Kapok Jual MinyaKita, Gegara Masyarakat Kecewa Kualitas dan Harganya

12 - Mar - 2025, 09:46

MinyaKita kemasan refil dengan MinyaKita produksi yang berbeda. (Foto: Irsya Richa/ JatimTIMES)


JATIMTIMES - Banyak ditemukan takaran MinyaKita tidak kurang dari 1 liter di pasaran. Ternyata, kualitasnya juga jauh serta harganya tidak sesuai harga ecer tertinggi (HET) sudah jadi keluhan di masyarakat.

Hal tersebut diungkapkan salah seorang pedagang Pasar Klojen, Agung yang dalam kurun dua bulan terakhir tidak lagi menjual MinyaKita. Alasannya, banyak pembeli yang kecewa dengan kualitas.

Baca Juga : Polres Malang Bongkar Sindikat Pemerasan Modus LSM dan Wartawan Palsu, Ancam Korban Setor Rp 500 Juta

“Pembeli banyak yang mengeluh karena kualitasnya jelek, karena sepi peminat jadi saya gak jual lagi,” tambah Agung, Rabu (12/3/2025).

Kualitas yang buruk ini, seperti saat menggoreng, minyak goreng cepat berubah menjadi hitam. Padahal penggunaannya baru dilakukan satu hingga dua kali.

“Iya ya karena cepat berubah menghitam padahal baru sekali-dua kali menggorengnya, ini juga orang jadi ogah beli meskipun harganya lebih murah sedikit timbang yang lain,” imbuh Agung.

Kemudian keluhan lainnya adalah harga yang tidak sesuai HET. Padahal jelas pada kemasan MinyaKita terdapat label tulisan berwarna hitam HET Rp 15.700 per liter.

Meski demikian ada juga yang masih menjual MinyaKita dalam kemasan refil namun tidak menjual yang botol. “Kalau yang MinyaKita pada umumnya seperti yang dibotol kami sudah tidak jual lagi. Ada MinyaKita tapi produksi yang berbeda,” terang salah seorang pedagang Pasar Klojen, Sri Wahyuni.

MinyaKita dalam kemasan refil dijual dengan harga Rp 18 ribu meski HET yang tertera Rp 15.700 per liter. Daya beli masyarakat pun tidak banyak yang melirik minyak tersebut, alasannya pun harganya terpaut tipis dengan minyak premium.

Baca Juga : Penukaran Uang Baru, BI Malang Siapkan Rp 4,1 Triliun

Karena hal tersebut masyarakat merasa dibohongi. Sehingga masyarakat tidak lagi mengonsumsi MinyaKita. Bahkan sebagian masyarakat lebih memilih minyak goreng premium, lantaran hanya terpaut Rp 2 ribu.

Sepeti yang diungkapkan Widyawati warga Kelurahan Blimbing, Kecamatan Blimbing. Widya mengaku tak lagi menggunakan MinyaKita. Alasannya kualitas minyak dan harga yang tak sesuai.

“Harganya MinyaKita dan minyak goreng premium ini selisihnya sedikit. Jadi lebih baik pakai yang premium juga tidak mudah menghitam," ujar Widya.


Topik

Ekonomi, Minyak Goreng, MinyaKita, Kualitas MinyaKita,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette