Waspada! Modus Scam Ngaku Polisi Bikin Tabungan Rp 188 Juta Ludes dalam 3 Jam

Reporter

Binti Nikmatur

17 - Aug - 2026, 08:02

Ilustrasi scam atau penipuan. (Foto: Shutterstock)


JATIMTIMES - Modus penipuan dengan mengaku sebagai aparat kembali memakan korban. Seorang perempuan mengaku kehilangan uang hingga Rp 188 juta setelah terjebak dalam skenario penipuan yang melibatkan nama polisi, kejaksaan hingga PPATK.

Ironisnya, korban sebenarnya mengaku cukup paham dengan berbagai modus scam. Dia bahkan tidak pernah menggunakan pinjaman online (pinjol) maupun paylater.

Baca Juga : Apa Itu Kartu Kredit Indonesia yang Baru Diresmikan BI? Begini Cara Pakainya

Namun, hanya dalam waktu kurang dari tiga jam, tabungannya ludes. Korban juga justru terlilit utang pinjol setelah mengikuti arahan pelaku.
Pengalaman tersebut dibagikan korban melalui akun Threads @hanasary. Dia mengaku sengaja menceritakan kejadian itu agar masyarakat lebih waspada.

"GUE KENA SCAM Rp188 JUTA. DAN YANG PALING GILA: GUE TAHU MODUS SCAM. Gue bahkan nggak pernah pakai paylater atau pinjol.
Tapi dalam waktu kurang dari 3 jam, tabungan gue habis dan gue malah punya utang pinjol," tulisnya.

Kisah tersebut bermula pada 6 Agustus 2026 sekitar pukul 20.21 WIB. Saat itu, korban mendapat telepon dari seseorang yang mengaku sebagai admin JNE.

Pelaku mengatakan ada paket berupa kemeja atas nama seseorang bernama Rasyid yang akan dikirim ke alamat lama korban. Merasa tidak pernah memesan paket tersebut, korban langsung meminta paket dikembalikan.

"Gue nggak pesan paket. Balikin aja."tulisnya. 

Korban mengira persoalan selesai. Namun, ternyata telepon tersebut merupakan bagian awal dari skenario penipuan. Keesokan harinya, 7 Agustus sekitar pukul 11.31 WIB, korban kembali mendapat telepon dari nomor asing. Saat itu dia sedang meeting proyek di Cibubur bersama bos dan rekan kerja.

Karena bekerja sebagai sales dan terbiasa menerima telepon dari nomor yang belum dikenal, korban mengangkat panggilan tersebut.
Kali ini, penelepon mengaku sebagai polisi.

Pelaku mengatakan paket yang sebelumnya ditolak korban ternyata berisi narkoba. Nama korban disebut ikut terseret dalam penyelidikan.

"Katanya paket Rasyid yang kemarin gue tolak ternyata berisi NARKOBA. Dan nama gue masuk dalam penyelidikan." jelasnya. 

Pelaku kemudian mengajak korban melakukan video call. Sejumlah pertanyaan diajukan, termasuk apakah korban mengenal Rasyid.
Korban menjawab tidak. 

Namun, pelaku kemudian menyebut ada rekening atau kartu BSI atas nama korban yang digunakan untuk transaksi narkoba.

Tidak berhenti di situ. Pelaku mengklaim rekening tersebut dibuka oleh pelaku kejahatan dan melibatkan oknum bank. Informasi tersebut membuat korban mulai panik.

"Mereka bahkan menjelaskan detail seolah-olah punya data lengkap. Katanya rekening itu dibuka oleh pelaku dan melibatkan oknum bank." jelasnya.

Setelah berhasil membuat korban takut, pelaku mengatakan, "Kasus ini harus langsung dilakukan penyelidikan." 

Korban kemudian diarahkan masuk ke pertemuan melalui Zoom. Di dalam Zoom tersebut, terdapat orang yang mengaku berasal dari kejaksaan dan PPATK. Mereka menunjukkan berbagai dokumen dan surat serta menggunakan istilah-istilah hukum. 

Korban bahkan diminta membaca dokumen yang disebut sebagai dokumen penyelidikan aset. Semuanya dibuat seolah-olah merupakan proses hukum resmi.

Setelah korban percaya, pelaku kemudian mengatakan seluruh aset miliknya untuk sementara harus diamankan.

"Untuk sementara seluruh aset harus diamankan agar tidak ikut terseret dalam kasus." jelasnya. 

Korban lantas diminta mentransfer uang ke rekening atas nama Tioroy Saragih, yang oleh pelaku disebut sebagai pejabat PPATK. Korban pun mengikuti instruksi tersebut.

"Dan gue lakukan. Semua tabungan gue transfer. Bukan karena gue mau. Tapi karena gue percaya gue sedang menjalani proses hukum." tulisnya. 

Belum selesai sampai di situ. Pelaku kemudian mengatakan perlu dilakukan pengecekan apakah identitas korban juga pernah digunakan untuk mengajukan pinjaman online.

Korban diminta mengunduh aplikasi pinjol dan menarik limit maksimal. Dalihnya, dana tersebut diperlukan untuk proses pemeriksaan. Korban yang sebelumnya tidak pernah menggunakan pinjol pun mengikuti instruksi tersebut.

"Dan gue lakukan. Orang yang nggak pernah pakai pinjol, akhirnya malah punya utang." ujarnya. 

Seluruh proses melalui Zoom berlangsung hampir tiga jam. Selama itu, korban terus mengikuti instruksi orang-orang yang berada dalam pertemuan tersebut.

Yang membuat korban semakin terpukul, dia sebenarnya merasa cukup paham mengenai modus penipuan. "GUE BIASANYA PEKA SAMA SCAM. Gue tahu banyak modus penipuan. Gue merasa cukup aware." jelasnya. 

Namun, dalam kondisi tersebut, korban mengaku tidak bisa berpikir jernih. "Tapi saat itu otak gue seperti nggak bekerja normal. Mereka bikin gue takut → panik → percaya → nurut." katanya. 

Baca Juga : Api Bromo Terkendali Usai Hampir 2 Pekan Dilanda Kebakaran, Kini Proses Pendinginan 

Dia kemudian menyadari modus tersebut merupakan bentuk social engineering, yakni manipulasi korban melalui tekanan psikologis agar mengikuti instruksi pelaku. "Sekarang gue baru sadar: Itulah social engineering." tulisnya. 

Penipuan tersebut akhirnya terbongkar setelah suami korban datang. Sebelumnya, rekan kerja korban ternyata sudah menghubungi suaminya karena mengetahui korban sedang mengikuti Zoom dan tidak bisa diganggu.

Suami korban kemudian mengambil ponselnya. Namun, korban saat itu masih percaya orang-orang yang berada di Zoom merupakan aparat sungguhan.

Bahkan, dia sempat berdebat dengan suaminya karena belum menyadari dirinya sedang menjadi korban penipuan. Begitu akhirnya sadar, korban mengaku langsung pingsan. 

"Setelah itu gue cuma nangis." katanya. 

Seluruh tabungan yang dikumpulkan selama ini telah habis. Dia juga harus menghadapi utang pinjol yang muncul akibat mengikuti perintah pelaku.

"Gue tahu mungkin akan ada yang bilang: 'Bodoh banget.' Dan jujur… Gue juga bilang hal yang sama ke diri gue sendiri." ucapnya. 

Namun, korban meminta masyarakat tidak melihat kasus tersebut semata-mata sebagai persoalan korban kurang pintar atau kurang waspada. "SCAM ITU BUKAN CUMA SOAL ORANG BODOH ATAU PINTAR." jelasnya. 

Menurutnya, pelaku tidak datang dan langsung meminta uang. Mereka terlebih dahulu membangun cerita hingga korban percaya.

"Mereka membangun cerita. Mereka menggunakan nama institusi. Mereka menciptakan rasa takut. Mereka kasih tekanan.
Mereka membuat kita tidak punya waktu untuk berpikir. Dan akhirnya… kita sendiri yang melakukan transfer." tulisnya. 

Setelah menyadari menjadi korban, suami dan rekan kerja korban langsung melakukan sejumlah langkah. Pihaknya menghubungi bank-bank terkait untuk melaporkan transaksi dan mengupayakan pemblokiran dana.

Pada malam harinya, korban bersama suami juga mendatangi Polda Metro Jaya untuk membuat pengaduan. Laporan turut disampaikan melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) OJK.

"Sekarang kami sedang berusaha mengejar aliran dana yang sudah keluar. Karena semakin cepat dilaporkan, semakin besar harapan dana yang masih tersisa bisa diamankan." jelasnya. 

Dari penelusuran awal, dana disebut sempat mengalir ke sejumlah bank, di antaranya MNC Bank, KB Bank, BCA, BNI dan Ina Bank. Aliran dana juga disebut berujung ke Indodax.

Korban berharap laporan tersebut bisa segera ditindaklanjuti sesuai prosedur agar dana yang masih dapat diselamatkan bisa diamankan.

"Bukan minta data nasabah. Bukan minta jalur khusus di luar prosedur. Gue cuma ingin memastikan laporan ini bisa ditangani secepat mungkin dan dana yang masih bisa diselamatkan dapat diblokir sesuai prosedur." jelasnya. 

Korban kemudian membagikan sejumlah kalimat yang patut dicurigai jika masyarakat menerima telepon serupa.

Di antaranya:
• "Saya dari polisi."
• "Ada rekening Anda terkait narkoba."
• "Aset Anda harus diamankan."
• "Transfer dulu untuk penyelidikan."
• "Jangan cerita ke siapa-siapa."
• "Jangan tutup telepon."
Korban meminta masyarakat tidak mengikuti instruksi tersebut.

"JANGAN IKUTI. Tutup telepon. Cari nomor resmi institusinya sendiri. Hubungi bank melalui channel resmi. Dan ceritakan ke orang terdekat. Jangan menghadapi telepon seperti ini sendirian." tulisnya. 

Dia mengatakan cerita tersebut dibagikan bukan untuk mencari simpati, melainkan agar pengalaman pahit yang dialaminya bisa menjadi peringatan bagi orang lain.

"Gue upload cerita ini bukan karena gue mau dikasihani. Gue upload karena gue berharap nggak ada orang lain yang mengalami kejadian yang sama." ungkapnya. 

Menurutnya, membagikan pengalaman tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, dia berharap informasi itu bisa membuat seseorang memilih menutup telepon ketika mendapat modus serupa.

"Satu repost kalian mungkin terlihat kecil. Tapi kalau sampai ada satu orang yang besok menerima telepon seperti yang gue terima dan akhirnya memilih menutup telepon, berarti pengalaman paling buruk dalam hidup gue hari ini bisa menyelamatkan orang lain," tutup pemilik akun. 


Topik

Hukum dan Kriminalitas, modus penipuan, scam, penipuan mengaku polisi,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette