Mahasiswa FPIK Universitas Brawijaya Gencarkan Gerakan Gemar Makan Ikan dan Budidaya Mandiri di Desa Sumberpetung Kalipare

Reporter

Redaksi

Editor

Redaksi

13 - Aug - 2026, 03:09



JATIMTIMES - Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB) menggelar rangkaian program pengabdian masyarakat bertajuk Bakti Akademisi Terhadap Negeri di Desa Sumberpetung Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang. Program yang digagas oleh Kelompok 25 PKM Bahari FPIK UB ini berada di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapang Muhammad Dailami, dan menyasar tiga sasaran sekaligus: siswa sekolah dasar, ibu rumah tangga anggota PKK, hingga masyarakat umum, dengan satu misi besar yaitu meningkatkan konsumsi dan literasi budidaya ikan di tingkat rumah tangga.

Rangkaian kegiatan ini digagas sebagai respons atas dua persoalan yang saling berkaitan yaitu rendahnya angka konsumsi ikan di sejumlah wilayah pedesaan serta perlunya alternatif ketahanan pangan keluarga di tengah keterbatasan lahan dan air. Tiga program unggulan yang dijalankan meliputi GEMARI (Gemar Makan Ikan), BUDIKDAMBER (Budidaya Ikan dalam Ember) berbasis sistem RAS, dan BUDIKDALON (Budidaya Ikan dalam Galon). Ketiganya turut sejalan dengan sejumlah target dalam Sustainable Development Goals (SDGs), untuk mewujudkan kesejahteraan manusia dan kelestarian bumi hingga tahun 2030.

Baca Juga : Heboh Festival Balon Wonosobo Malah Diisi Program Prabowo: Rusak Kena Politik? 

 

Menanamkan Gemar Makan Ikan Sejak Bangku SD

Program pertama, GEMARI, digelar pada Jumat, 24 Juli 2026, di SDN 2 dan SDN 4 Sumberpetung. Sasaran kegiatan ini adalah siswa kelas 1 hingga kelas 6, dengan tujuan menanamkan kebiasaan mengonsumsi ikan sejak usia dini sebagai bagian dari upaya menekan angka stunting dan mendukung kehidupan sehat generasi muda. Upaya ini sejalan dengan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), yang bertujuan menjamin kehidupan yang sehat serta meningkatkan kesejahteraan penduduk di segala usia melalui perbaikan gizi dan pencegahan penyakit.

Dalam kegiatan tersebut, tim mahasiswa menjelaskan manfaat ikan bagi tumbuh kembang anak, mulai dari kandungan protein, omega-3, hingga vitamin yang mendukung perkembangan otak dan daya tahan tubuh. Materi dikemas secara sederhana dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari agar mudah dicerna anak-anak. Pendekatan edukatif ini juga mencerminkan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), yang menekankan pentingnya akses pendidikan yang inklusif, merata, dan bermutu bagi semua kalangan, termasuk siswa di wilayah pedesaan. Selain itu, siswa juga dikenalkan pada berbagai jenis olahan ikan seperti nugget, bakso ikan, dan pepes, serta komoditas perikanan lokal seperti lele, nila, dan bandeng.

“Anak-anak harus tahu kalau ikan itu enak dan banyak macamnya, tidak hanya digoreng saja,” ujar salah satu anggota tim mahasiswa PKM-B FPIK UB.

Untuk menjaga antusiasme, sosialisasi diselingi dengan permainan interaktif berupa kuis benar-salah dan lomba tebak gambar ikan, dengan hadiah makanan ringan bagi peserta yang menjawab benar. Respons siswa dinilai sangat positif, dan tim berharap kebiasaan gemar makan ikan yang ditanamkan dari sekolah dapat berdampak pada peningkatan konsumsi ikan sekaligus kualitas kesehatan generasi muda di Desa Sumberpetung dalam jangka panjang.

Ibu-ibu PKK Diperkenalkan Teknologi RAS Lewat BUDIKDAMBER

Tiga hari sebelumnya, tepatnya Selasa, 21 Juli 2026, tim yang sama menggelar workshop BUDIKDAMBER (Budidaya Ikan dalam Ember) berbasis sistem Recirculating Aquaculture System (RAS) di Balai Dusun Banduarjo. Kegiatan ini menyasar ibu-ibu PKK setempat sebagai upaya mendorong ketahanan pangan keluarga berbasis pekarangan rumah, sekaligus membuka peluang usaha mikro dari rumah. Program ini menyentuh SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), yang mendorong terciptanya kesempatan kerja produktif serta pertumbuhan ekonomi inklusif, termasuk melalui usaha skala kecil dan rumahan.

RAS merupakan teknologi budidaya yang memungkinkan air digunakan secara berulang melalui proses filtrasi berkelanjutan. “Dengan RAS, kita bisa hemat air dan lahan. Kualitas air juga lebih terkontrol, risiko penyakit dari luar bisa diminimalisir, dan kita lebih mudah memantau kondisi ikan,” jelas salah satu mahasiswa dalam penyampaian materi.

Meski demikian, tim juga transparan menyampaikan kekurangan sistem ini, di antaranya biaya awal yang relatif tinggi karena membutuhkan pompa dan aerator listrik, serta perawatan filtrasi yang harus dilakukan secara teliti. Sebagai contoh praktik, digunakan ikan nila (Oreochromis niloticus) yang dipilih karena cocok dengan sistem aliran air terus-menerus sehingga kadar oksigen terlarut tetap tinggi.

Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang workshop, dengan berbagai pertanyaan seputar cara merakit ember, jenis filter, hingga pakan dan perawatan harian. “Kami senang bisa dapat ilmu baru. BUDIKDAMBER RAS ini cocok untuk pekarangan rumah yang lahannya terbatas,” ungkap salah satu anggota PKK.

BUDIKDALON, Solusi Budidaya dari Galon Bekas

Sehari setelahnya, Rabu, 22 Juli 2026, tim mahasiswa melanjutkan kegiatan di Balai Desa Sumberpetung dengan memperkenalkan metode BUDIKDALON (Budidaya Ikan dalam Galon) kepada ibu-ibu PKK. Metode ini dipilih karena dinilai lebih sederhana, murah, dan cocok untuk skala rumahan serta konsumsi pribadi. Pendekatan yang terjangkau dan inklusif ini turut mendukung SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), yang berfokus pada pengentasan kemiskinan melalui peningkatan akses masyarakat terhadap sumber daya, keterampilan, dan peluang ekonomi dasar.

BUDIKDALON memanfaatkan galon bekas sebagai media budidaya, dengan sejumlah kelebihan yang dipaparkan tim, yakni hemat lahan karena hanya membutuhkan sudut rumah atau teras, ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah galon, serta mudah dipraktikkan oleh siapa saja tanpa memerlukan keahlian khusus.

Baca Juga : PKKMB di Mata Pakar Komunikasi UB: Jangan Ajarkan Kepatuhan, Bangun Nalar Kritis

 

Di sisi lain, tim juga menjelaskan keterbatasan metode ini, terutama kapasitas galon yang kecil sehingga jumlah ikan yang dapat dibudidayakan terbatas. Kualitas air menjadi perhatian khusus, dengan anjuran penggantian air setiap 5–7 hari untuk menjaga kadar amonia tetap rendah dan mencegah ikan sakit. Dalam praktiknya, tim menggunakan benih lele dan nila berukuran kecil yang mudah beradaptasi dengan volume air terbatas.

Sama seperti kegiatan sebelumnya, antusiasme peserta terlihat tinggi, dengan berbagai pertanyaan mengenai jenis pakan, cara membuat filter sederhana, hingga teknik panen.

Peran Pendampingan Akademik dan Kolaborasi Lintas Pihak

Sepanjang rangkaian kegiatan, mahasiswa Kelompok 25 PKM Bahari FPIK UB tidak berjalan sendiri. Dosen Pembimbing Lapang, Muhammad Dailami, turut memberikan arahan dan pendampingan sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan program di lapangan, guna memastikan setiap materi yang disampaikan sesuai dengan kaidah keilmuan perikanan sekaligus mudah diterima oleh masyarakat sasaran.

“Program-program ini dirancang agar tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga aplikatif dan berkelanjutan. Harapannya, ilmu yang dibawa mahasiswa dapat benar-benar diterapkan masyarakat, baik untuk peningkatan gizi keluarga maupun sebagai peluang usaha mikro,” ujar Muhammad Dailami selaku Dosen Pembimbing Lapang Kelompok 25 PKM Bahari FPIK UB.

Kolaborasi yang terjalin antara mahasiswa, dosen pembimbing, pihak sekolah, ibu-ibu PKK, dan perangkat desa dalam rangkaian kegiatan ini juga merupakan cerminan dari SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), yang menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor (akademisi, pemerintah, dan masyarakat) dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

Harapan Jangka Panjang

Melalui tiga program yang saling melengkapi ini, mahasiswa FPIK UB berharap dapat membangun ekosistem konsumsi dan produksi ikan yang berkelanjutan di tingkat rumah tangga, mulai dari menumbuhkan minat anak-anak terhadap ikan lewat GEMARI, hingga membekali ibu-ibu PKK dengan keterampilan budidaya mandiri lewat BUDIKDAMBER dan BUDIKDALON.

“Jika anak-anak sudah gemar makan ikan dan keluarga mampu membudidayakan sendiri, maka ketahanan pangan sekaligus kualitas gizi masyarakat Kalipare bisa meningkat secara bersamaan. Yang tidak kalah penting, keterampilan budidaya ini juga membuka jalan bagi keluarga untuk memiliki penghasilan tambahan dari rumah” demikian disampaikan oleh tim Kelompok 25 PKM Bahari FPIK UB.


Topik

Ruang Mahasiswa, Ruang Mahasiswa, Universitas Brawijaya, Mahasiswa UB, Gemar Ikan,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette