3 Kasus Dokter Diduga Lakukan Pelecehan Seksual, Terbaru di RS Swasta Malang
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
A Yahya
17 - Apr - 2025, 01:01
JATIMTIMES - Dunia medis kembali tercoreng. Dalam beberapa waktu terakhir, publik digegerkan oleh sederet dugaan kasus pelecehan seksual yang melibatkan tenaga kesehatan. Tiga kasus mencuat sekaligus, mulai dari dokter residen di Bandung, dokter kandungan di Garut, hingga yang paling anyar dokter umum di rumah sakit swasta di Malang. Berikut rangkumannya.
1. Dokter Residen di RSHS Diduga Perkosa Pendamping Pasien, Polisi Turun Tangan
Kasus mencengangkan pertama datang dari Bandung. Seorang dokter residen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) diduga memperkosa seorang perempuan yang sedang menunggui ayahnya di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS).
Peristiwa itu disebut-sebut terjadi di lantai 7 Gedung MCHC RSHS yang kala itu masih belum digunakan. Dugaan pemerkosaan ini mencuat setelah akun Instagram @ppdsgramm mengunggah kronologi kasus pada Rabu (9/4/2025).
Dalam unggahan tersebut, disebutkan bahwa pelaku menawarkan bantuan untuk proses crossmatch darah, kemudian membawa korban ke lantai 7.
Di sana, korban diperlakukan layaknya pasien, diberi infus dan disuntik dengan zat yang diduga midazolam, obat penenang kuat. Korban kehilangan kesadaran.
“Trus dimasukin midazolam. Trus terjadi,” tulis akun tersebut.
Korban diduga baru sadar sekitar pukul 4 hingga 5 pagi dalam kondisi lemas dan mengalami nyeri, termasuk di bagian kemaluan. Ia pun meminta visum ke dokter kandungan, yang hasilnya menunjukkan adanya bekas sperma.
“Ketahuan lah ada bekas sperma,” lanjut unggahan tersebut.
Dugaan makin kuat setelah ditemukan cairan sperma tercecer di lantai. Area tempat kejadian langsung dipasang garis polisi.
Menanggapi kejadian ini, Dekan FK Unpad Prof. Dr. Yudi Mulyana Hidayat menegaskan pihaknya mendukung penuh proses hukum. “Unpad dan RSHS berkomitmen untuk mengawal kasus ini dengan tegas, adil, dan transparan,” ujar Yudi.
2. Dokter Kandungan di Garut Diduga Raba Dada Pasien Saat USG
Tak lama berselang, kasus serupa mencuat dari Garut. Seorang dokter kandungan bernama dr. Muhammad Syafril Firdaus jadi sorotan setelah diduga melecehkan pasien saat pemeriksaan USG.
Kasus ini viral setelah seorang dokter gigi, drg. Mirza Mangku Anom, membagikan unggahan di Instagram @drg.mirza. Dalam unggahan story-nya, ia menampilkan cuplikan CCTV yang memperlihatkan tangan dokter Syafril menyentuh area sensitif pasien saat pemeriksaan berlangsung.
“Tolonglah, bekerja secara profesional dan bermartabat! Ini semua bukti aku punya lengkap,” tulis drg. Mirza.
Ia juga mengaku menerima banyak testimoni serupa dari warganet, salah satunya adalah korban yang pernah diperiksa tahun 2023. Korban mengaku diraba dan diajak berbicara tak senonoh saat datang ke klinik tanpa didampingi suami.
“Payudara saya dimainin, saya juga ditahan pakai tangan,” tulis korban yang pesannya diunggah ulang oleh drg. Mirza
Selain itu, dr. Syafril disebut sering menghubungi pasien secara pribadi lewat WhatsApp, menawarkan layanan USG 4D gratis, asalkan pasien datang sendirian.
3. Mantan Pasien RS Swasta Malang Ungkap Dugaan Pelecehan oleh Dokter Umum
Kejadian serupa juga diungkap oleh seorang perempuan bernama Qorry Aulia Rachmah. Ia membagikan pengalaman tak mengenakkan saat dirawat di sebuah rumah sakit swasta di Kota Malang pada akhir September 2022.
Lewat akun Instagram @qorryauliarachmah, Qorry menceritakan kronologi dugaan pelecehan yang dilakukan oleh dokter umum berinisial YA. Awalnya, Qorry menjalani pemeriksaan karena sinusitis dan vertigo. Dokter YA meminta nomor WhatsApp untuk mengirim hasil rontgen. Namun, setelahnya dokter terus mengirim pesan pribadi, bahkan saat Qorry tak membalas.
Kejadian tak mengenakkan terjadi saat dokter YA mendatangi kamar rawat inap Qorry dengan alasan menjenguk. Padahal saat itu Qorry sudah mendapat izin pulang dari dokter penanggung jawab.
Tanpa diduga, dokter YA memeriksa Qorry menggunakan stetoskop sambil membuka baju pasien yang dikenakan Qorry. Pemeriksaan itu berlangsung lama dan membuat Qorry tidak nyaman. Puncaknya, dokter YA mengeluarkan ponsel dan mengarahkan kamera ke arah tubuhnya.
“Aku yakin dia bukan balas WA, tapi ambil foto atau video,” tulis Qorry.
Merasa tak nyaman, Qorry meminta dokter keluar. Meski sempat ingin mengadu ke perawat, niatnya urung karena mendapat jawaban normatif soal reputasi dokter tersebut. “Dokter Y setahu saya sih baik,” kata suster seperti ditirukan Qorry.
Munculnya kasus-kasus ini memicu kemarahan publik. Banyak yang mendesak Kementerian Kesehatan dan organisasi profesi seperti IDI untuk segera bertindak dan memberikan sanksi tegas.
“Jangan sampai publik kehilangan kepercayaan kepada profesi dokter,” tulis drg. Mirza.
Di media sosial, berbagai reaksi bermunculan. Salah satu pengguna X menulis, “Belum selesai kasus residen anestesi di Bandung, sekarang muncul dokter kandungan di Garut dan dokter umum di Malang. Gila sih ini,” tulis akun @Gigin******.
