Harga BBM September 2026 Naik atau Turun? Ini Bocorannya
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Yunan Helmy
28 - Aug - 2026, 12:39
JATIMTIMES - Harga bahan bakar minyak (BBM) kembali menjadi perhatian menjelang September 2026. Masyarakat mulai menantikan apakah harga BBM, khususnya jenis nonsubsidi seperti Pertamax, akan mengalami perubahan mulai 1 September mendatang.
Hingga Jumat (28/8/2026), pemerintah belum mengumumkan harga BBM yang akan berlaku pada September 2026. Harga BBM nonsubsidi sendiri dapat mengalami perubahan mengikuti perkembangan harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, serta harga acuan yang menjadi dasar perhitungan badan usaha.
Baca Juga : Muktamar Ke-35 NU Tak Melulu soal Pemilihan Ketum, Ini Isu Penting yang Dibahas
Sebelumnya, pemerintah telah memberikan kepastian terkait BBM subsidi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan harga BBM subsidi tidak akan dinaikkan.
“Yang penting adalah BBM subsidi itu tidak akan naik. Itu yang paling penting. Karena total pemakaian BBM 80% itu subsidi. Kalau yang 80% itu tetap menjadi bagian yang ditanggung jawab oleh pemerintah, yaitu subsidi,” ungkap Bahlil pada Senin lalu (3/8/2026), dilansir Bloomberg Technoz.
Dengan demikian, Pertalite dan Solar dipastikan tetap menjadi BBM yang mendapat perlindungan harga dari pemerintah. Adapun harga BBM nonsubsidi berada pada mekanisme yang berbeda.
Bahlil menjelaskan harga BBM nonsubsidi mengikuti perkembangan harga minyak mentah dunia dan Indonesian Crude Price (ICP).
Perubahan harga tersebut dapat terjadi secara dinamis sesuai kondisi pasar. Jika harga minyak turun, harga BBM nonsubsidi berpeluang ikut turun. Sebaliknya, kenaikan harga minyak dapat memberikan tekanan terhadap harga BBM nonsubsidi.
"Menyangkut BBM nonsubsidi, harganya memang mengikuti harga pasar dunia. Jika harga minyak dunia turun, harga BBM nonsubsidi secara otomatis terkoreksi turun. Begitu pula sebaliknya jika naik," katanya.
Menurut Bahlil, harga minyak dunia saat ini menunjukkan tren penurunan. Kondisi tersebut membuat sejumlah badan usaha swasta mulai melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi.
Namun, arah harga BBM pada bulan berikutnya masih bergantung pada perkembangan pasar minyak dunia dan situasi geopolitik global.
“Ya tergantung, ya tergantung kondisi geopolitik dunia. Tapi yang penting ginilho. Yang penting adalah BBM subsidi itu tidak akan naik. Itu yang paling penting,” ungkapnya.
Jauh sebelum memasuki September, Bahlil juga telah menyampaikan bahwa pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM subsidi sepanjang 2026.
Bahlil bahkan menyebut harga BBM subsidi bisa dipertahankan tanpa kenaikan hingga seterusnya.
“Sekali lagi saya katakan bahwa kami sudah bersepakat atas arahan Bapak Presiden bahwa harga BBM untuk subsidi tidak akan dinaikkan sampai dengan akhir tahun,insyaAllah sampai selama-lamanya ya,” kata Bahlil.
Baca Juga : Mulai September 2026, Aturan Bagasi Garuda Indonesia Berubah: Ini Cara Menghitungnya
Saat itu, Bahlil menjelaskan rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau ICP sepanjang Januari hingga April 2026 berada di kisaran US$77 per barel.
Angka tersebut sekitar US$7 lebih tinggi dibanding asumsi ICP dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar US$70 per barel.
Meski terdapat selisih, Bahlil menyebut kondisi tersebut belum membuat pemerintah perlu menaikkan harga BBM subsidi.
“Harga rata-rata ICP Januari sampai dengan sekarang itu tidak lebih dari US$77 [per barel]. Jadi kita itu baru split US$7 [per barel], jadi jangan sampai ada yang menganggap bahwa uang kita dapat dari mana? Kita ini baru naik US$7 [per barel] sampai dengan sekarang yang saya ngomong ini,” ujar dia.
Kepastian serupa disampaikan Menteri Keuangan Purbaya. Pemerintah telah menghitung berbagai skenario harga minyak dunia, termasuk jika rata-ratanya mencapai US$100 per barel sepanjang 2026.
“Kami siap tidak menaikkan harga BBM subsidi sampai akhir tahun dengan asumsi rata-rata harga minyak dunia US$100/barel sudah dihitung. Kalau nonsubsidi bukan hitungan kami. (BBM) subsidi aman enggak usah takut, kami sudah hitung,” tegas Purbaya dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI pada Senin lalu (6/4/2026).
Kementerian Keuangan, kata Purbaya, telah melakukan simulasi terhadap sejumlah skenario harga minyak dunia, mulai dari US$80, US$90 hingga US$100 per barel.
Perhitungan tersebut juga mencakup langkah mitigasi terhadap dampak perubahan harga minyak dunia terhadap APBN.
“Jadi langkah yang disebutkan oleh Presiden (Prabowo) dan anggota kabinet Merah Putih di pengumuman sebelumnya itu sudah diperhitungkan asumsi harga minyak dunia rata-rata US$100 sepanjang 2026. Dan exercise tertentu anggaran bisa ditekan (defisit) masih di 2,92% terhadap PDB,” jelas Purbaya.
Dengan kondisi tersebut, harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar dipastikan tidak naik hingga akhir 2026. Sementara untuk BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax, harga September 2026 masih menunggu penetapan resmi dan akan bergantung pada perkembangan harga minyak dunia serta faktor pasar lainnya.
