Innalillahi, Ulama Kharismatik Malang KH M. Baidowi Muslich Wafat
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Yunan Helmy
30 - Apr - 2025, 12:49
JATIMTIMES - Kabar duka menyelimuti dunia pesantren dan umat Islam di Malang. Ulama kharismatik yang juga pengasuh dua pondok pesantren ternama, Romo KH M. Baidowi Muslich, wafat pada Rabu (30/4/2025).
Kabar meninggalnya Romo Kiai Baidowi diumumkan melalui akun Instagram resmi @anwarulhudatv. "Romo KH M. Baidowi Muslich, pengasuh Ponpes Anwarul Huda (Desan) dan Pengasuh Ponpes Miftahul Huda (Gading) meninggal dunia," tulis unggahan tersebut pada pukul 12.15 WIB.
KH M. Baidowi Muslich dikenal sebagai tokoh ulama yang tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga aktif mengabdikan diri di berbagai bidang keumatan. Kiai Baidowi kini masih menjabat sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Malang dan ketua Majelis Mustasyar Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Malang.
Selama hidupnya, Kiai Baidowi kerap menyampaikan pesan-pesan hikmah penuh makna. Salah satu pesan yang kerap disampaikan adalah tentang pentingnya ilmu dan amal dalam Islam.
"Di dalam Islam tidak ada yang lebih mahal dibandingkan dua hal, yaitu ilmu dan amal. Selain keduanya, sama sekali tidak ada harganya," ujar Kiai Baidowi dalam salah satu ceramahnya, dikutip laman resmi Anwarul Huda, Rabu (30/4/2025).
Lebih lanjut, Kiai Baidowi menekankan pentingnya mencatat hikmah yang didengar agar tidak hilang. Ia bahkan mengutip syair terkenal dari Imam Syafi’i:
العِلْمُ صَيْدٌ وَ الْكِتَابَةُ قَيْدُهُ
قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَةِ
"Ilmu bagaikan hewan buruan, dan tulisan adalah tali pengikatnya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat," begitu petikan syair tersebut yang sering disampaikan Kiai Baidowi sebagai motivasi untuk mencatat ilmu agar tidak hilang.
Riwayat Hidup
Kiai Baidowi lahir di Parijatah Kulon, Srowo, Banyuwangi pada 17 Juli 1944. Ia merupakan putra kelima dari tujuh bersaudara dari pasangan KH Muslich Hanafy dan Hj Walijah Thoyib.
Pendidikan Kiai Baidowi dimulai dari jenjang SR, PGAP, PGAA, SARMUD (1966), hingga mencapai tingkat doktoral di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang pada tahun 1968. Selain pendidikan formal, Kiai Baidowi juga menempuh pendidikan nonformal di lingkungan madrasah diniyah dan pondok pesantren sejak 1958 hingga 1985.
Dedikasi Kiai Baidowi dalam dunia pendidikan juga terbilang luar biasa. Ia pernah menjadi guru agama PNS di SDN selama 5 tahun (1967–1972), kemudian di SMEAN selama 13 tahun (1972–1985), dan mengabdi di Kementerian Agama Kota Malang selama 15 tahun (1985–2000).
Kiprahnya di organisasi keumatan juga sangat luas, antara lain:
• Ketua NU Cabang Kota Malang (5 tahun)
• Ketua Thoriqah Mu’tabarah Idarah Syu’ubiyah Kota Malang (10 tahun)
• Ketua DMI Kota Malang (2016–2021)
• Ketua Umum MUI Kota Malang (2016–2021)
• Ketua Umum Majelis Tanfidh-Takmir Masjid Agung Jami’ Kota Malang (2016–2021)
• Ketua Majelis Tahkim Takmir Masjid Agung Jami’ Malang (7 tahun)
Kiai Baidowi dikenal luas sebagai pengasuh dua pesantren di Malang, yaitu:
• Pondok Pesantren Miftahul Huda – Gading sejak 1965
• Pondok Pesantren Anwarul Huda – Karang Besuki sejak 1997
Kedua pesantren ini telah melahirkan ribuan santri dan menjadi salah satu pusat pendidikan agama yang aktif di Kota Malang.
Selain itu, Kiai Baidowi aktif sebagai pembina berbagai lembaga keislaman, antara lain:
• Yayasan Wisma Sejahtera Darus Sa’adah (sejak 2006)
• Tabloid Media Ummat (sejak 2007)
• Buletin Al-Huda (sejak 2005)
• Buletin Al-Anwar (sejak 2015).
