman seseorang, karena bukan hanya kesiapan iman dan islam, namun kesiapan mental dan finansial yang juga dipertaruhkan. Tahapan demi tahapan dalam rukun ataupun sunnah ibadah haji adalah rangkaian perjalanan yang penuh makna, yang sekaligus menjadi kalibrasi akan keberanian, resiliency, intensity dan tenacity.
Idul Adha dan Ibadah Haji mengajarkan kepada kita tentang perjuangan, pengorbanan, keteguhan, kesetiaan dan kesabaran. Sebagaimana yang Allah SWT Firmankan dalam Al-Quran surat Baqarah Ayat 155 ; “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar”.
Ibadah Haji mengajarkan bahwa memiliki mentalitas baja, karakater kuat, kinerja hebat dan kompetensi terbaik merupakan syarat bagi sebuah tujuan dan cita-cita. Sekaligus isyarat bahwa kita jangan menjadi generasi yang lemah. Idul Adha mengajarkan bahwa tidak ada yang perlu dibuat sedih, karena begitu luas dan bermakna setiap takdir yang diberikan oleh Allah SWT.
Bahwa ujian itu pasti ada dan menyertai dalam perjalanan hidup ini sebagai bahan uji seberapa sabar dan tangguh diri ini agar memiliki kelayakan untuk menaiki tangga baru dan level baru dalam pencapaian dan kesuksesan.
Bahwa kesuksesan dan keberhasilan seseorang bukan ditentukan dari mana dan berasal dari siapa kita dilahirkan, akan tetapi perpaduan istimewa antara hasrat (passion) dan kegigihan (perseverance) atau yang disebut dengan grit (ketabahan) adalah yang menentukan seseorang akan sampai pada level keberhasilan dan kesuksesan yang dia harapkan.
