Dosen PGSD Unikama Kuak Dampak Buruk Bullying Verbal dan Cara Menghadapinya
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
18 - May - 2025, 06:18
JATIMTIMES - Kasus bullying verbal di sekolah dasar semakin menjadi perhatian serius di Kota Malang, khususnya di kalangan siswa. Sebagai bentuk perundungan yang sering kali tidak terlihat fisik, bullying verbal seperti ejekan atau hinaan dapat berdampak jangka panjang pada psikologis anak, bahkan mengurangi rasa percaya diri mereka.
Melihat hal ini, Dr. Yulianti, S.Pd.I, M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (UNIKAMA), bersama mahasiswa PGSD, menggelar sebuah seminar edukatif bertajuk "Mengupas Bullying Verbal dan Dampaknya pada Self-Confidence Anak dalam Pembelajaran" di SD Negeri 2 Pagedangan, Kabupaten Malang belum lama ini.
Baca Juga : Perspektif Islam: Ketika Jin Jatuh Cinta kepada Manusia
Seminar ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang bagaimana menangani perundungan verbal yang marak terjadi di kalangan siswa sekolah dasar, serta memberikan solusi praktis untuk mencegah dampaknya.
Menghadapi fenomena bullying verbal yang semakin mengkhawatirkan, Dr. Yulianti menekankan pentingnya memperkuat kepercayaan diri siswa sebagai langkah preventif yang efektif. pembentukan kepercayaan diri anak perlu dilakukan secara terus-menerus baik oleh guru, orang tua, maupun teman-teman sebaya mereka.

“Anak-anak yang sering diejek atau dihina akan merasa tidak dihargai, yang kemudian berimbas pada penurunan kepercayaan diri mereka. Ini adalah masalah serius yang harus segera diatasi,” ungkapnya.
Bentuk-bentuk perundungan verbal, yang biasanya berupa ejekan atau julukan negatif, memiliki dampak psikologis yang dalam. Banyak orang tua yang mulai menyadari perubahan sikap anak mereka yang menjadi lebih murung dan enggan pergi ke sekolah.
Untuk mengatasi masalah ini, Dr. Yulianti mengungkapkan bahwa pencegahan bullying verbal bukan hanya tanggung jawab sekolah semata. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan karakter dan literasi emosional anak.
"Pendidikan karakter yang mengedepankan nilai-nilai moderasi dan empati sangat penting dalam mengurangi kekerasan verbal. Siswa harus diajarkan untuk menghargai perbedaan, berkomunikasi dengan cara yang positif, serta belajar untuk memahami perasaan orang lain," tegas Dr. Yulianti.
Menurutnya, banyak korban bullying yang merasa enggan melapor karena takut dianggap lemah atau tidak mampu menghadapi masalah tersebut. Padahal, ketakutan tersebut sering kali membuat prestasi belajar anak menurun.
Baca Juga : Diumumkan 22 Mei, Ini Arti 11 Kode Huruf di Pengumuman PPPK 2024 Tahap 2
“Sekolah harus menjadi benteng yang melindungi siswa dari kekerasan verbal, bukan medan perang. Guru sebagai teladan, orang tua sebagai pendukung, dan siswa harus terus menerus ditumbuhkan literasinya tentang pentingnya kebersamaan dan saling menghargai,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret untuk menciptakan perubahan, Dr. Yulianti menyarankan agar sekolah dan orang tua dapat berkolaborasi dalam menciptakan lingkungan inklusif yang memberikan rasa aman bagi anak. Setiap anak berhak untuk merasa diterima dan terlindungi dalam proses pembelajaran, tanpa merasa takut dihina atau diejek.
“Penting bagi kita untuk menciptakan ruang yang inklusif, di mana setiap anak merasa diterima tanpa ada yang merasa diasingkan atau direndahkan,” jelasnya.
Solusi-solusi yang disampaikan oleh Dr. Yulianti dalam seminar ini memberikan angin segar bagi orang tua, guru, dan masyarakat yang selama ini berusaha mengatasi fenomena bullying verbal yang mengancam perkembangan psikologis anak-anak.
Dengan adanya upaya pencegahan dan edukasi ini, diharapkan dapat tercipta lingkungan belajar yang lebih sehat dan mendukung pembentukan karakter anak, serta mengurangi angka perundungan di sekolah dasar.
